Obituari Fathan Subchi: ”Kebo Ijo” Berbaju Merah Itu Telah Pergi

Selamat Jalan, Fathan Subchi: Dari Panggung Ketoprak Financial ke Perjalanan Terakhir Menuju Demak

Oleh : Eko B. Supriyanto, Presiden Ketoprak Financial 7 Periode

ADA orang yang kita kenal karena jabatannya. Ada pula yang kita kenang karena kebaikan dan kehangatannya. Tetapi ada orang-orang tertentu yang meninggalkan keduanya sekaligus: namanya tercatat dalam sejarah institusi, sementara sosoknya hidup dalam ingatan personal, lengkap dengan cerita-cerita kecil yang membuat kita tersenyum, bahkan ketika air mata sedang berusaha kita tahan.

AP HEADER

Fathan Subchi adalah salah satunya.

Ketika mendengar kabar bahwa Fathan meninggal dunia di Moskow, Rusia, pada Minggu, 25 Oktober 2026, saya tidak langsung percaya. Kabar itu datang dari Frederica Widyasari Dewi, Ketua Komisioner OJK. Saya terdiam, mencoba memahami apa yang baru saja saya dengar. Rasanya mustahil. Bukankah saya masih mengenalnya sebagai seorang sahabat yang sesekali menyapa melalui WhatsApp? Bukankah namanya masih muncul di grup Sahabat Ketoprak Financial, kadang hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada kawan-kawannya?

Saya kemudian mengonfirmasi kabar itu kepada anggota BPK lainnya. Saya ingin memastikan bahwa berita tersebut bukan kekeliruan. Tetapi kenyataan tidak berubah hanya karena kita belum siap menerimanya.

Fathan benar-benar telah pergi.

Ia meninggal dunia ketika menjalankan tugas pemeriksaan sebagai Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, dalam usia 56 tahun. Seorang pejabat negara yang sedang menunaikan amanahnya di negeri orang, jauh dari keluarga, jauh dari kawan-kawan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Namun, bagi saya, Fathan bukan sekadar anggota BPK. Ia bukan hanya mantan anggota DPR RI selama dua periode. Ia bukan semata-mata seorang aktivis PMII yang kemudian menapaki tangga kekuasaan hingga ke lembaga pemeriksa keuangan negara.

Fathan adalah sahabat.

Dan ada satu cerita tentang dirinya yang mungkin tidak pernah tercantum dalam riwayat jabatan resmi, tetapi akan terus hidup dalam ingatan kami: cerita tentang Kebo Ijo yang justru mengenakan baju merah.

Kebo Ijo, Keris, dan Baju Merah

Ketoprak Financial adalah sebuah keluarga besar yang tumbuh dari dunia perbankan dan keuangan. Setiap tahun, komunitas ini berusaha menyisihkan waktu untuk naik panggung, memainkan lakon ketoprak, sekaligus menggalang semangat berbagi melalui kegiatan sosial.

Di luar panggung, kami terbiasa membicarakan kredit, risiko, likuiditas, modal, regulasi, dan segala macam persoalan keuangan. Kami hidup di antara angka-angka, laporan, rapat, dan keputusan bisnis. Tetapi setahun sekali, kami mencoba keluar dari rutinitas itu. Kami mengenakan kostum, menghafal dialog, berlatih adegan, dan belajar menertawakan diri sendiri.

Di panggung itulah Fathan menjadi bagian dari kami.

Ia sempat ikut manggung empat kali meski terdaftar ikut menjadi pemain sebanyak tujuh kali. Bukan berarti ia selalu punya banyak waktu untuk berlatih. Kesibukannya sebagai anggota DPR dan kemudian pejabat negara tentu tidak ringan. Kadang latihan pun sulit dilakukan secara rutin. Tetapi semangatnya untuk ikut bermain sungguh luar biasa.

Ada satu lakon yang kemudian melahirkan nama panggilan yang melekat pada dirinya.

Saat itu, Fathan mendapat peran sebagai Kebo Ijo, tokoh yang dalam kisah sejarah dikenal berkaitan dengan keris Ken Arok yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Dalam lakon yang kami mainkan, Kebo Ijo menjadi pemegang keris —yang digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Sampai di sini, semuanya masih sesuai skenario.

