Ajur! Dasco, Rosan, dan Donny Datang, Sampai Pulang IHSG Tetap Jeblok!

Highlights:

  • Bursa saham Indonesia sedang babak belur. IHSG parkir di zona 6.350–6.400, ambruk 29% dari rekor tertinggi 9.134 pada 20 Januari 2026.
  • Kedatangan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Kepala BP BUMN Donny Oskaria–tak mampu menghapus warna merah bursa.
  • Pelemahan terjadi di hampir semua sektor, tapi sektor mineral dan batubara kena hajar paling parah.

AP HEADER

    Jakarta – Bursa saham Indonesia sedang babak belur. IHSG parkir di zona 6.350–6.400, ambruk 29% dari rekor tertinggi 9.134 pada 20 Januari 2026. Secara year-to-date, indeks sudah rontok 24%, menjadikannya salah satu yang terburuk di dunia tahun ini.

    Kedatangan orang-orang top–Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Kepala BP BUMN Donny Oskaria–tak mampu menghapus warna merah bursa menjadi hijau cendol.

    Saat mereka datang pukul 11.10 WIB, yang disambut Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi dan Direktur BEI Gede Nyoman Yetna, IHSG sudah anjlok -2,02%. Sampai mereka pulang IHSG tambah jeblok menjadi -3,46% sampai penutupan perdagangan hari ini.

    Pelemahan terjadi di hampir semua sektor, tapi sektor mineral dan batubara kena hajar paling parah. Sementara di pasar valas, rupiah masih terkapar di Rp17.600 – 17.655/USD. Sejak April, mata uang Garuda sudah beberapa kali cetak rekor terendah sepanjang sejarah.

    Badai kencang datang dari luar. Yield obligasi AS tenor 10 tahun menembus 4,60–4,63%, melewati ambang psikologis 4,5%. Efeknya langsung: modal kabur dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

    Pertemuan Trump–Xi di Beijing 14–15 Mei lalu juga nihil hasil. Trump menegaskan isu tarif tidak dibahas. Tarif AS atas barang Tiongkok tetap di 47,5%. Artinya, risiko perang dagang masih mengintai.

    Yang lebih bikin pusing, peluang pemangkasan suku bunga The Fed di 2026 kini nol. Pasar justru mematok probabilitas 40% untuk kenaikan 25 bps sebelum akhir tahun. Bagi negara berkembang, ini seperti ditimpa batu di tengah badai.

    Dari dalam negeri, sentimennya tak kalah berat.

    Pertama, MSCI Rebalancing 29 Mei nanti akan mencoret 6 saham Indonesia dari indeks Global Standard—AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT—dan 13 saham dari Small Cap Index, termasuk ANTM, TAPG, DSNG, AALI, BSDE. Estimasi outflow pasif mencapai 1–2 miliar USD. Setiap 1 miliar USD yang keluar bisa melemahkan rupiah 1–1,5%.

    Kedua, kebijakan komoditas masih galau. Rencana kenaikan royalti dan bea ekspor untuk batubara, nikel, CPO, tembaga, dan emas ditunda Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan alasan butuh formulasi lebih berimbang.

    Tapi, penundaan ini justru bikin pasar bingung. Ditambah rumor pembentukan badan regulasi baru untuk ekspor-impor komoditas, ketidakpastian makin jadi-jadi. Sektor tambang dan perkebunan yang sudah sensitif terhadap regulasi, kini makin dijauhi investor.

    Tiga tanggal jadi penentu arah pasar ke depan:

    Satu, 20 Mei: Rapat BI. Pasar menanti keputusan suku bunga dan sinyal intervensi untuk menahan rupiah.

    Dua, 29 Mei: Implementasi MSCI. Ini puncak tekanan jual dari dana pasif.

    Tiga, 17 Juni: FOMC The Fed. Hasilnya akan menentukan arah yield AS dan aliran modal dari emerging market.

    Menurut Syailendra Research, IHSG baru bisa pulih kalau tiga hal beres:

    Satu, kejelasan regulasi komoditas. Investor butuh kepastian soal royalti, bea ekspor, dan wacana badan pengatur baru.

    Dua, stabilisasi rupiah. Butuh sinyal tegas dari BI, meredanya outflow MSCI pasca-29 Mei, dan normalisasi aliran dividen.

    Tiga, kondusivitas global. Yield UST harus turun atau stabil di bawah 4,5%, dan ketegangan geopolitik mereda.

    “Selama tiga variabel ini masih menggantung, volatilitas akan tetap tinggi. Untuk sekarang, Syailendra memilih strategi selektif dan defensif, sambil memantau perkembangan harian,” tulis Syailendra dalam paparannya, Selasa (19/5).

    Intinya, dalam analisis Syailendra, pasar RI sedang dihajar dari dua arah. Dari luar, The Fed dan Trump menekan. Dari dalam, MSCI dan kebijakan komoditas yang tak menentu ikut memperparah. Tanpa kejelasan cepat, IHSG berisiko makin terperosok jadi “kelas buncit” dunia. DW

    You might also like
    Komentar Pembaca

    Your email address will not be published.