OJK Bidik Penguatan Ekonomi Daerah lewat Ekspor UMKM dan Sektor Pangan
Highlight:
- OJK memperkuat sinergi lintas kementerian untuk mendorong ekspor UMKM, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
- Pemerintah memperluas program “UMKM Bisa Ekspor” dan “Desa Bisa Ekspor” agar produk lokal menembus pasar internasional.
- Kredit UMKM nasional telah mencapai Rp1.500 triliun pada 2025, sementara cadangan beras nasional tembus 5,3 juta ton.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga untuk mendorong pengembangan ekonomi daerah melalui penguatan ekspor, ketahanan pangan, dan perluasan akses pembiayaan UMKM.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Dicky, sektor jasa keuangan memiliki peran strategis dalam memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, petani, pelaku ekspor daerah, hingga masyarakat perdesaan agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.
“Sinergi lintas kementerian dan lembaga menjadi sangat penting agar akses pembiayaan, literasi keuangan, dan penguatan sektor produktif dapat berjalan beriringan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Dicky.
OJK juga terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan untuk mendorong masyarakat dan pelaku UMKM lebih memahami akses pembiayaan formal sekaligus terhindar dari praktik keuangan ilegal.
Dorong Ekspor UMKM dan Produk Lokal
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah fokus memperkuat daya saing produk nasional dan memperluas pasar ekspor di tengah tantangan perdagangan global.
“Kita ingin pasar kita yang besar ini diisi oleh produk lokal. Caranya adalah kita harus mempunyai daya saing,” ujar Budi.
Kementerian Perdagangan juga menjalankan program “UMKM Bisa Ekspor” dan “Desa Bisa Ekspor” guna mendorong pelaku usaha kecil dan desa masuk ke pasar internasional.
“Yang ekspor kita itu tidak hanya dari kota saja, tapi juga dari desa. Tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga perusahaan kecil,” katanya.
Ketahanan Pangan dan Kredit UMKM Diperkuat
Sementara itu, Ad Interim Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pemerintah fokus menjaga ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi pertanian dan optimalisasi lahan.
Menurut Sudaryono, Indonesia saat ini memiliki cadangan beras nasional mencapai 5,3 juta ton dan tidak lagi mengimpor beras konsumsi umum sepanjang 2025.
“Kita tidak lagi impor beras konsumsi yang mayoritas yaitu beras medium,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan pemerintah tengah membangun sistem layanan terintegrasi “Sapa UMKM” untuk mempermudah akses pembiayaan, legalitas usaha, pelatihan, hingga akses pasar bagi pelaku UMKM.
“Kita harus mulai bisa memberikan pelayanan satu pintu kepada mereka,” kata Maman.
Ia menambahkan, penyaluran kredit UMKM nasional telah mencapai sekitar Rp1.500 triliun pada 2025. Namun, distribusi pembiayaan masih perlu diperkuat agar lebih tepat sasaran dan mendukung sektor produktif daerah.
Lewat sinergi lintas kementerian dan lembaga itu, OJK optimistis pengembangan ekonomi daerah dapat semakin kuat melalui penguatan ekspor, ketahanan pangan, dan pemberdayaan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. (*) Ranu Arasyki Lubis