Persoalan muncul ketika Fathan tampil dengan kostum berwarna merah.

Bayangkan: namanya Kebo Ijo, tetapi bajunya abang—merah.

Ada sesuatu yang tidak beres dalam dunia ketoprak kami. Namanya Kebo Ijo, tetapi penampilannya merah. Barangkali kalau ini terjadi dalam rapat bank, orang akan menyebutnya ketidaksesuaian antara data dan fakta. Kalau di dunia audit, mungkin akan diminta klarifikasi. Tetapi di panggung ketoprak, ketidaksesuaian itu justru menjadi sumber tawa.

Ternyata Fathan salah mengambil kostum.

Dari situlah lahir celetukan yang terus kami ingat: “Kebo Ijo bajunya abang!”

Sejak saat itu, para sahabat Ketoprak Financial memanggilnya Kebo Ijo. Sebagaimana kawan-kawan lain mendapat nama panggilan sesuai tokoh yang mereka mainkan, ada yang dipanggil Arya Penangsang, ada yang dipanggil Sultan Agung, Fathan pun memperoleh identitas panggungnya sendiri.

Nama itu tidak lahir dari gelar akademik. Tidak pula dari jabatan politik. Ia lahir dari sebuah kesalahan kecil yang berubah menjadi kenangan bersama.

Dan justru karena itulah, nama itu terasa begitu akrab.

Kami tidak memanggilnya Kebo Ijo untuk merendahkan dirinya. Sebaliknya, nama itu adalah tanda kedekatan. Sebuah panggilan yang hanya bisa hidup di antara orang-orang yang telah berbagi panggung, berbagi tawa, dan merasa cukup nyaman untuk saling menggoda.

Fathan tidak membuat kesalahan kostum itu menjadi persoalan besar. Ia tidak membangun jarak. Ia tidak merasa bahwa kedudukannya sebagai anggota DPR membuat dirinya harus diperlakukan berbeda. Ia tetap menjadi bagian dari kelompok, tertawa bersama, dan menjalani pertunjukan dengan semangat yang sama.

Di panggung itu, tidak ada Komisi XI, tidak ada BPK, tidak ada kewenangan negara. Yang ada hanyalah sahabat-sahabat yang berusaha menyelesaikan pertunjukan dengan baik.

Saya selalu percaya bahwa karakter seseorang sering kali terlihat ketika ia berada dalam keadaan yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Apakah ia mudah tersinggung? Apakah ia merasa terlalu tinggi untuk ditertawakan? Ataukah ia mampu menerima kekurangan dirinya sendiri dengan lapang hati?

Fathan menunjukkan bahwa ia bisa menjadi bagian dari kegembiraan bersama.

Sekarang, ketika mengingat cerita Kebo Ijo berbaju merah, saya tersenyum sekaligus merasa kehilangan. Sebab, orang yang menjadi sumber tawa itu sudah tidak ada lagi.

Kelak, Ketoprak Financial mungkin kembali manggung. Kostum akan kembali disiapkan, dialog kembali dihafalkan, dan lampu panggung kembali dinyalakan. Kami akan kembali bermain untuk kegiatan sosial.

Tetapi saya tidak tahu apakah ada yang sanggup mengenakan kostum Kebo Ijo tanpa teringat kepada Fathan.

Baju merah itu mungkin hanya kesalahan kecil dalam sebuah pertunjukan. Namun, bagi kami, ia telah menjadi bagian dari sejarah persahabatan.

Dan sekarang, sejarah itu terasa jauh lebih berharga.

Mengenalnya Sebelum Menjadi Anggota DPR

Saya mengenal Fathan jauh sebelum ia menjadi anggota DPR RI.

Pada masa awal itu, ia aktif di lingkungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan bekerja sebagai tenaga ahli anggota DPR. Saya beberapa kali diundang menjadi pembicara dalam kegiatan yang diselenggarakannya. Saya datang sebagai speaker, sementara Fathan menjadi salah seorang yang mengurus penyelenggaraan acara.

Dari perjumpaan-perjumpaan itulah hubungan kami bermula.

