Ekonomi Tumbuh Tertinggi dalam 10 Tahun, Misbakhun Heran Indonesia Dapat Outlook Negatif

Highlight:

  • Misbakhun menilai outlook negatif Indonesia tidak sejalan dengan fundamental ekonomi yang justru menunjukkan tren penguatan dalam dua kuartal terakhir.
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026, menjadi capaian tertinggi dalam satu dekade.
  • Pergantian Menteri Keuangan dinilai tidak seharusnya menjadi dasar penurunan outlook, karena persepsi pasar harus bertumpu pada indikator ekonomi yang kuat.

AP HEADER

Jakarta– Di tengah laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencatatkan kinerja terbaik dalam satu dekade terakhir, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai pemberian rating outlook negatif oleh lembaga pemeringkat utang (sovereign rating agency) terhadap Indonesia tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Menurutnya, perubahan prospek tersebut justru muncul setelah Presiden RI Prabowo memutuskan melakukan pergantian Menteri Keuangan.

Misbakhun mengatakan, berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada di jalur yang kuat. Pada kuartal IV 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,39 persen dan meningkat menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Capaian tersebut menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pernah dibukukan Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

“Terakhir pertumbuhan ekonomi kita di 5,61 itu kapan? Dan ini the highest in the last of 10 years,” ujar Misbakhun dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2026 yang digelar Infobank Media Group di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Melihat capaian tersebut, Misbakhun mengaku heran ketika lembaga pemeringkat justru mengubah prospek Indonesia menjadi negatif setelah terjadi pergantian Menteri Keuangan.

Menurutnya, penilaian terhadap sebuah negara semestinya bertumpu pada kekuatan fundamental ekonomi, bukan pada perubahan pejabat pemerintahan.

“Saya kaget ketika sovereign rating agency memberikan kita outlook negatif hanya karena Presiden memutuskan pergantian Menteri Keuangan,” ujarnya.

Ia kemudian mempertanyakan konsistensi penilaian yang digunakan lembaga pemeringkat tersebut.

“Apakah dengan situasi sekarang, kalau Menteri Keuangannya sama, apakah mereka akan merubah outlook sovereign rating agency mereka?” sebutnya.

Menurut Misbakhun, indikator ekonomi Indonesia hingga kini masih menunjukkan kondisi yang solid. Karena itu, pergantian menteri tidak seharusnya langsung dimaknai sebagai sinyal memburuknya prospek ekonomi nasional apabila fondasi ekonominya tetap terjaga.

Ia menilai persepsi negatif yang berkembang justru memberikan tekanan terhadap pasar keuangan, mulai dari pasar modal hingga nilai tukar rupiah.

“Di saat kita punya fundamental ekonomi yang sangat kuat lalu diberikan persepsi negatif dan realitas yang ada diberikan sentimen negatif,” tambahnya.

Lebih lanjut, Misbakhun menilai dinamika pasar keuangan saat ini semakin dipengaruhi oleh persepsi yang terbentuk dari berbagai informasi.

Tidak hanya data ekonomi, ekspektasi investor juga dibangun melalui sentimen yang berkembang, termasuk dari penilaian lembaga internasional maupun informasi yang beredar di media sosial.

Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya seluruh pemangku kepentingan melihat prospek ekonomi Indonesia secara lebih objektif dengan mengedepankan indikator fundamental.

Menurutnya, perubahan politik maupun pergantian pejabat tidak seharusnya menjadi faktor dominan dalam menilai kekuatan ekonomi nasional. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.