Sialan! Yang Ditunggu Menkeu Baru, Yang Dilantik Malah yang Beginian

Jakarta– Drama pergantian pejabat di pemerintahan Prabowo Subianto berlanjut. Publik lagi nunggu reshuffle kursi panas Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Rumor Muhammad Chatib Basri (MCB) yang mau balik lagi jadi Menkeu gantiin Purbaya Yudhi Sadewa sudah kayak sinetron “Terikat Janji”: heboh, tapi endingnya nggambleh.

AP HEADER

Eh, sore ini Istana malah menggelar acara pelantikan yang vibes-nya jauh dari kata “urgent”.

Senin, 8 Juni 2026, Presiden Prabowo dijadwalkan ambil sumpah pejabat baru di Istana Negara.

Agenda utamanya? Dua hal: pimpinan Badan Gizi Nasional yang baru, plus pelantikan Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden urusan buruh.

Kata Mensesneg Prasetyo Hadi, pelantikan BGN ini karena “sesuatu hal”.

Bahasa halusnya: tiga komandan lama BGN — Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung, Sony Sonjaya — dicopot Prabowo gara-gara diduga main mata sama korupsi tata kelola SPPG.

Penggantinya: Nanik Sudaryati Deyang jadi Kepala, didampingi Agustina Arumsari dan Trenggono sebagai Wakil.

Agenda kedua, giliran Said Iqbal naik panggung. Presiden Buruh itu resmi jadi “orang dalam” Istana untuk ngurus ketenagakerjaan.

“Simbol komitmen Prabowo ke buruh,” kata Pras.

Habis itu baru acara selingan: terima surat kepercayaan 8 dubes negara sahabat. “Efisiensi,” katanya.

Sejak pekan lalu, nama Chatib Basri beredar kencang di Senayan dan WhatsApp group wartawan.

Mantan Menkeu era SBY itu dikabarkan sudah dipanggil, sudah “fit and proper test” dadakan, siap gantiin Purbaya yang kursinya goyang.

Isunya: ekonomi lagi gonjang-ganjing, APBN butuh nakhoda baru, Menkeu itu jantungnya.

Tapi fakta di lapangan: nama Chatib Basri nggak ada di daftar pelantikan hari ini. Yang ada malah BGN dan penasihat buruh.

Padahal semua analis sepakat: kementerian ekonomi itu urgent, bukan “bisa nunggu”. Ibarat pasien IGD nunggu dokter, yang datang malah dokter gigi.

Prabowo memang punya hak prerogatif. Tapi publik juga punya hak bertanya: prioritasnya di mana? Ketika isu korupsi bansos gizi, defisit, dan rupiah lagi jadi bahan obrolan warung kopi, kursi Menkeu tetap diduduki pejabat lama yang tak ramah market.

Sementara kursi penasihat dan BGN yang baru kena skandal malah buru-buru diisi.Jadi, buat yang masih setia mantengin layar nunggu asap putih dari Kementerian Keuangan: sabar.

Asapnya masih abu-abu. Yang pasti, Istana hari ini sibuk berbenah dapur gizi dan urusan buruh. Urusan dompet negara? Sepertinya masih “akan dikaji lebih lanjut”. (Darto Wiryosukarto)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.