Saya mengenal Fathan sebagai orang yang mau bekerja, mau belajar, dan mau membangun komunikasi. Ia tidak sekadar menyelenggarakan forum. Ia juga ingin mendapatkan sesuatu dari forum tersebut. Ada rasa ingin tahu, ada keinginan memahami persoalan, dan ada kesediaan mendengarkan orang lain.

Fathan tumbuh dari lingkungan pergerakan. Ia memahami kehidupan organisasi, mengenal tradisi diskusi, dan terbiasa berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Ia lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 11 Februari 1970. Pendidikan dasarnya ditempuh di Demak sebelum melanjutkan pendidikan ke Salatiga dan kemudian ke Jakarta. Perjalanan pendidikannya berlanjut hingga jenjang magister, disertai aktivitas akademik dan organisasi yang terus ia jalani.

Di lingkungan PMII, ia pernah memimpin Pengurus Besar PMII pada periode 1994–1997. Aktivitas organisasi itu menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan kariernya.

Bagi banyak aktivis, organisasi mahasiswa merupakan tempat belajar yang tidak selalu bisa diberikan oleh ruang kuliah. Di sana, seseorang belajar mengelola perbedaan, membangun jaringan, memahami persoalan masyarakat, dan berhadapan dengan kenyataan bahwa gagasan yang baik tidak selalu mudah diwujudkan.

Fathan melewati proses itu.

Saya tidak mengenalnya pertama-tama sebagai orang yang kelak akan menjadi pejabat tinggi. Saya mengenalnya sebagai seorang penyelenggara kegiatan, seorang aktivis, dan seseorang yang sedang membangun perjalanan hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya, ketika ia kemudian menduduki jabatan-jabatan penting, saya masih bisa melihat Fathan yang dahulu: orang yang tidak kehilangan kebiasaannya untuk berdiskusi.

Sudah Menjadi Anggota DPR, Masih Mau Belajar

Ketika Fathan terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa, periode 2014–2019, kemudian terpilih kembali untuk periode 2019–2024, hubungan kami tidak berhenti.

Saya telah mengenal banyak anggota DPR, terutama mereka yang bertugas di Komisi XI, komisi yang membahas berbagai persoalan ekonomi, keuangan, perbankan, perpajakan, dan pembangunan.

Namun, ada sesuatu yang membuat saya menghargai Fathan secara khusus.

Ia tetap mau berdiskusi secara intens. Ia mau bertemu, bertanya, dan bertukar pandangan. Ia tidak merasa bahwa jabatan sebagai anggota DPR telah membuatnya selesai belajar.

Saya melihatnya sebagai kualitas yang penting.

Kekuasaan memiliki kecenderungan untuk menciptakan jarak. Ketika seseorang memperoleh jabatan, ia mulai dikelilingi orang-orang yang ingin berbicara dengannya. Banyak orang datang untuk meminta sesuatu, menyampaikan kepentingan, atau mencari akses. Dalam keadaan seperti itu, seseorang bisa perlahan-lahan kehilangan ruang untuk mendengarkan pandangan yang berbeda.

Fathan, dalam pengalaman saya, masih bersedia membuka ruang tersebut.

Ia tidak harus selalu setuju dengan apa yang saya sampaikan. Diskusi memang bukan tempat untuk mencari keseragaman pendapat. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk mendengar, menguji argumen, dan mempertimbangkan pandangan lain.

Bagi saya, itulah ciri orang yang sungguh-sungguh ingin belajar.

Jabatan publik seharusnya tidak membuat seseorang berhenti bertanya. Justru semakin besar tanggung jawab yang diemban, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami persoalan dari berbagai sisi.

Fathan masih memiliki keinginan itu ketika menjadi anggota DPR. Ia masih bersedia bertemu dan berbicara tentang persoalan ekonomi serta keuangan. Ia juga beberapa kali berada dalam satu panggung dengan saya sebagai pembicara.

Kami sering bertemu dalam acara-acara yang berkaitan dengan perbankan dan keuangan, termasuk kegiatan Infobank.

Di forum-forum tersebut, kami berbicara tentang persoalan yang jauh dari ringan: ekonomi, industri keuangan, kebijakan publik, dan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.

