Penghambaan dan Yang Dihambakan Beraib Besar di Balik Kekacauan Negeri
Oleh Yazid Bindar, Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung.
KESETIAAN membutakan akal sehat. Bayang-bayang kekuasaan terus bekerja. Ketakutan terhadap terbukanya aib mengendalikan tindakan.
Tragedi Penghambaan Manusia kepada Manusia
Ada sebuah tragedi yang sangat menyedihkan ketika seorang manusia bersedia melakukan tindakan yang berada di luar batas kewajaran akal sehat hanya demi melindungi manusia lain yang selama ini menjadi tempatnya menghambakan diri.
Tindakan yang sangat tragis tersebut bukan sekadar memperlihatkan kesetiaan seseorang kepada orang lain, melainkan dapat menjadi petunjuk adanya hubungan ketergantungan personal yang jauh lebih dalam daripada hubungan profesional, organisatoris, ataupun hubungan kewenangan biasa.
Seseorang yang seharusnya memiliki kemerdekaan berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab moral atas tindakannya sendiri justru seolah kehilangan seluruh kemampuan tersebut ketika berhadapan dengan kehendak manusia yang selama ini menjadi pusat pengabdiannya.
Hal yang membuat keadaan ini semakin menyedihkan adalah ketika tindakan tersebut dilakukan untuk melindungi kepentingan seseorang yang sebenarnya sudah tidak lagi berada dalam kekuasaan formal. Orang yang dahulu berada di puncak kekuasaan itu mungkin sudah kehilangan jabatan dan kewenangan konstitusionalnya.
Namun, pengaruh personal, jaringan loyalitas, hubungan kepentingan, dan orang-orang yang selama ini berada dalam lingkaran kendalinya mungkin masih tetap ada. Dengan demikian, berakhirnya kekuasaan formal ternyata tidak selalu berarti berakhirnya pengaruh seseorang terhadap orang-orang yang pernah berada di sekelilingnya. Di sinilah muncul persoalan yang patut direnungkan.
Apakah sebuah negeri benar-benar sudah terbebas dari pengaruh kekuasaan lama, apabila orang-orang yang dahulu berada dalam lingkarannya masih bersedia melakukan apa saja demi melindungi kepentingan pribadi orang tersebut?
Ketika Kesetiaan Mengalahkan Akal Sehat
Dalam kehidupan yang normal, kesetiaan kepada seseorang seharusnya memiliki batas moral dan hukum. Seseorang boleh menghormati orang yang pernah memberikan kesempatan, jabatan, kepercayaan, ataupun kedudukan kepadanya. Namun, penghormatan tersebut tidak boleh berubah menjadi kepatuhan tanpa batas.
Tidak ada manusia yang memiliki hak untuk meminta manusia lainnya mengorbankan akal sehat, kehormatan, dan tanggung jawab hukumnya. Apalagi apabila tindakan yang dilakukan berpotensi merugikan masyarakat, mencederai institusi negara, atau merusak kepercayaan publik.
Ketika seseorang bersedia melakukan tindakan yang tidak masuk akal demi melindungi kepentingan orang lain, kita patut mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik hubungan tersebut. Apakah ia sedang menjalankan sebuah perintah? Apakah ia sedang berusaha membayar utang budi? Apakah ada ketergantungan kepentingan yang membuatnya tidak lagi berani mengambil keputusan sendiri? Ataukah terdapat sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang berusaha dilindungi?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena tindakan seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Terkadang, justru tindakan yang paling tidak masuk akal dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri hubungan dan kepentingan yang selama ini tidak terlihat oleh masyarakat.
Bayang-Bayang Kekuasaan yang Belum Berakhir
Kekuasaan formal memang memiliki batas waktu, tetapi pengaruh personal dapat bertahan jauh lebih lama. Seseorang yang pernah berada di puncak kekuasaan mungkin masih memiliki hubungan dengan berbagai orang yang dahulu mendapatkan kedudukan, kesempatan, dan keuntungan melalui lingkaran kekuasaannya.
