Ekonomi RI Disebut Alami Skoliosis: Pertumbuhan Tertahan 5 Persen
Highlights:
- Ekonom senior Raden Pardede mengibaratkan ekonomi RI sedang mengalami “skoliosis” yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertahan hanya di 5 persen.
- Perekonomian Indonesia seperti kurang disiplin dalam berolahraga. Akibatnya, tekanan darah jadi kurang baik dan kolesterolnya tinggi. Situasi inilah yang sedang menimpa kondisi fiskal Indonesia. Belanja fiskal yang besar, menjadikan APBN kurang efisien dan kualitasnya kurang baik.
- Tekanan darah tinggi itu ibaratkan gejala fiskal dan moneter (pengeluaran membengkak). Ditambah, ada pembayaran utang RI yang lumayan signifikan sampai Rp830 triliun di tahun ini, dengan dua tahun berikutnya juga masih di level Rp800 triliun.

Jakarta – Ekonom senior Raden Pardede memiliki pandangan menarik soal kondisi perekonomian Indonesia saat ini, yang dianalogikannya seperti pasien yang sedang sakit.
Ibaratkan pasien yang sedang sakit skoliosis (tulang bengkok), ia mengatakan, Indonesia perlu sadar terlebih dahulu jika perekonomiannya sedang dilanda penyakit skoliosis, yang jika dibiarkan akan terus bengkok lebih parah dan semakin menekan laju pertumbuhan ekonomi.
“Skoliosis itu yang parah itu bisa sampai menekan paru-paru bahkan jantung. Nah, ini yang menyebabkan kita tidak pernah bisa bertumbuh sangat tinggi. Jalan kita bisa miring seperti ini,” ujar Raden dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2026 (The New Rules of Survival in Uncertain Times: Akankah Terjadi Krisis?) yang diadakan Infobank Media Group di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Penyakit skoliosis inilah yang ia katakan menyebabkan perekonomian Indonesia hanya stagnan di 5 persen dan tidak bisa berlari lebih cepat lagi, karena “berjalan”-nya saja sudah tidak normal.
Ia lalu mengatakan, perekonomian Indonesia seperti kurang disiplin dalam berolahraga. Akibatnya, tekanan darah jadi kurang baik dan kolesterolnya tinggi. Situasi inilah yang sedang menimpa kondisi fiskal Indonesia. Belanja fiskal yang besar, menjadikan APBN kurang efisien dan kualitasnya kurang baik.
“Itu adalah yang saya katakan tadi. Kegemukan, lambat bergerak gitu loh. Di samping itu, kita skoliosis, dan rentan terhadap alergi perubahan cuaca global,” sebut Raden.
Raden kembali menekankan pentingnya stakeholder terkait di Indonesia untuk sadar terlebih dahulu jika ekonomi Indonesia sedang mengalami sakit, untuk meminta bantuan (konsultasi) kepada “dokter”.
Ia menyatakan, tekanan darah tinggi itu ibaratkan gejala fiskal dan moneter (pengeluaran membengkak). Ditambah, ada pembayaran utang RI yang lumayan signifikan sampai Rp830 triliun di tahun ini, dengan dua tahun berikutnya juga masih di level Rp800 triliun.
“Dan juga mengalami anemia, kurang darah. Yakni, kelas menengahnya yang kita lihat juga di penjualan mobil dan motor, itu agak melemah di situ. Jadi, kurang daya beli,” sebut Raden.
Pada saat yang bersamaan, ekonomi Indonesia turut dilanda “demam tinggi” dan “menggigil”, yang bisa dilihat dari kepanikan investor asing dan IHSG yang sedang berada dalam tekanan.
“Kalau dia pergi ke dokter yang baik. Maka, apa yang akan diusulkan? Yang diusulkan ialah ‘kita turunkan dulu panasmu’. Itu namanya stabilisasi. Jadi, dalam situasi begini, yang harus dilakukan adalah stabilisasi. Bukan bicara growth,” tukas Raden. SW