Tetapi setelah acara selesai, setelah mikrofon dimatikan dan kursi-kursi mulai dirapikan, hubungan kami kembali menjadi hubungan antarmanusia.

Tidak selalu ada kepentingan. Tidak selalu ada agenda.

Kadang cukup dengan menyapa, bertukar pesan, atau menanyakan kabar.

Barangkali inilah yang membuat persahabatan kami tetap terasa dekat, meskipun kesibukan masing-masing tidak memungkinkan kami bertemu setiap saat.

Dari Parlemen Menuju BPK

Perjalanan karier Fathan memperlihatkan bagaimana seorang aktivis dapat menapaki berbagai ruang pengabdian.

Sebelum memasuki parlemen, ia pernah menjadi Direktur Induk Koperasi Syirkah Muawanah NU pada 2005–2012 dan Komisaris PT Aman Sinar Lestari pada 2005–2010. Ia kemudian menjadi staf khusus Menteri Tenaga Kerja pada 2013–2014.

Pada Pemilu 2014, ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah II. Lima tahun kemudian, ia kembali memperoleh kepercayaan untuk mewakili masyarakat melalui periode kedua, 2019–2024.

Di parlemen, ia bertugas di Komisi XI dan pernah menjadi wakil ketua komisi tersebut. Pengalaman ini membuatnya akrab dengan berbagai persoalan kebijakan ekonomi dan keuangan negara.

Di luar parlemen, ia tetap berkiprah dalam lingkungan PMII, Nahdlatul Ulama, dan kegiatan pemberdayaan ekonomi umat. Ia juga menjalani aktivitas akademik sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Pada Oktober 2024, ia mulai mengemban amanah sebagai Anggota VI BPK RI untuk periode 2024–2029. Pada 2025, ia juga dipercaya menjadi Ketua Umum PB Ikatan Alumni PMII untuk periode 2025–2030.

Perjalanan itu panjang. Dari organisasi mahasiswa, dunia koperasi, lingkungan pemerintahan, parlemen, hingga lembaga pemeriksa keuangan negara.

Fathan telah memasuki berbagai ruang yang menuntut kemampuan dan tanggung jawab berbeda. Ia tidak hanya berhadapan dengan dinamika politik, tetapi juga dengan persoalan pengelolaan keuangan negara yang membutuhkan ketelitian, integritas, dan akuntabilitas.

BPK memiliki tugas penting dalam menjaga pertanggungjawaban keuangan negara. Di balik setiap laporan pemeriksaan, ada uang rakyat yang harus dipastikan penggunaannya, ada kewajiban institusi untuk bekerja secara transparan, dan ada kepentingan publik yang harus dilindungi.

Fathan baru menjalani sebagian perjalanan amanahnya di lembaga itu ketika maut datang menjemput.

Namun, saya tidak ingin menutup kisahnya hanya dengan daftar jabatan. Karier memang menjelaskan apa yang pernah dikerjakan seseorang, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan bagaimana ia menjalani kehidupan bersama orang lain.

Saya mengenal Fathan ketika ia belum menjadi anggota DPR. Saya berjumpa dengannya ketika ia sudah menjadi anggota DPR. Saya masih berkomunikasi dengannya ketika ia memasuki BPK.

Dalam berbagai tahap itu, ada satu hal yang bagi saya tetap terasa sama: ia masih mau belajar, masih mau berdiskusi, dan masih bisa menjadi sahabat tanpa harus membawa-bawa jabatan.

“Kalau Ini Perintah, Jalankan dengan Sebaik-baiknya”

Saya masih mengingat ketika Fathan meminta pandangan saya menjelang pencalonannya sebagai anggota BPK.

Ia menghubungi saya, berbicara tentang kemungkinan amanah baru yang akan dijalaninya, dan meminta pendapat.

Saya menjawab dengan sederhana: “Kalau ini perintah, jalankan dengan sebaik-baiknya.”

Saya tidak mengatakan bahwa sebuah jabatan harus dikejar dengan segala cara. Yang saya maksudkan adalah, ketika sebuah amanah telah dipercayakan kepada seseorang, ia harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Bagi saya, jabatan bukan semata-mata kehormatan. Ia adalah pekerjaan yang membawa konsekuensi. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawab kepada masyarakat.

