Simbiosis Semu Politik Kekuasaan Sulit Langgeng
Oleh Yazid Bindar, Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung.
DALAM kehidupan politik, koalisi dan persekutuan merupakan hal yang lazim terjadi. Tidak ada kekuatan politik yang dapat berdiri sepenuhnya sendiri dalam sistem yang kompleks.
Untuk memenangkan pemilihan, membentuk pemerintahan, mengendalikan parlemen, atau menjalankan kebijakan publik, para aktor politik sering kali membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Namun, tidak semua kerja sama politik lahir dari kesamaan nilai, visi, dan tujuan kebangsaan. Sebagian hanya dibangun atas dasar kebutuhan sesaat untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan.
Kerja sama yang lahir dari kepentingan jangka pendek inilah yang dapat disebut sebagai simbiosis semu politik kekuasaan. Ia tampak kokoh dari luar, tetapi rapuh di dalam. Ia terlihat seperti persatuan, tetapi sesungguhnya hanya kumpulan kepentingan yang sedang berjalan beriringan untuk sementara waktu.
Selama kepentingan masing-masing pihak masih terakomodasi, hubungan itu tampak harmonis. Namun ketika kepentingan mulai berbenturan, retakan-retakan yang selama ini tersembunyi akan mulai terlihat.
Persatuan yang Dibangun di Atas Kepentingan Sementara
Dalam simbiosis semu politik kekuasaan, para pihak biasanya dipersatukan oleh tujuan jangka pendek yang sama. Tujuan itu dapat berupa kemenangan dalam pemilu, penguasaan jabatan strategis, pengamanan posisi politik, atau pengendalian sumber daya negara. Kesamaan tujuan tersebut menciptakan kesan bahwa mereka memiliki orientasi yang sama terhadap masa depan bangsa.
Padahal, di balik kesamaan tujuan jangka pendek itu sering kali tersimpan agenda jangka panjang yang berbeda. Ada kelompok yang ingin memperluas pengaruh politiknya. Ada yang ingin mengamankan kepentingan ekonomi. Ada yang berusaha menyiapkan regenerasi kekuasaan. Ada pula yang sekadar ingin memperoleh perlindungan politik. Karena orientasi masa depan mereka berbeda, maka persatuan yang terbentuk sesungguhnya hanya bersifat transaksional. Mereka berjalan bersama bukan karena memiliki tujuan akhir yang sama, melainkan karena sedang membutuhkan satu sama lain.
Perjanjian Politik yang Tidak Selalu Tertulis
Simbiosis semu politik kekuasaan sering kali tidak dibangun melalui kontrak tertulis. Ia lebih banyak bertumpu pada kesepahaman tidak resmi, janji-janji politik, pembagian pengaruh, dan distribusi manfaat kekuasaan. Dalam banyak kasus, perjanjian yang sebenarnya justru berada di luar ruang publik. Masyarakat hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui kesepakatan yang melatarbelakanginya.
Kondisi ini menyebabkan stabilitas hubungan politik sangat bergantung pada kemampuan para pihak memenuhi ekspektasi masing-masing. Ketika salah satu pihak merasa tidak memperoleh bagian yang dijanjikan atau merasa kontribusinya tidak dihargai, maka rasa saling percaya mulai terkikis. Hubungan yang sebelumnya tampak solid dapat berubah menjadi hubungan yang penuh kecurigaan. Semakin besar ketergantungan pada janji informal, semakin besar pula potensi konflik di masa depan.
Bersama Tetapi Tidak Menjadi Satu
Karakter utama simbiosis semu politik kekuasaan adalah tidak adanya peleburan kepentingan secara utuh. Kekuatan-kekuatan yang bekerja sama tetap mempertahankan identitas, jaringan, loyalitas, dan pusat kekuatan masing-masing. Mereka berada dalam satu barisan, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi satu tubuh politik.
Keadaan ini melahirkan klasifikasi sosial-politik yang tidak selalu tampak di permukaan. Dalam lingkungan kekuasaan sering muncul kategori “orang kawan” dan “orang bukan kawan”. Kedekatan kepada pusat kekuasaan menjadi ukuran utama dalam menentukan akses terhadap informasi, pengaruh, dan peluang. Akibatnya, hubungan politik tidak dibangun atas dasar meritokrasi atau kapasitas, melainkan atas dasar kedekatan dan loyalitas kelompok.
Loyalitas yang Bersyarat
Dalam hubungan politik yang sehat, loyalitas biasanya dibangun atas kesamaan prinsip dan komitmen terhadap tujuan bersama. Sebaliknya, dalam simbiosis semu politik kekuasaan, loyalitas sering bersifat bersyarat. Selama kepentingan kelompok terakomodasi, dukungan akan terus diberikan. Namun ketika manfaat yang diperoleh mulai berkurang, loyalitas dapat berubah menjadi kritik bahkan perlawanan.
Karena itu, aktor-aktor dalam simbiosis semu politik kekuasaan selalu menjaga kekuatan cadangan masing-masing. Mereka tidak pernah sepenuhnya melepaskan instrumen pengaruh yang dimiliki. Mereka tetap memelihara jaringan politik, ekonomi, birokrasi, maupun sosial sebagai antisipasi jika suatu saat hubungan kerja sama mengalami keretakan. Dari luar terlihat bersatu, tetapi di dalam masing-masing pihak terus menghitung kemungkinan perubahan konstelasi politik.