Hubungan tersebut dapat terus berlangsung meskipun struktur pemerintahan telah berganti. Sebagian orang mungkin tetap merasa memiliki kewajiban untuk melindungi sosok yang dahulu menjadi pusat kekuasaan mereka.
Keadaan ini dapat menciptakan sebuah fenomena yang berbahaya bagi kehidupan bernegara, yaitu munculnya bayang-bayang kekuasaan di luar struktur kewenangan formal. Secara administratif, seseorang sudah tidak lagi memegang jabatan. Namun, secara personal, ia mungkin masih memiliki pengaruh terhadap orang-orang tertentu.
Apabila pengaruh tersebut digunakan untuk kepentingan yang bertentangan dengan hukum dan kepentingan publik, maka persoalannya menjadi serius. Negara seolah memiliki dua ruang kekuasaan, yaitu kekuasaan formal yang bekerja berdasarkan konstitusi dan jaringan pengaruh personal yang bergerak berdasarkan loyalitas serta kepentingan tersembunyi.
Ketakutan terhadap Terbukanya Aib Besar
Ada kemungkinan seseorang yang telah kehilangan kekuasaan sedang menghadapi tekanan yang sangat berat terhadap perjalanan hidup dan kehormatan dirinya. Selama berada di puncak kekuasaan, ia mungkin memiliki banyak instrumen untuk mengendalikan keadaan. Ia memiliki kewenangan, akses terhadap informasi, jaringan komunikasi, serta kemampuan memengaruhi berbagai keputusan.
Namun, ketika kekuasaan itu tidak lagi berada di tangannya, situasi berubah. Keputusan-keputusan masa lalu dapat mulai diperiksa, berbagai pertanyaan publik dapat muncul kembali, dan persoalan yang sebelumnya tidak mendapatkan penjelasan dapat kembali menjadi perhatian masyarakat.
Apabila memang terdapat aib besar atau persoalan serius yang belum pernah dijelaskan secara tuntas, kemungkinan terbongkarnya persoalan tersebut dapat menjadi tekanan yang luar biasa. Terlebih apabila konsekuensinya bukan sekadar kerusakan reputasi, melainkan juga berpotensi mengakhiri perjalanan politik, sosial, dan kehormatan seseorang di ruang publik.
Dalam keadaan demikian, ketakutan terhadap masa lalu dapat menjadi sesuatu yang sangat dominan. Seseorang mungkin tidak lagi sibuk memikirkan bagaimana memberikan penjelasan yang benar kepada masyarakat, tetapi justru lebih sibuk memikirkan bagaimana agar persoalan tersebut tidak pernah terbuka.
Menutupi Masa Lalu dengan Mengendalikan Masa Kini
Salah satu persoalan yang patut diperhatikan adalah kemungkinan munculnya upaya mempertahankan pengaruh setelah seseorang kehilangan kekuasaan formal. Ketika terdapat persoalan masa lalu yang berpotensi terbuka, jaringan loyalitas personal dapat menjadi salah satu instrumen perlindungan.
Orang-orang yang masih memiliki hubungan kepentingan dengannya mungkin merasa perlu terus menjaga, membela, atau mengamankan sosok tersebut dari berbagai kemungkinan yang dianggap mengancam.
Upaya perlindungan seperti ini, apabila benar terjadi, dapat mengambil berbagai bentuk. Informasi yang seharusnya dibuka mungkin tidak disampaikan secara utuh. Pertanyaan yang seharusnya dijawab dapat dialihkan kepada persoalan lain. Orang-orang yang mengetahui fakta mungkin menghadapi tekanan. Bahkan, perhatian masyarakat dapat diarahkan kepada berbagai kontroversi baru sehingga persoalan utama kehilangan ruang untuk diperiksa.
Namun, semua kemungkinan tersebut harus ditelusuri berdasarkan bukti. Jangan sampai dugaan dianggap sebagai fakta. Justru karena persoalannya menyangkut kepentingan publik, setiap indikasi harus diperiksa secara objektif dan tidak boleh dihentikan hanya karena ada seseorang yang pernah memiliki kedudukan tinggi.