Apalagi BPK. Di sana, kepercayaan publik menjadi sesuatu yang sangat mendasar. Pemeriksaan keuangan negara bukan sekadar urusan administratif. Ia berkaitan dengan bagaimana uang yang berasal dari rakyat dikelola, dipertanggungjawabkan, dan digunakan untuk kepentingan bersama.

Fathan menerima amanah tersebut.

Saya tentu tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan pengabdiannya di BPK akan berakhir begitu cepat, bahkan ketika ia sedang menjalankan tugas di luar negeri.

Dalam percakapan kami ketika itu, saya hanya ingin ia menjalankan tanggung jawab dengan baik. Tidak ada yang istimewa dari jawaban tersebut. Itu nasihat sederhana antara dua orang yang telah lama saling mengenal.

Kini, setelah ia tiada, percakapan itu kembali teringat.

Kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang tersedia untuk seseorang menunaikan amanahnya. Kita juga tidak tahu kapan sebuah percakapan biasa akan menjadi percakapan terakhir yang kita kenang.

Yang bisa kita lakukan adalah menjalani setiap amanah sebaik mungkin, selama kesempatan itu masih ada.

Ia Tidak Membeda-bedakan Kelas

Fathan adalah orang yang humble. Hangat. Mudah menyapa. Ia tidak membuat orang merasa harus lebih dahulu melihat jabatan atau kedudukan sebelum berani mendekatinya.

Saya menganggap sifat ini penting, terutama bagi seseorang yang bekerja di lingkungan politik dan pemerintahan.

Di dunia yang semakin bertingkat, manusia sering dinilai berdasarkan apa yang dimilikinya. Jabatan menjadi ukuran kehormatan. Kekayaan menjadi ukuran keberhasilan. Kedekatan dengan kekuasaan menjadi jalan untuk memperoleh perhatian.

Padahal, ada hal yang jauh lebih mendasar: bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika tidak ada keuntungan yang bisa kita peroleh darinya.

Fathan, dalam hubungan saya dengannya, tidak terlalu sibuk membangun batas-batas semacam itu.

Ia bisa menjadi anggota DPR, tetapi tetap mau duduk berdiskusi dengan saya. Ia bisa menjadi anggota BPK, tetapi tetap muncul di grup WhatsApp Sahabat Ketoprak Financial. Ia bisa berada di forum resmi dengan pembicaraan serius tentang kebijakan publik, tetapi juga bisa menjadi Kebo Ijo berbaju merah yang menjadi bahan tertawaan sahabat-sahabatnya.

Ia tidak perlu selalu menjadi pejabat.

Ia bisa menjadi teman.

Dan bagi saya, kemampuan seseorang untuk tetap menjadi teman setelah memperoleh jabatan adalah sesuatu yang layak dihargai.

Sebab, tidak semua orang berhasil melewati perubahan kedudukan tanpa mengubah cara memperlakukan sesamanya.

Fathan meninggalkan kesan bahwa jabatan tidak harus menghapus kehangatan. Bahwa kesibukan tidak harus membuat seseorang berhenti menyapa. Bahwa menjadi bagian dari lembaga negara tidak berarti harus menjauh dari komunitas kecil yang dahulu memberi ruang untuk tertawa bersama.

Sesekali ia masih mengirim pesan WhatsApp. Sesekali ia muncul di grup untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

Pesan-pesan itu pendek. Tidak istimewa. Tetapi justru karena sederhana, ia terasa tulus.

Hari ini, saya menyadari bahwa sapaan yang dahulu kita anggap biasa dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat mahal setelah orang yang mengirimkannya tidak lagi ada.

Dari Moskow, Jakarta, Hingga Demak

Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh Fathan setelah ia berpulang.

Dari Moskow, kota tempat ia mengembuskan napas terakhir ketika sedang menjalankan tugas, jenazahnya dibawa kembali ke Indonesia. Jakarta menjadi tempat persinggahan sebelum ia diantarkan ke Demak, kampung halaman yang menjadi akar kehidupannya.

Perjalanan itu terasa begitu menyedihkan.

