Fraud Makin Canggih, OJK Soroti Ancaman AI di Sektor Keuangan

Highlight:

  • Sophia Isabella Wattimena, Anggota Dewan Komisioner OJK, menilai AI membuat ancaman fraud semakin kompleks lewat deepfake, impersonation, dan manipulasi data.
  • Infobank & Simplifa.ai Executive Forum 2024 mengulas perubahan strategi industri keuangan menghadapi AI, fraud, dan ketidakpastian.
  • Sophia mendorong deteksi fraud berbasis AI bekerja lebih cepat, dari hitungan menit menjadi detik, dengan tetap menjaga pengawasan dan akuntabilitas manusia.

AP HEADER

Jakarta- Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat fraud di sektor jasa keuangan tidak lagi bergerak dengan pola lama. Informasi palsu dapat diproduksi, dimodifikasi, dan disebarkan dalam skala yang jauh lebih besar.

Sementara, pelaku kejahatan semakin sulit dibedakan dari pihak yang sebenarnya. Kondisi ini membuat kemampuan industri keuangan mendeteksi dan memverifikasi informasi menjadi semakin krusial.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Isabella Wattimena mengatakan perkembangan teknologi dan risiko saat ini berlangsung secara bersamaan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Risiko tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat merambat dengan cepat dari satu area ke area lain.

“Risiko itu tidak lagi bergerak secara linear maupun berdiri sendiri, tapi pada satu titik itu cepat merambat juga menjadi risiko di area lainnya,” ujar Sophia dalam pemaparannya bertajuk Navigating AI, Fraud and Uncertainty in the Financial Services Sector pada acara InfoBank & Simplifa AI Executive Forum 2024 From Risk to Resilience: How AI is Redefining Credit Strategy in an Era of Fraud and Uncertainty di JW Marriott Hotel Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Persoalannya semakin pelik karena fondasi utama bisnis keuangan adalah informasi dan kepercayaan. Ketika informasi bisa dipalsukan, dimodifikasi, lalu disebarkan secara masif dalam hitungan cepat, risiko yang muncul tidak berhenti pada kesalahan informasi. Dampaknya bisa menjalar menjadi cyber risk, fraud, risiko reputasi, perubahan perilaku pasar hingga risiko kredit dan finansial.

Sophia lantas menyoroti bagaimana AI dan kanal digital membuat batas antara informasi asli dan informasi manipulatif semakin kabur. Pelaku dapat memanfaatkan deepfake, impersonation hingga manipulasi data untuk membuka pintu masuk ke sistem keuangan.

“Manipulated content, kemudian ada deepfake, impersonation, hingga manipulasi data dapat menjadi pintu masuk bagi cyber risk, kemudian bagi fraud, reputational risk, perubahan market behavior dan juga pada akhirnya akan menyentuh pada credit risk dan financial risk,” kata Sophia.

Dalam pemaparannya, Sophia menunjukkan besarnya eksposur fraud tersebut. Mengacu pada data Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), lebih dari 2.400 kasus occupational fraud yang berasal dari sekitar 140 negara menghasilkan total kerugian sekitar US$3,4 miliar. Sektor perbankan dan jasa keuangan menjadi industri dengan paparan terbesar, dengan lebih dari 430 kasus.

Ancaman tersebut juga terlihat di Indonesia, di mana data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) menunjukkan hampir 1.400 laporan penipuan terindikasi memanfaatkan AI sejak November 2023 hingga Juni 2024.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian dari tantangan fraud yang harus diperhitungkan industri keuangan.

Deteksi Fraud Tak Bisa Lagi Menunggu

Ironisnya, teknologi yang sama juga bisa menjadi senjata untuk melawan fraud. Sophia mengatakan AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat analisis kredit, pemrosesan dokumen hingga mendeteksi fraud secara real-time. Perkembangan AI sendiri telah bergerak dari traditional AI menuju Generative AI dan kini Agentic AI.

Dalam sektor perbankan, Sophia melihat sejumlah penggunaan yang memiliki potensi nilai tinggi, antara lain retail credit analysis, intelligent document processing dan real-time fraud detection. Namun, implementasinya harus tetap dibangun berdasarkan skenario penggunaan yang jelas serta memperhatikan aspek etika.

Khusus untuk fraud detection, kecepatan menjadi faktor yang semakin menentukan. Menurut Sophia, sistem yang sebelumnya mampu mendeteksi anomali dalam hitungan menit harus diarahkan untuk bekerja dalam hitungan detik. Perubahan tersebut diperlukan karena pola fraud juga berkembang semakin cepat.

“Dulu itu sensitivity-nya misalnya hitungannya menit, nah sekarang mungkin bukan menit lagi, menit lagi itu tidak lagi relevan, mungkin hitungannya harus detik,” tuturnya.

Maka dari itu, kata dia, industri tidak cukup hanya mengadopsi teknologi dengan cepat. Penggunaan AI harus berjalan bersama kemampuan menguji informasi, memahami risiko dan memastikan terdapat manusia yang tetap bertanggung jawab atas keputusan.

AI, menurut dia, harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia dalam membaca risiko, bukan menggantikan fungsi pertimbangan dan akuntabilitas.

Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan teknologi dapat memberikan nilai tambah tanpa mengabaikan risiko yang ikut berkembang bersamanya. (*) Ranu Arasyki Lubis

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.