Para Pengikut yang Masih Berada dalam Lingkaran Penghambaan
Tragedi berikutnya terletak pada orang-orang yang masih berada dalam lingkaran penghambaan tersebut. Mereka mungkin sudah mengetahui bahwa sosok yang selama ini mereka lindungi tidak lagi memiliki kekuasaan formal.
Namun, hubungan ketergantungan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun membuat mereka tetap merasa harus memberikan perlindungan. Mereka mungkin menganggap bahwa kesetiaan kepada sosok tersebut merupakan kewajiban yang tidak boleh berakhir hanya karena jabatan telah berganti.
Pada titik tertentu, kesetiaan personal dapat berubah menjadi sebuah perangkap. Mereka mungkin bersedia melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri. Mereka dapat mengorbankan reputasi, kedudukan, masa depan, bahkan kebebasan pribadinya demi kepentingan seseorang yang belum tentu akan memberikan perlindungan yang sama kepada mereka. Inilah sisi paling tragis dari penghambaan.
Seseorang merasa sedang menunjukkan kesetiaan tertinggi, padahal sesungguhnya sedang menyerahkan kemerdekaan dirinya kepada kepentingan orang lain. Ia tidak lagi bertanya apakah tindakan yang dilakukannya benar, tetapi hanya bertanya apakah tindakan tersebut dapat menyelamatkan orang yang selama ini menjadi pusat pengabdiannya.
Petunjuk untuk Menemukan Aktor di Balik Kekacauan
Tindakan yang berada di luar nalar masyarakat dapat menjadi petunjuk penting untuk memahami persoalan yang lebih besar. Apabila seseorang mengambil risiko yang sangat besar demi melakukan sesuatu yang kontroversial, wajar apabila publik mempertanyakan kepentingan apa yang sedang diperjuangkannya. Siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat? Siapa yang sedang dilindungi? Siapa yang memiliki kepentingan agar suatu persoalan tidak terbuka? Dan apakah terdapat hubungan antara tindakan tersebut dengan seseorang yang selama ini memiliki pengaruh terhadap dirinya?
Pertanyaan tersebut harus menjadi dasar penelusuran yang lebih mendalam. Jangan hanya berhenti pada orang yang terlihat melakukan tindakan. Perlu diperiksa pula kemungkinan adanya hubungan komunikasi, kepentingan, koordinasi, dan pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari rangkaian peristiwa tersebut. Jika terdapat bukti bahwa tindakan tertentu merupakan bagian dari sebuah upaya terorganisasi, maka pemeriksaan tidak boleh berhenti pada pelaksana di lapangan.
Tanggung jawab harus ditelusuri sampai kepada siapa pun yang terbukti memberikan arahan, mengendalikan, atau memperoleh manfaat dari tindakan tersebut. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui siapa yang melakukan, tetapi juga memahami siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab.
Kekuasaan yang Kehilangan Kendali atas Dirinya Sendiri
Ada sebuah ironi dalam perjalanan manusia yang pernah berada di puncak kekuasaan. Ketika berkuasa, ia mungkin merasa dapat mengendalikan banyak hal, termasuk orang-orang dan berbagai keadaan di sekelilingnya.
Namun, setelah kekuasaan berakhir, ia justru dapat menghadapi ketidakberdayaan dalam menghadapi masa lalunya sendiri. Hal-hal yang dahulu dapat dikendalikan melalui kewenangan tidak lagi mudah dikendalikan.
Orang-orang yang dahulu memberikan dukungan mungkin mulai mengambil jarak. Berbagai keputusan lama dapat kembali dipertanyakan. Dan persoalan yang selama ini tidak terselesaikan dapat muncul sebagai beban yang terus mengikuti perjalanan hidupnya.
Apabila seseorang terus berusaha mempertahankan pengaruh demi menghindari terbukanya persoalan masa lalu, ia berpotensi terjebak dalam lingkaran ketakutan yang semakin besar. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia membelanya, sementara orang-orang tersebut membutuhkan keyakinan bahwa kesetiaan mereka masih memiliki nilai.
