Ketoprak Financial Sultan Agung Satukan Sejarah, Humor, dan Nasionalisme dalam Satu Panggung
Highlight:
- Ketoprak Financial “Sultan Agung” memadukan kisah heroik perjuangan melawan VOC dengan humor modern bertema industri keuangan, dari QRIS hingga AI.
- Puluhan petinggi industri keuangan, perbankan, BUMN, BPK RI, akademisi, dan jurnalis tampil di atas panggung membawa pesan persatuan dan nasionalisme.
- Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan kepada Yayasan Anak Asuh Kita untuk mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu.

Jakarta– Tak banyak yang menyangka kisah heroik Sultan Agung Hanyakrakusuma melawan VOC Belanda bisa memancing gelak tawa.
Namun, itulah yang terjadi dalam pagelaran Ketoprak Financial “Sultan Agung”, yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Kamis (30/7/2026) malam.
Nilai historis dikemas dengan humor segar tanpa menghilangkan pesan kuat tentang persatuan dan nasionalisme.
Selama hampir dua jam, para penonton diajak menikmati pertunjukan yang memadukan nilai sejarah dengan isu-isu kekinian.
Di atas panggung, para petinggi industri keuangan, perbankan, BUMN, anggota BPK RI, akademisi, hingga jurnalis senior membuktikan bahwa dunia finansial tidak hanya identik dengan angka dan laporan keuangan, tetapi juga mampu menghadirkan hiburan yang sarat makna.
Di bawah arahan sutradara Aries Mukadi, lakon ini mengangkat perjuangan Sultan Agung dalam menyatukan Pulau Jawa sekaligus memimpin perlawanan Kerajaan Mataram Islam terhadap VOC Belanda di Batavia pada abad ke-17.
Agar terasa dekat dengan penonton, cerita sejarah diperkaya dengan dialog-dialog jenaka yang menyelipkan istilah modern, mulai dari QRIS, barcode, investasi bodong, hingga kecerdasan buatan (AI).
Perpaduan tersebut membuat suasana panggung hidup sekaligus menghubungkan masa lalu dengan realitas saat ini.
“Kalau zaman Sultan Agung sudah ada QRIS, mungkin logistik perang tinggal scan barcode. Tapi satu hal yang tetap tidak bisa di-scan adalah semangat persatuan,” celetuk salah satu lakon yang langsung disambut tepuk tangan dan tawa penonton.
Humor lain muncul ketika para prajurit berbincang mengenai cara menyimpan uang.
“Uang jangan disimpan di balik tembok kerajaan. Ditabung saja. Yang penting jangan investasi bodong karena sudah diawasi oleh OJK,” ujar salah satu pemain.
Tak berhenti di situ, istilah-istilah yang akrab di industri keuangan juga digunakan untuk menggambarkan strategi perang.
“Perang itu bukan cuma soal keberanian, tapi juga logistik. Kalau logistik kuat, perang jalan. Mirip perusahaan, kalau cash flow sehat, direksi juga tidur lebih nyenyak” kata salah satu pemain.
Sementara teknologi digital ikut menjadi bahan candaan.
“Anak-anak kerajaan sekarang kalau ditanya apa saja jawabnya, ‘Saya cek ChatGPT dulu, Kangmas,” lanjutnya.
Di balik balutan komedi tersebut, pertunjukan tetap membawa pesan utama tentang pentingnya persatuan bangsa di tengah berbagai perbedaan.
Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak Financial, Eko B. Supriyanto, mengatakan pemilihan lakon “Sultan Agung” bukan sekadar mengangkat kembali kisah sejarah, tetapi juga mengajak masyarakat meneladani semangat perjuangan tokoh tersebut.
“Kita mengangkat lakon ini untuk mengenang dan meneladani semangat persatuan dan kemerdekaan yang digelorakan oleh Sultan Agung saat melawan VOC Belanda yang memecah-belah Mataram,” ujar Eko di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurutnya, semangat persatuan tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat saat ini yang diwarnai beragam pandangan.
“Semangat perjuangan melawan penindasan selalu aktual karena masih ada ketidakadilan yang harus diperjuangkan dan masih ada anak bangsa yang terpecah akibat perbedaan pendapat,” katanya.
Panggung Ketoprak Financial malam itu turut diramaikan sederet tokoh industri keuangan, di antaranya Suwandi Wiratno, Fathan Subchi, Aviliani, Alexandra Askandar, Rita Mirasari, Haryanto T. Budiman, Seno Soemadji, Antonius Widodo, Juanita Luthan, Alfa Niasari, Lisawati, Rudiantara, Evi Afiatin, Dumasi MM Samosir, Rokidi, Kusumaningtuti, Nicolaus Prawiro, Jemmy Atmadja, Tribuana Tunggadewi, Benny Purnomo, Maria Y. Benyamin, hingga Karnoto Mohamad.
Pagelaran yang diproduksi Indonesia Media Network tersebut juga menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan serta komedian Yanti Lemu sebagai bintang tamu.
Pelestarian Budaya Dibingkai dengan Misi SosialKetoprak Financial tidak hanya menjadi ruang untuk merawat seni tradisional, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat.
Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan kepada Yayasan Anak Asuh Kita untuk mendukung pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke Yayasan Anak Asuh Kita,” ungkap Eko.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para eksekutif industri keuangan, perbankan, BUMN, BPK, asosiasi, akademisi, hingga jurnalis senior yang bersedia meluangkan waktu tampil di atas panggung.
“Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia,” imbuhnya.
Pertunjukan ditutup dengan seluruh pemain berdiri bersama meneriakkan kata “Merdeka!” yang disambut tepuk tangan panjang dari para penonton.
Lakon “Sultan Agung” sendiri mengangkat sejarah perjuangan Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma melawan VOC Belanda di Batavia.
Meski ekspedisi penyerangan pada 1628 dan 1629 belum berhasil mengusir VOC, Sultan Agung dikenang sebagai pemimpin besar yang berhasil menyatukan hampir seluruh Pulau Jawa, mewariskan Kalender Jawa Islam yang memadukan Kalender Hijriah dan Saka, serta meletakkan fondasi pemerintahan dan budaya Jawa-Islam. (*) MI

