ALAM BERPIKIR RAJA-RAJA JAWA 

Oleh Karnoto Mohamad

BANGSA Indonesia telah banyak mengalami jatuh bangun. Entah pada zaman kerajaan, kolonial Belanda, bahkan di era kemerdekaan. Lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang tak serta merta bangun dari jurang penderitaan dan membuat rakyat bisa hidup bebas merdeka.

Sebab, kemerdekaan bukan cuma soal bebas dari penjajahan fisik dan penindasan saja. Tapi seharusnya bebas dari kemiskinan dan kebodohan sebagai hakekat kemerdekaan seperti diinginkan Tan Malaka, salah seorang pejuang kemerdekaan.

Karena kejayaan dan kemerdekaan tak dinikmati secara merata, itulah mengapa sejarah kekuasaan di nusantara selalu dibumbuhi oleh ketidakpuasan dan pemberontakan. Mulai dari pembrontakan Trunojoyo atas tindakan sewenang-wenang Raja Mataram Amangkurat1 yang berkomplot dengan VOC.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro kepada pemerintah Hindia Belanda atas pajak yang menindas dan pemasangan patok jalan di atas makam leluhur Diponegoro. Dan di era kemerdekaan ada pemberontakan DI/TII, PRRI Permesta, hingga RMS, akibat ketidakpuasan kepada pemerintah RI.

Itu pula yang mempengaruhi alam berpikir raja-raja nusantara. Berusaha memegang kendali sepenuhnya. Karena penuh curiga dan trauma terhadap pemberontakan.

Seperti kisah kerajaan di Jawa yang penuh dengan kisah-kisah penaklukan. Ketidakpuasan. Pembangkangan. Pemberontakan. Penggulingan kekuasaan.

Mulai dari Raden Patah yang menenggelamkan Raja terakhir Majapahit. Arya Penangsang versus Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Raja Pajang. Jaka Tingkir menjadi lawan Panembahan Senopati yang mendirikan Imperium Mataram Islam, sekaligus menenggelamkan Pajang.

Ketika berkuasa, Panembahan Senopati memerintahkan penaklukan daerah-daerah lain.

Ada dua motivasinya. Satu, tidak ingin ada daerah yang kuat dan menjadi lawan. Dua, nostalgia untuk mengulangi kebesaran majapahit. Sultan Agung sang penerus berhasil mewujudkan motivasi tersebut, kendati banyak rintangan karena kehadiran VOC yang kian bercokol di Jawa.

Sepeninggal Sultan Agung, Mataram Islam pelan-pelan surut dan terpecah belah.

Bukan semata-mata karena VOC melakukan politik devide at impera. Tapi karena raja-raja penerus Sultan Agung yang lemah dalam kepemimpinan sehingga muncul konflik, ketidakpuasan, dan pemberontakan, yang akhirnya dimanfaatkan VOC.

Contohnya, Amangkurat 1, yang kepemimpinannya tak sekuat sang ayah, Sultan Agung, yang berani membuat kocar-kacir pemerintahan Batavia. Amangkurat I bersikap lunak dan berhati lemah. Dia berteman dengan VOC untuk melawan pemberontakan Trunojoyo.

Karena lemah dan takut kekuasaannya digoyang, Amangkurat juga menjadi pemimpin yang otoriter dan kejam, seperti dalam catatan Rijklof van Goens, utusan VOC untuk Mataram.

Raja Mataram ini pernah membantai 6.000 ulama beserta keluarganya di alun-alun Plered gara-gara dianggap mengancam takhta.

Amangkurat II pun tak jauh berbeda. Dia harus meminta bantuan VOC untuk menumpas pembrontakan Trunojoyo dan meraih dukungan untuk naik tahta.

Hubungan “dua kaki” berlanjut termasuk pada periode perebutan kekuasaan antara Amangkurat III dan Pangeran Puger yang penuh dengan campur tangan VOC.

Konflik perebutan tahta dan intrik politik terus mewarnai pemerintahan raja-raja yang lemah dan lebih berorientasi kepada kekuasaan meskipun harus berdamai dengan penjajah. VOC dianggap sebagai teman untuk membantu menaklukan pembrontak dan lawan-lawan politik.  

Setelah naik tahta, raja-raja Mataram penerus Sultan Agung umumnya juga menerapkan sentralisasi untuk membawa stabilitas jangka panjang di wilayah Pulau Jawa yang luas namun terus berusaha dirusak oleh pemberontakan yang tak kunjung padam.

Namun, mereka juga mudah dipengaruhi. Seperti Amangkurat I yang tega membunuh adiknya sendiri, Pangeran Alit, gara-gara ada kabar dia akan membangkang. Juga, pembantaian 6.000 ulama gara-gara mereka diberitakan ikut mendukung Pangeran Alit.

Dari kisah singkat raja-raja jawa di atas, bisa diketahui perbedaan pemimpin yang kuat dan pemimpin yang lemah. Ada pemimpin yang pemberani dan pemimpin yang penakut. Pemimpin pemberani tidak takut kepada pihak yang lebih kuat.

Contohnya keberanian Sultan Agung yang meskipun kekuatan pasukannya masih kalah dari pemerintahan Batavia, tapi karena ambisinya mempersatukan nusantara dia berani mengusir VOC yang mengancam kedaulatan Mataram.

Tapi pemimpin bermental lemah cenderung menjadi penakut. Dia kelihatan pemberani kalau menghadapi pihak yang lebih lemah dan tidak seimbang. Tapi akan menjadi penurut kalau menghadapi pihak atau lawan yang lebih kuat.

Contohnya Amangkurat I yang memegang kekuasaan penuh di Kasultanan Mataram tapi mental lemahnya membuatnya merasa harus menyingkirkan pihak-pihak yang mungkin bisa menggoyang tahtanya. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.