Gimin Sumalim, Presdir Bank Index Selindo: Merawat Benih Kepemimpinan di Tengah Perubahan

Seperti merawat tanaman, kepemimpinan membutuhkan kesabaran untuk menumbuhkan potensi dan kepercayaan untuk membawa organisasi terus berkembang.

Begitulah prinsip yang selalu dipegang oleh sosok pemimpin ini.

BAGI Gimin Sumalim, Presiden Direktur Bank Index Selindo, memimpin bukan sekadar menentukan arah dan memastikan roda organisasi terus berputar.

AP HEADER

Ada kepercayaan yang harus dirawat, potensi yang perlu ditumbuhkan, dan nilai-nilai yang mesti dijaga di tengah perubahan. Filosofi itu pula yang dipegangnya dalam memimpin Bank Index Selindo.

Bagi beliau, seorang pemimpin tak harus selalu berdiri di depan untuk memberi perintah, tetapi juga perlu berjalan bersama timnya, mendengar, berdialog, dan memberi teladan.

“Kepemimpinan hari ini bukan lagi soal memberi instruksi, tapi bagaimana menjadi sumber inspirasi,” ujarnya, kepada The Asian Post, beberapa waktu lalu.

Pandangan tersebut terbentuk dari perjalanan panjang beliau di industri perbankan selama lebih dari tiga dekade. Menariknya, dunia perbankan bukanlah bidang yang sejak awal ia rencanakan untuk ditekuni.

Lulusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti ini justru mengawali kariernya di dunia profesional ketika bergabung dengan Bank Bali (kini Bank Permata) melalui Officer Development Program pada 1992.

Dari situlah perjalanan profesionalnya dimulai, membawanya menapaki berbagai peran dan menghadapi beragam dinamika industri.

Setelah berkiprah di Bank Bali, Gimin melanjutkan perjalanan kariernya di Bank Ekonomi Raharja.

Baca Juga...

Di sana, ia menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari Relationship Manager hingga Direktur Retail Banking.

Pengalaman tersebut mengasah pemahamannya terhadap bisnis sekaligus membentuk cara pandangnya dalam memimpin.

Konsistensi dan integritas yang dijaganya sepanjang perjalanan karier akhirnya mengantarkannya ke posisi Presiden Direktur Bank Index Selindo pada 2017.

Di tengah kesibukannya memimpin Bank Index Selindo, Gimin juga terus mengembangkan kapasitas diri melalui pendidikan.

Ia berhasil meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari National University of Singapore (NUS).

Baginya, proses belajar merupakan bagian penting dari kepemimpinan, terutama untuk memperluas perspektif dan menghadapi dinamika industri yang terus berubah.

Bagi Gimin, pengalaman panjang itu mengajarkan bahwa organisasi tidak bisa bertumbuh hanya dengan mengandalkan arahan dari pucuk pimpinan.

Dibutuhkan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan mengembangkan kemampuannya.

Karena itu, ia menerapkan gaya kepemimpinan yang kolaboratif, adaptif, dan visioner, dengan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk berpendapat dan berinovasi.

Ia percaya, gagasan segar dari generasi muda dapat menjadi energi baru bagi organisasi.

Tugas seorang pemimpin bukan membatasi ruang gerak mereka, melainkan mengarahkan berbagai potensi agar tumbuh dan bergerak menuju visi yang sama.

“Pemimpin yang baik adalah yang mampu menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru,” katanya.

Di samping kolaborasi, integritas dan orientasi kepada nasabah menjadi landasan bagi Gimin dalam mengambil keputusan.

Ia meyakini bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar atau penerapan teknologi yang canggih.

Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten pun dapat menghasilkan perbaikan berarti, selama berangkat dari kebutuhan dan keinginan untuk memberikan manfaat kepada nasabah.

Prinsip tersebut berusaha ia terapkan di seluruh lini Bank Index Selindo, termasuk dengan membangun lingkungan kerja yang terbuka.

Dengan begitu, setiap karyawan memiliki kesempatan untuk menyampaikan ide tanpa dibayangi ketakutan akan kesalahan.

“Inovasi tak selalu besar. Kadang dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten,” tuturnya.

Meski demikian, memimpin organisasi di tengah perubahan bukan perkara mudah.

Gimin menyadari bahwa menjaga keseimbangan antara stabilitas dan kebutuhan untuk terus beradaptasi merupakan tantangan tersendiri.

Dalam situasi seperti itu, ia menempatkan fighting spirit dan semangat pantang menyerah sebagai modal penting bagi keberlanjutan organisasi.

Baginya, tantangan dan krisis bukan semata-mata hambatan, melainkan kesempatan untuk belajar, menyesuaikan diri, dan mengambil keputusan dengan lebih matang.

“Saya belajar bahwa setiap krisis mengajarkan kita tentang fleksibilitas, ketenangan, dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya.

Cara Gimin menghadapi tekanan juga tidak terlepas dari nilai-nilai yang ia pelajari sejak kecil.

Tumbuh di Sumatera, di tengah hamparan perkebunan, ia menyaksikan bagaimana para pekerja kebun menjalani hari dengan disiplin dan kerja keras, bahkan sebelum matahari terbit.

Sementara itu, pepohonan yang tetap tegak menghadapi hujan memberinya gambaran tentang keteguhan dan ketenangan.

Nilai-nilai tersebut terbawa hingga ke ruang kerjanya.

Gimin berusaha menjadi pemimpin yang tegas tanpa harus meluapkan amarah, tetap rasional ketika menghadapi tekanan, serta lebih memilih mencari jalan keluar daripada sibuk menyalahkan.

“Bekerja profesional tak perlu marah. Semua tantangan pasti ada jalan keluarnya,” ujarnya.

Selain itu, di luar kesibukan memimpin bank, Gimin memiliki cara sederhana untuk menjaga keseimbangan diri.

Setiap pagi dan malam, ia menyempatkan diri bermeditasi selama 15-20 menit.

Kebiasaan itu menjadi ruang untuk menenangkan pikiran di tengah padatnya aktivitas.

Pada akhir pekan, ia juga menikmati waktu berkebun di halaman rumah, menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari sawi, tomat, kangkung, dan kunyit hingga belimbing.

“Berkebun mengajarkan kesabaran. Tak ada hasil instan, tapi kalau dirawat dengan hati, semuanya akan tumbuh,” pungkasnya. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.