Bayangkan, seseorang berangkat ke luar negeri untuk menjalankan tugas negara. Ia mungkin membayangkan akan kembali dengan cerita perjalanan, hasil pekerjaan, atau pengalaman baru. Tetapi takdir menentukan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Kali ini, ia kembali bukan untuk melanjutkan rapat atau menghadiri pertemuan. Ia kembali untuk menempuh perjalanan terakhir menuju rumah.

Dari Moskow ke Jakarta, lalu menuju Demak.

Kita terbiasa menyebut perjalanan dengan jarak, waktu tempuh, dan tujuan. Tetapi perjalanan terakhir seseorang tidak bisa diukur hanya dengan kilometer. Di dalamnya ada kesedihan keluarga yang menanti, ada sahabat-sahabat yang ingin memberikan penghormatan terakhir, dan ada kehidupan yang tiba-tiba berubah karena seseorang tidak akan pernah pulang dengan cara yang sama lagi.

Jakarta menjadi tempat persinggahan terakhir sebelum Demak. Kota tempat Fathan membangun karier, bertemu sahabat, bekerja, dan menghabiskan sebagian besar perjalanan pengabdiannya, menjadi bagian dari perjalanan pulangnya.

Kemudian Demak.

Tanah kelahirannya.

Tempat yang menyimpan jejak masa kecilnya, pendidikan awalnya, dan akar kehidupan yang membawanya hingga ke tingkat nasional.

Di sanalah ia akhirnya dimakamkan.

Ada sesuatu yang menyentuh ketika seseorang yang telah berjalan jauh, menempuh berbagai kota dan jabatan, akhirnya kembali ke tanah tempat semuanya bermula.

Fathan meninggalkan Demak untuk menempuh perjalanan hidup. Ia pergi ke Salatiga untuk pendidikan, menuju Jakarta untuk mengembangkan diri, memasuki organisasi, bekerja, berkiprah di parlemen, dan akhirnya menjadi anggota BPK.

Ia menempuh perjalanan yang panjang.

Namun, pada akhirnya, ia kembali ke Demak.

Kali ini untuk beristirahat.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kepulangan itu tentu tidak menghapus kesedihan. Bagi sahabat-sahabatnya, berita pemakaman tidak membuat kehilangan menjadi lebih mudah diterima.

Kita tahu di mana ia dimakamkan. Kita tahu perjalanan jasadnya telah sampai pada tujuan terakhir. Tetapi kita masih harus belajar menerima bahwa orang yang dahulu bisa kita hubungi kapan saja kini hanya dapat kita temui dalam kenangan dan doa.

Ketika Grup WhatsApp Menjadi Tempat Mengenang

Ada satu hal yang terasa berbeda setelah seseorang meninggal dunia: ruang-ruang komunikasi yang dahulu biasa kita masuki mendadak berubah menjadi tempat mengenang.

Grup WhatsApp Sahabat Ketoprak Financial adalah salah satunya.

Dahulu, Fathan sesekali muncul untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada kawan-kawannya. Pesan itu mungkin hanya beberapa kata. Setelah itu, percakapan kembali berjalan seperti biasa.

Kini, saya membayangkan setiap kali namanya disebut di grup, akan ada sesuatu yang terasa berbeda.

Kami mungkin akan membicarakan pertunjukan berikutnya. Kami mungkin akan mengatur latihan, menentukan lakon, atau membicarakan kegiatan sosial yang akan datang.

Tetapi nama Fathan akan tetap hadir, entah melalui sebuah cerita, foto lama, atau seseorang yang tiba-tiba mengingat bahwa Kebo Ijo pernah salah mengenakan kostum.

Dan kami akan tertawa.

Lalu mungkin terdiam.

Sebab, ada saat ketika kenangan membuat kita tersenyum, tetapi sesaat kemudian mengingatkan bahwa orang yang menjadi bagian dari kenangan itu telah pergi.

Saya tidak tahu apakah kami akan kembali memainkan lakon yang sama. Saya tidak tahu apakah suatu hari seseorang akan mengenakan kostum Kebo Ijo dengan baju merah lagi.

Tetapi saya tahu satu hal: cerita itu tidak akan mudah hilang.

Bukan karena kesalahan kostumnya begitu penting. Melainkan karena cerita tersebut mengingatkan kami pada Fathan sebagai manusia yang dekat, hangat, dan bersedia menjadi bagian dari kegembiraan bersama.

