1830 Project, Mengenang Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro
Highlights:
- Jenama Tulisan merilis Proyek 1830 yakni karya seni yang menggabungkan penerbitan buku dwibahasa, koleksi artefak sandang, dan pameran seni, dengan mengangkat tema Perang Jawa serta napak tilas kehidupan Pangeran Diponegoro.
- Proyek 1830 berusaha membuka kembali fase krusial dalam sejarah Indonesia, yaitu masa perang Jawa yang terjadi selama periode 1825 sampai 1830. Dengan mengintegrasikan buku, desain sandang, dan ruang pameran, Proyek 1830 menyusun ulang sejarah Jawa dengan menggunakan lensa pascakolonial, yakni barang-barang sehari-hari di zaman sekarang.
- Tahun 1830 secara khusus dipilih sebagai tajuk karena menjadi titik balik sejarah Nusantara. Tahun tersebut menandai peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro yang sekaligus menjadi awal mula kontrol kolonial penuh di Tanah Jawa.

Jakarta – Jenama Tulisan merilis Proyek 1830 yakni karya seni yang menggabungkan penerbitan buku dwibahasa, koleksi artefak sandang, dan pameran seni, dengan mengangkat tema Perang Jawa serta napak tilas kehidupan Pangeran Diponegoro.
Karya kreatif bersejarah ini adalah hasil kolaborasi antara Founder sekaligus Creative Director Tulisan, Melissa Sunjaya dengan sejarawan Inggris yang dikenal sebagai biografer Pangeran Diponegoro, Peter Carey.
Proyek 1830 berusaha membuka kembali fase krusial dalam sejarah Indonesia, yaitu masa perang Jawa yang terjadi selama periode 1825 sampai 1830. Dengan mengintegrasikan buku, desain sandang, dan ruang pameran, Proyek 1830 menyusun ulang sejarah Jawa dengan menggunakan lensa pascakolonial, yakni barang-barang sehari-hari di zaman sekarang seperti tas, celemek, dan lainnya.

“Proyek ini sebenarnya untuk membiayai regenerasi budaya yakni proyek-proyek terjemahan Babat Diponegoro,” ucap Melissa kepada Asianpost saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.
Bagi Melissa, mengetahui sejarah adalah hal penting untuk membangun masa depan yang lebih baik, sekalipun buruk atau menyedihkannya peristiwa bersejarah di masa lalu.

“Pangeran Diponegoro selain panglima perang, ia adalah dalang yang luar biasa ketika menceritakan legenda Jawa dari era Kerajaan Majapahit sampai berdirinya pengaruh-pengaruh Islam di Jawa,” jelas Melissa.
Ia mengatakan, tujuan dari dibuatnya Proyek 1830 ini agar karya seni yang menceritakan kisah Pangeran DIponegoro tersebut bisa dinikmati oleh khalayak ramai, dari domestik maupun mancanegara.
“Makanya, kita buat ini dalam bahasa Indonesia dan Inggris,” paparnya.
Tahun 1830 secara khusus dipilih sebagai tajuk karena menjadi titik balik sejarah Nusantara. Tahun tersebut menandai peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro yang sekaligus menjadi awal mula kontrol kolonial penuh di Tanah Jawa.
Secara filosofis, inisiatif ini bertujuan untuk mendorong proses dekolonisasi mental masyarakat. Proyek ini memberikan ruang bagi bangsa Indonesia untuk menceritakan kembali sejarahnya sendiri dari sudut pandang lokal. SW

