Ekonomi RI Diibaratkan Sakit Demam dan Skoliosis, Ekonom: Kejar Dulu Stabilitas, Bukan Growth
Highlights:
- Ekonom senior Raden Pardede menganologikan ekonomi RI seperti sedang sakit demam dan skoliosis. Oleh karenanya, ia katakan, pemerintah Indonesia perlu melakukan pemulihan terlebih dahulu (stabilisasi) sebelum mengejar pertumbuhan.
- Stabilisasi ini menjadi bagian pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu. Ia mengibaratkannya seperti pasien demam yang akan sangat berbahaya jika langsung dilakukan tindakan operasi.
- Kebijakan menaikkan interest rate (suku bunga) seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini seperti obat paracetamol, yang hanya mengobati sementara (temporer). Yang seharusnya dilakukan, tak sekadar berfokus pada menaikkan interest rate, tapi rasionalisasi belanja fiskal.

Jakarta – Ekonom senior Raden Pardede mengungkapkan strategi khusus yang perlu dilakukan pemerintah RI untuk kembali menguatkan perekonomian Indonesia.
Raden mengibaratkan ekonomi Indonesia saat ini seperti sedang dilanda penyakit komplikasi, mulai dari hipertensi, kolesterol, demam, hingga skoliosis. Oleh karenanya, ia katakan, pemerintah Indonesia perlu melakukan pemulihan terlebih dahulu (stabilisasi) sebelum mengejar pertumbuhan.
“Dokter yang baik akan menyarankan ‘kita turunkan dulu panasmu’. Itu namanya stabilisasi. Jadi, dalam situasi begini yang harus dilakukan adalah stabilisasi. Bukan bicara growth,” ujar Raden dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2026 (The New Rules of Survival in Uncertain Times: Akankah Terjadi Krisis?) yang diadakan Infobank Media Group di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Stabilisasi ini menjadi bagian pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu. Ia mengibaratkannya seperti pasien demam yang akan sangat berbahaya jika langsung dilakukan tindakan operasi.
Baginya, kebijakan menaikkan interest rate (suku bunga) seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini seperti obat paracetamol, yang hanya mengobati sementara (temporer).
Yang seharusnya dilakukan pemerintah RI saat ini, tak sekadar berfokus pada menaikkan interest rate, tapi rasionalisasi belanja fiskal.
“Anda mau melakukan operasi. Disuruh dulu puasa. Benar gak? Disuruh puasa. Itu adalah bagian dari itu (rasionalisasi belanja). Fiskalnya stabilisasi dulu,” tegas Raden.
Kemudian, setelah dilakukan rasionalisasi, barulah dilakukan tindakan operasi (reformasi struktural) terhadap penyakit skoliosis yang menekan perekonomian Indonesia sehingga tak bisa melaju kencang jauh melebihi 5 persen.
“Itu adalah reformasi struktural. Yang diregulasi, yang kita reformasi. Itu reformasi A,B,C,D. Dengan memakai metal yang kuat, sehingga tulang itu diluruskan,” sambungnya.
Ia menjelaskan jika ekonomi Indonesia saat ini memang belum bisa dikategorikan masuk ke klasifikasi kritis, mengingat pertumbuhan ekonomi yang masih stabil di level 5 persen.
Namun begitu, jika penyakit komplikasi, termasuk “skoliosis” itu dibiarkan terus menerus, maka itu akan terus membengkok dan menekan perekonomian Indonesia semakin parah ke depan.
“Jangan bicara growth dalam keadaan demam. Turunkan dulu demamnya, supaya tidak menggigil. Baru melakukan operasi supaya kamu nanti bisa bertumbuh lebih tinggi dan bisa berlari dengan cepat,” tegas Raden. SW

