Tencent Cloud Dorong Transformasi AI Perbankan dari “Super Individual” Menuju “Super Team”

Highlights:

  • Transformasi AI di sektor jasa keuangan telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya AI hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu individu, kini teknologi tersebut berkembang menjadi rekan kerja digital yang mampu berkolaborasi dengan manusia dan membangun kecerdasan kolektif.
  • Perjalanan AI selama tiga tahun terakhir berkembang melalui tiga fase. Pertama adalah AI sebagai tool atau alat bantu percakapan. Kedua adalah AI yang mampu menjalankan alur kerja (workflow) secara otomatis. Ketiga, AI yang bekerja berdampingan dengan manusia dalam satu ruang kolaborasi.
  • Banyak organisasi telah memiliki individu-individu berkinerja tinggi, tetapi belum mampu membentuk tim yang benar-benar efektif karena tak adanya ruang kolaborasi bersama, konteks pekerjaan yang sering hilang ketika berpindah orang, serta proses serah terima pekerjaan (handover) yang memakan waktu.

AP HEADER

Nusa Dua – Transformasi kecerdasan buatan (AI) di sektor jasa keuangan telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya AI hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu individu, kini teknologi tersebut berkembang menjadi rekan kerja digital yang mampu berkolaborasi dengan manusia dan membangun kecerdasan kolektif organisasi.

Sebagaimana disampaikan Director of AI Solution Architecture Tencent Cloud, Shimin Zhang, dalam sesi International Best Practices pada Prima Executive Gathering 2026 di Hotel The Mulia, Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Agustus 2026.

Menurut Zhang, perjalanan AI selama tiga tahun terakhir berkembang melalui tiga fase. Fase pertama adalah AI sebagai tool atau alat bantu percakapan. Fase kedua adalah AI yang mampu menjalankan alur kerja (workflow) secara otomatis.

Sementara fase ketiga, yang kini mulai diterapkan banyak perusahaan, adalah AI yang bekerja berdampingan dengan manusia dalam satu ruang kolaborasi untuk menyelesaikan pekerjaan bersama.

“Individu sudah merasakan manfaat AI, tetapi organisasi sering kali belum. Tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana mengubah produktivitas individu menjadi produktivitas organisasi,” ujar Zhang.

Ia menilai tahun 2026 menjadi titik penting perkembangan AI. Selain biaya model bahasa besar (large language model/LLM) yang menurutnya telah turun lebih dari 80%, kemampuan agen AI juga semakin matang sehingga dapat dipercaya menjalankan pekerjaan di lingkungan perusahaan.

Lebih lanjut, Zhang memperkenalkan tiga kapabilitas utama yang menurut Tencent Cloud menjadi fondasi penerapan AI di industri keuangan, yakni Expert, Assistant, dan Team.

Kapabilitas pertama adalah Expert, yakni agen AI yang mengintegrasikan keahlian spesifik suatu bidang, metode kerja, serta basis pengetahuan sehingga dapat digunakan siapa saja di dalam organisasi. Dengan pendekatan tersebut, keahlian profesional tidak lagi hanya dimiliki individu tertentu, melainkan dapat didistribusikan kepada seluruh pegawai melalui AI.

Kapabilitas kedua adalah Assistant, yakni asisten AI yang selalu aktif di cloud dan tidak lagi bergantung pada perangkat tertentu.

Berbeda dengan chatbot konvensional, asisten AI ini memiliki memori yang terus berkembang, mampu mengerjakan tugas jangka panjang, serta dapat diaktifkan secara individu maupun sebagai tim yang terdiri dari berbagai agen dengan spesialisasi berbeda.

Sebagai contoh, sebelum rapat dengan nasabah, pengguna cukup mengaktifkan tim asisten AI. Selanjutnya, berbagai agen akan bekerja secara paralel menyusun materi presentasi, mengolah data, hingga menyiapkan dokumen sehingga hasil akhirnya siap digunakan.

Kapabilitas ketiga yang menjadi fokus Tencent Cloud adalah Team.

Zhang menilai banyak organisasi telah memiliki individu-individu berkinerja tinggi, tetapi belum mampu membentuk tim yang benar-benar efektif karena tidak adanya ruang kolaborasi bersama, konteks pekerjaan yang sering hilang ketika berpindah orang, serta proses serah terima pekerjaan (handover) yang memakan waktu.

Karena itu, Tencent Cloud membangun konsep shared organizational context, yakni memori organisasi yang terus berkembang setiap kali pekerjaan diselesaikan.

Konsep tersebut terdiri atas tiga lapisan, yakni team layer untuk kolaborasi manusia dan AI, project layer yang menyimpan dokumen, konektor, dan knowledge base, serta task layer yang memungkinkan pertukaran konteks antarmanusia maupun antaragen AI berlangsung secara efisien.

“Setiap siklus pekerjaan akan menambah memori organisasi sehingga tugas berikutnya bisa diselesaikan lebih cepat dan lebih cerdas,” jelas Zhang.

Fondasi AI Harus Dimulai dari Data

Di samping itu, Zhang menjelaskan bahwa penerapan Financial AI Enterprise Agent dimulai dari unified data, yaitu menghubungkan sumber data tepercaya, menstandarkan kualitas data, serta menerapkan kontrol akses dan privasi.

Tencent Cloud juga menekankan prinsip governance by design, yaitu keamanan, kontrol akses, transparansi hasil AI, identifikasi data, serta pemantauan berkelanjutan tetap berjalan pada setiap tahapan pemrosesan AI.

Sebagai contoh implementasi, Zhang memaparkan pengalaman salah satu bank di China yang menggunakan agen AI untuk menyusun laporan analisis.

Sebelumnya, penyusunan laporan membutuhkan sekitar lima hari karena pegawai harus mengumpulkan berbagai sumber data secara manual. Setelah memanfaatkan AI, pengguna cukup memasukkan parameter yang dibutuhkan, sementara sistem secara otomatis menyusun laporan lengkap hanya dalam waktu sekitar empat jam.

“AI kini mampu menghasilkan sekitar 75% kode program pada beberapa proyek, sementara produktivitas pengembang meningkat signifikan,” pungkas Zhang. SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.