Ketika Angka Berbicara Lebih Keras dari Pidato Presiden
PASAR tidak pernah berbohong. Ia hanya berbisik pelan lewat angka, lalu berteriak ketika kepercayaan mulai retak.
Pagi ini, 26 Mei 2026, IHSG sempat membuka dengan senyuman tipis di 6.273. Sayang, senyum itu tak bertahan lama.
Hanya beberapa jam kemudian, indeks menyerah dan meluncur ke 6.142 saat bel sesi pertama berbunyi.

Penurunan ini bukan insiden sesaat. Sejak Mei, IHSG sudah jatuh 34,8% year-to-date ke level 5.978, dengan aliran modal asing keluar mencapai Rp41,63 triliun.
Rupiah pun ikut menari di atas bara. Pagi tadi sempat menyentuh 17.793 per dolar AS, nyaris menyentuh 18.000. Kurs BI 25 Mei mencatat 17.805,58 untuk jual.
Bank Indonesia memang sudah mengangkat suku bunga 50 bps ke 5,25% pada 19-20 Mei, tapi pasar tampak menganggapnya seperti perban pada luka yang butuh jahitan.
Di sinilah masalah kepercayaan muncul. Investor asing tidak butuh jargon “optimisme” atau “pondasi kuat”.
Mereka butuh bukti bahwa kebijakan berjalan di atas kalkulasi, bukan di atas harapan.
Sayangnya, sinyal merah ini seperti sengaja diabaikan.
Dua program prioritas Prabowo—Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih—terus digeber dan dibangga-banggakan meski kebocoran pelaksanaan sudah terlihat sejak hari pertama.
Sementara itu, rencana pendirian Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menambah daftar teka-teki.
Alasan pendirian DSI disebut untuk memberantas under invoicing dan transfer pricing.
Tapi bukankah kedua praktik itu hanya bisa hidup kalau pengawasan Direktorat Pajak longgar?
Jika rumah kemasukan tikus karena pintu tak rapat tertutup, apakah solusi yang masuk akal adalah membeli basoka untuk memburunya? Hancur rumahnya, tikusnya mungkin tetap lari.
“Markets are recognising that the Singapore equity market is a structural net beneficiary of geopolitical uncertainty”.
Ketika Singapura dipandang aman, Indonesia justru dianggap berisiko.
Data Bloomberg mencatat investor global menarik lebih dari 4 miliar dolar AS dari ekuitas ASEAN tahun ini, dan Indonesia menyumbang lebih dari separuhnya.
Cadangan devisa juga susut hampir 10 miliar dolar AS ke 146,2 miliar dolar AS.
Ironisnya, semua ini terjadi di bawah kepemimpinan anak begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo.
Pertanyaannya wajar: benarkah buah jatuh selalu dekat pohonnya? Ternyata tidak.
Setelah kontroversi “orang desa tak pakai dolar”, publik berhak bertanya apakah arah kebijakan ekonomi masih berpijak pada nalar makro, atau sudah tergelincir ke eksperimen populis.
Seperti kata John Maynard Keynes, “In the long run we are all dead.” Tapi dalam jangka pendek pun, pasar bisa membuat kita mati kutu kalau kepercayaan hilang.
Masih ada ruang untuk berbalik. Jika Prabowo mampu meyakinkan dunia bahwa Indonesia serius menata fiskal, memperbaiki pengawasan pajak, dan berhenti menambah variabel baru di tengah kebingungan, IHSG dan rupiah masih bisa diangkat kembali.
Tapi selama sinyal merah ditanggapi dengan program merah-merahan, pasar akan terus menjawab dengan warna merah yang sama: turun.
Ini bukan pesimisme. Ini pengingat bahwa ekonomi bukan teater politik.
Angka tidak bertepuk tangan karena retorika. Angka hanya bergerak ketika kepercayaan kembali. (Darto Wiryosukarto)