Kematian sering membuat kita menyadari bahwa warisan seseorang tidak selalu berupa gedung, jabatan, atau keputusan besar. Ada pula warisan yang tidak berbentuk benda: kebiasaan menyapa, keberanian untuk belajar, dan kemampuan membuat orang lain merasa diterima.

Fathan meninggalkan jejak semacam itu dalam kehidupan saya.

Selamat Jalan, Kebo Ijo

Fathan, sahabatku.

Saya tidak tahu apakah ada cara yang benar-benar tepat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang selama bertahun-tahun pernah menjadi bagian dari perjalanan kita.

Kita bisa menyusun riwayat kariermu. Kita bisa mencatat jabatan-jabatan yang pernah kamu emban. Kita bisa menyebut pengabdianmu di PMII, parlemen, dan BPK. Kita bisa menulis bahwa kamu adalah putra Demak yang menempuh perjalanan panjang hingga menjadi pejabat negara.

Semua itu benar.

Tetapi saya ingin mengenangmu dengan cara yang lebih sederhana.

Saya ingin mengingatmu sebagai orang yang dahulu menjadi penyelenggara acara ketika saya datang sebagai pembicara. Sebagai anggota DPR yang tetap mau berdiskusi. Sebagai sahabat yang meminta pandangan ketika hendak maju menjadi anggota BPK. Sebagai orang yang tidak membedakan kelas, yang hangat menyapa, dan yang sesekali mengirim pesan ulang tahun di grup WhatsApp.

Dan tentu saja, sebagai Kebo Ijo berbaju merah.

Empat kali kamu pernah manggung bersama kami. Empat kali kamu memilih meluangkan waktu untuk menjadi bagian dari keluarga kecil yang mencoba menggunakan seni pertunjukan untuk kegiatan sosial. Kamu mungkin tidak selalu sempat berlatih, tetapi semangatmu untuk ikut bermain tidak pernah terasa kecil.

Kini, panggung itu akan terus berjalan tanpa kehadiranmu.

Kami akan tetap berkumpul. Kami akan tetap berlatih. Kami akan tetap memainkan lakon-lakon yang menjadi bagian dari tradisi kami. Mungkin suatu hari, di sela-sela latihan, seseorang akan mengingatkan kawan-kawannya tentang Kebo Ijo yang bajunya abang.

Lalu kami tertawa.

Tetapi setelah tawa itu reda, akan ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Sebab, persahabatan bukanlah peran yang bisa digantikan begitu saja oleh pemain lain. Setiap orang membawa cerita, watak, dan kenangannya sendiri. Ketika ia pergi, sebagian dari perjalanan bersama itu ikut berubah selamanya.

Selamat jalan, Fathan.

Dari Moskow, kamu telah menempuh perjalanan pulang ke Jakarta, lalu kembali ke Demak. Perjalanan jasadmu telah sampai pada tempat peristirahatan terakhir. Sementara kami yang masih tinggal akan meneruskan perjalanan masing-masing, membawa kenangan tentangmu.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Semoga seluruh sahabat yang mengenalmu dapat menerima kepergianmu dengan hati yang lapang, meskipun kehilangan ini tidak akan mudah.

Fathan, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kami.

Terima kasih telah menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi pejabat negara tanpa kehilangan kerendahan hati. Bahwa seseorang bisa berada di tengah kesibukan politik dan pemerintahan tanpa melupakan sahabat-sahabatnya. Bahwa seseorang bisa menjalani tugas-tugas besar, tetapi tetap bersedia melakukan hal sederhana: hadir, menyapa, dan tertawa bersama.

Kamu telah pergi, tetapi cerita tentangmu tidak ikut pergi.

Terutama cerita tentang Kebo Ijo yang bajunya abang. Semua tertawa, kau Fathan juga ketawa lebar. Lalu, banyak pemain yang lupa dialog karena semua ketawa.

Selamat jalan, sahabat. Selamat jalan, Kebo Ijo.

Panggung kehidupanmu telah usai. Lampunya telah padam. Tetapi tawa dan kenanganmu akan tetap tinggal di antara kami.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Rancamaya, 27 Oktober 2026

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.