Akibatnya, hubungan yang seharusnya telah selesai bersama berakhirnya masa kekuasaan justru terus dipertahankan. Bukan lagi untuk membangun kepentingan negara, melainkan karena kemungkinan adanya kepentingan pribadi yang tidak ingin kehilangan perlindungan. Pada akhirnya, seseorang dapat menjadi tawanan dari keputusan-keputusan masa lalunya sendiri.
Negara Tidak Boleh Menjadi Korban Penghambaan
Negara tidak boleh menjadi korban dari hubungan penghambaan antara manusia dengan manusia lainnya. Setiap orang memiliki hak untuk dihormati, tetapi tidak seorang pun memiliki hak untuk menempatkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan negara. Orang yang pernah memiliki kekuasaan tetap mempunyai hak sebagai warga negara, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan institusi publik di luar ketentuan hukum. Demikian pula orang-orang yang pernah berada dalam lingkaran kekuasaannya tidak memiliki kewajiban untuk terus melindungi kepentingan pribadinya.
Institusi negara harus berdiri di atas prinsip independensi, profesionalitas, dan supremasi hukum. Apabila terdapat indikasi bahwa suatu tindakan dilakukan untuk melindungi persoalan pribadi seseorang, maka aparat penegak hukum harus berani menelusurinya. Tidak boleh ada pihak yang kebal dari pemeriksaan karena kedudukan masa lalunya. Tidak boleh pula ada orang yang dikorbankan untuk menutupi tanggung jawab pihak lain. Semua harus diperiksa berdasarkan bukti, tanpa pandang bulu dan tanpa intervensi kepentingan politik.
Kebenaran Tidak Boleh Kalah oleh Penghambaan
Pada akhirnya, tragedi paling besar bukan sekadar tindakan seseorang yang berada di luar nalar demi melindungi orang lain. Tragedi yang sesungguhnya adalah ketika manusia kehilangan kemerdekaan berpikirnya karena terlalu dalam menghambakan diri kepada manusia lainnya. Ia lupa bahwa jabatan dapat berakhir, kekuasaan dapat berpindah, dan hubungan kepentingan dapat berubah. Namun, pertanggungjawaban atas setiap tindakan tidak pernah hilang hanya karena seseorang sudah tidak lagi memiliki kekuasaan.
Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang berani berpikir merdeka. Orang-orang yang tidak menjadikan kesetiaan personal sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan. Orang-orang yang tidak takut menolak perintah apabila bertentangan dengan hukum dan kepentingan negara. Dan terutama, aparatur yang memahami bahwa pengabdian tertinggi bukan kepada seseorang yang pernah memberikan jabatan, melainkan kepada rakyat dan negara.
Jika benar terdapat jaringan penghambaan yang masih bergerak untuk melindungi kepentingan seseorang yang telah kehilangan kekuasaan, maka persoalan tersebut harus dibuka melalui pemeriksaan yang independen. Siapa pun yang terlibat harus bertanggung jawab sesuai bukti dan hukum. Tidak boleh ada kebenaran yang dikorbankan demi kehormatan seseorang. Tidak boleh ada masa depan bangsa yang dipertaruhkan demi menyelamatkan aib pribadi.
Kekuasaan boleh berakhir, tetapi pengaruh tersembunyi tidak boleh dibiarkan mengendalikan negara. Kesetiaan boleh diberikan kepada manusia, tetapi akal sehat dan kebenaran tidak boleh diperhambakan.
Sebab, ketika seseorang bersedia melakukan apa saja demi melindungi manusia lain, sementara manusia yang dilindunginya terus dibayangi ketakutan terhadap terbukanya masa lalu, masyarakat berhak mengajukan satu pertanyaan besar: Siapa sesungguhnya yang sedang dilindungi, apa yang sedang ditutupi, dan siapa yang sebenarnya berada di balik kekacauan negeri ini?

