Kecelakaan KA Bekasi Timur Diduga Dipicu Kegagalan Sinyal dan Koordinasi

Highlight:

  • Dugaan kegagalan penyampaian sinyal jadi sorotan utama kecelakaan KA Bekasi Timur
  • Insiden taksi tertemper diduga memicu gangguan sistem perkeretaapian di jalur padat
  • Sumber internal KAI menyebut KA Argo Bromo tidak menerima peringatan sebelum tabrakan

Jakarta- Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 14 orang mulai mengarah pada dugaan persoalan yang lebih dalam: gangguan sistem hingga kemungkinan kelalaian dalam penyampaian sinyal di jalur padat tersebut.

Insiden terjadi pukul 20.50 WIB pada Senin (27/4) malam, saat KA Argo Bromo Anggrek menghantam KRL yang sedang berhenti. Benturan berlangsung sangat keras hingga rangkaian KA jarak jauh menembus gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong khusus wanita dan menghancurkannya.

KA Argo Bromo melaju tanpa hambatan sebelum tabrakan terjadi. Dalam hitungan detik, kereta menghantam rangkaian KRL yang sudah dalam posisi diam di stasiun.

Kepanikan terjadi seketika. Sejumlah penumpang terjebak di dalam gerbong hingga harus memecahkan kaca untuk menyelamatkan diri. Guncangan keras bahkan membuat penumpang terpental.

Rangkaian kejadian ini tidak berdiri sendiri. Beberapa menit sebelum tabrakan, terjadi insiden taksi yang tertemper KRL di perlintasan sebidang dekat lokasi. Taksi itu dilaporkan berhenti di tengah lintasan, memaksa KRL berhenti dan mengganggu perjalanan kereta lainnya.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengakui adanya gangguan pada sistem perkeretaapian di area tersebut akibat insiden awal.

“Perlu saya sampaikan juga kejadian ini di jam kurang jam 21.00 WIB kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu. Sementara itu kronologinya,” ungkap Bobby.

Gangguan Sinyal dan Kelalaian

Namun, di balik kronologi resmi itu, muncul indikasi lain dari internal. Sumber di salah satu kabin crew KAI mengungkap kemungkinan keterlambatan atau bahkan tidak tersampaikannya sinyal peringatan ke KA Argo Bromo Anggrek.

“Infonya, karena awalnya ada taksi di perlintasan ketemper KRL, terus KRL di belakangnya ikutan berhenti. Nah, di belakangnya lagi ada KA Anggrek tapi belum dapat sinyal kalau ada accident di depannya, jadi sudah keburu nabrak,” ujar salah satu sumber kabin crew KAI yang menyaksikan kecelakaan kepada The Asian Post.

Indikasi ini memperkuat dugaan adanya celah koordinasi, baik di level lapangan maupun sistem yang berujung fatal.

Meski demikian, pihak KAI masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Di tengah proses pencarian penyebab, tim Basarnas harus berpacu dengan waktu mengevakuasi korban yang terjepit di antara rangkaian kereta yang ringsek.

Kepala Basarnas M Syafii menyatakan, proses evakuasi berlangsung sejak Senin (27/4) malam hingga Selasa (28/4), termasuk dengan memotong bagian gerbong.

“Masih ada beberapa korban yang masih dinyatakan hidup, namun kondisinya masih dalam kondisi terjepit sehingga kita akan berupaya untuk secepat mungkin bisa memisahkan antara logam-logam yang menjepit dan kita bisa evakuasi korban,” ujar M Syafii.

Di tengah semua itu, pernyataan lama mantan Dirut KAI kembali relevan dalam membaca pola kecelakaan perkeretaapian.

“PLH itu bukan karena kemauan YME. Itu karena kelalaian kita semua. Jangan melempar tanggung jawab kita ke YME.”

Kalimat itu kembali menemukan relevansinya bahwa tragedi seperti ini bukan datang tiba-tiba, melainkan lahir dari celah-celah kelalaian yang dibiarkan terbuka.

Dalam konteks tragedi ini, pernyataan tersebut terdengar bukan sekadar refleksi, tetapi peringatan keras tentang tanggung jawab yang kerap terabaikan. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.