Perebutan Pengaruh yang Berjalan Senyap
Seiring berjalannya waktu, simbiosis semu politik kekuasaan hampir selalu memasuki fase kompetisi internal. Ketika tujuan awal telah tercapai, perhatian mulai bergeser pada pertanyaan berikutnya: siapa yang akan menjadi lebih dominan dalam struktur kekuasaan? Pertanyaan ini menjadi sumber persaingan yang sering kali tidak terlihat secara langsung.
Persaingan tersebut dapat berlangsung secara senyap melalui penguatan jaringan, penguasaan posisi strategis, pengendalian informasi, atau pembentukan opini publik. Setiap kelompok berusaha meningkatkan pengaruhnya tanpa secara terbuka memutus hubungan dengan kelompok lain. Mereka tetap menunjukkan wajah persatuan di depan publik, tetapi di belakang layar berlangsung perlombaan untuk memperbesar daya tawar politik masing-masing.
Persaingan agak terbuka bisa juga terjadi. Ini bergantung kondisi yang memungkinkan tentu. Kondisi yang memungkin ini seperti sudah sangat lemahnya salah satu pihak akibat berbagai kesalahan yang diketahui publik dilakukan dan pihak yang satu lagi punya jaringan kekuatan yang lengkap dalam koridor konstitusional supaya legitimasi konstitusi tetap terpenuhi.
Kesalahan Sebagai Alat Reposisi Kekuasaan
Dalam banyak kasus, kesalahan yang dilakukan oleh salah satu pihak dapat menjadi momentum bagi pihak lain untuk memperkuat posisinya. Kesalahan itu bisa berupa kegagalan kebijakan, skandal politik, konflik kepentingan, penyalahgunaan kewenangan, atau penurunan popularitas. Ketika kelemahan tersebut muncul, pihak-pihak yang sebelumnya berada dalam posisi setara mulai melakukan reposisi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa simbiosis semu politik kekuasaan tidak memiliki fondasi solidaritas yang kuat. Kesalahan seorang mitra politik tidak selalu dipandang sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan secara kolektif. Sebaliknya, kesalahan tersebut sering dimanfaatkan untuk memperbesar ruang pengaruh sendiri. Di sinilah terlihat bahwa kepentingan mempertahankan kekuasaan sering kali lebih dominan daripada komitmen terhadap kerja sama yang dibangun sebelumnya.
Sulit Langgeng karena Tidak Berbasis Nilai
Sejarah politik di berbagai negara menunjukkan bahwa koalisi yang hanya dibangun di atas kepentingan kekuasaan cenderung berumur pendek. Ketika faktor pemersatu berupa kepentingan praktis mulai melemah, tidak ada fondasi nilai yang cukup kuat untuk menjaga keberlanjutan hubungan tersebut. Akibatnya, perpecahan menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.
Sebaliknya, kerja sama yang dibangun di atas kesamaan visi, prinsip, dan orientasi kebangsaan biasanya memiliki daya tahan yang lebih panjang. Perbedaan kepentingan tetap dapat muncul, tetapi tidak langsung menghancurkan hubungan karena terdapat komitmen yang lebih besar terhadap tujuan bersama. Simbiosis semu politik kekuasaan gagal menciptakan fondasi seperti ini karena sejak awal orientasinya lebih berpusat pada pembagian manfaat daripada pembangunan nilai bersama.
Negara Menjadi Pihak yang Paling Dirugikan
Kerugian terbesar dari simbiosis semu politik kekuasaan sesungguhnya tidak ditanggung oleh para aktor politik, melainkan oleh negara dan masyarakat. Ketika energi politik lebih banyak digunakan untuk menjaga keseimbangan kepentingan kelompok, perhatian terhadap kepentingan publik menjadi berkurang. Kebijakan negara dapat berubah menjadi instrumen kompromi elite, bukan instrumen pemecahan masalah rakyat.
Lebih jauh lagi, simbiosis semu politik kekuasaan berpotensi melemahkan kualitas institusi negara. Jabatan publik dapat diperlakukan sebagai alat transaksi politik. Penempatan sumber daya manusia tidak lagi didasarkan pada kompetensi terbaik, melainkan pada kebutuhan menjaga keseimbangan koalisi. Akibatnya, efektivitas pemerintahan menurun dan kemampuan negara dalam melayani rakyat menjadi terganggu.
Membangun Politik yang Lebih Berkelanjutan
Politik yang sehat membutuhkan kerja sama, tetapi kerja sama tersebut harus bertumpu pada kepentingan nasional yang lebih besar daripada kepentingan kelompok. Perbedaan kepentingan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun perbedaan itu harus dikelola melalui prinsip-prinsip yang jelas, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Simbiosis semu politik kekuasaan sulit langgeng karena dibangun di atas fondasi yang rapuh. Ia dapat menghasilkan stabilitas sementara, tetapi sulit menciptakan keberlanjutan. Ketika kepentingan sesaat berakhir, perpecahan menjadi kemungkinan yang sangat besar. Oleh karena itu, masa depan politik yang lebih kokoh memerlukan pergeseran dari politik transaksi menuju politik visi, dari politik pembagian kekuasaan menuju politik pengabdian kepada negara. Hanya dengan cara itulah kekuasaan dapat menjadi sarana membangun bangsa, bukan sekadar arena persekutuan sementara yang pada akhirnya meninggalkan kerugian bagi negara dan rakyat.

