Asa BBM Satu Harga di Aboy-Batom: Pemkab Pegubin Percepat Pembangunan Fasilitas Pertamina
Highlight:
- Pemkab Pegunungan Bintang mendorong Pertamina membangun fasilitas BBM di Distrik Aboy dan Batom untuk menekan tingginya harga BBM.
- Fasilitas BBM di wilayah utara Pegunungan Bintang diharapkan memperluas akses energi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat.
- Pengalaman PT Sapujagad Artha Wijaya dalam distribusi BBM melalui transportasi udara dan laut menjadi bagian dari tantangan logistik energi di wilayah terpenci
Jakarta— Harga bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat di wilayah utara Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
Jarak, kondisi geografis, dan sulitnya jalur transportasi membuat biaya mendapatkan BBM jauh lebih berat dibandingkan wilayah yang memiliki akses distribusi lebih mudah.
Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang mempercepat upaya menghadirkan fasilitas Pertamina di Distrik Aboy dan Distrik Batom. Kehadiran fasilitas ini diharapkan membuat BBM lebih mudah diperoleh dan mendekatkan masyarakat pada harga yang mengikuti standar nasional.
Menyikapi masalah itu, Wakil Bupati Pegunungan Bintang, Arnold Nam, bersama Sales Branch Manager Papua Pegunungan PT Pertamina Patra Niaga, Andre Hauzan Tafdila, meninjau sejumlah titik yang dipersiapkan untuk pembangunan fasilitas Pertamina di Aboy dan Batom, Kamis (27/8). Peninjauan turut melibatkan tokoh masyarakat, tokoh gereja, pemerintah distrik, aparat keamanan, anggota DPRD, serta masyarakat setempat.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan lokasi sekaligus melihat kebutuhan riil masyarakat terhadap pasokan BBM.
Bagi wilayah seperti Aboy dan Batom, keberadaan titik distribusi energi memiliki arti lebih besar karena BBM berkaitan langsung dengan mobilitas warga dan aktivitas ekonomi.
“Selama ini masyarakat harus membeli bensin dengan harga yang sangat tinggi. Karena itu, kami ingin Pertamina hadir di sana agar masyarakat lebih mudah mendapatkan BBM dengan harga yang mengikuti standar nasional,” ujar Arnold.
Arnold mengatakan, pemerintah daerah telah mendapatkan titik lokasi yang dipersiapkan untuk pembangunan fasilitas Pertamina di kedua distrik tersebut.
Menurutnya, keberadaan fasilitas itu akan memberikan dampak langsung karena masyarakat tidak perlu menanggung beban distribusi yang terlalu besar hanya untuk mendapatkan kebutuhan energi sehari-hari.
Pembangunan fasilitas Pertamina di Aboy dan Batom dipandang bukan sekadar penambahan titik penjualan BBM. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya memperpendek rantai distribusi energi sekaligus membuka akses yang lebih dekat bagi masyarakat di wilayah utara Pegunungan Bintang.
“Kami ingin pembangunan ini benar-benar dirasakan masyarakat. Pertamina harus hadir di distrik dan kampung-kampung sehingga masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan BBM,” bebernya.
Tantangan tersebut juga memperlihatkan pentingnya dukungan perusahaan penyedia jasa logistik energi yang memahami karakter distribusi di wilayah terpencil. Salah satunya PT Sapujagad Artha Wijaya (SAW), yang mengembangkan bisnis dari fabrikasi Pertashop dan pembangunan SPBU Pertamina hingga masuk ke sektor transportasi BBM menggunakan pesawat dan kapal laut.
Pengalaman SAW menunjukkan bahwa distribusi BBM ke wilayah pedalaman membutuhkan kemampuan operasional yang tidak sederhana. Pengiriman harus menyesuaikan kondisi geografis, pilihan moda transportasi, aspek keselamatan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat.
Rantai logistik semacam itu menjadi penting untuk memastikan BBM dapat bergerak dari sumber pasokan menuju masyarakat secara cepat dan terpercaya.
Selain memenuhi kebutuhan masyarakat Aboy dan Batom, Arnold melihat potensi fasilitas tersebut untuk memperkuat distribusi menuju wilayah lain. Jalur transportasi sungai menjadi salah satu opsi yang dapat dikembangkan, termasuk rute Sungai Saupker, Ipau hingga Jayapura.
Potensi ini membuat pembangunan fasilitas BBM memiliki arti lebih luas. Titik distribusi di Aboy dan Batom tidak hanya diproyeksikan untuk menjawab kebutuhan dua distrik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari jaringan distribusi energi yang menjangkau kawasan lain dengan karakter geografis serupa.
Pemerataan Akses Energi
Arnold menyatakan akan terus mendorong pemerataan pembangunan dan pelayanan hingga wilayah terpencil. Ia berharap dukungan Pertamina, pemerintah distrik, masyarakat, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat mempercepat realisasi fasilitas tersebut.
Menurutnya, pembangunan yang dibutuhkan masyarakat harus diterjemahkan menjadi fasilitas yang benar-benar dapat digunakan, bukan berhenti pada rencana.
“Harapan saya, di mana pun ada distrik dan kampung, pembangunan harus hadir di sana. Masyarakat setempat harus merasakan langsung manfaat pembangunan, bukan hanya mendengar namanya,” terang Arnold.

BBM dan Aktivitas Ekonomi
Akses BBM yang lebih mudah juga berkaitan erat dengan pergerakan ekonomi masyarakat. Ketersediaan energi memengaruhi mobilitas, perdagangan, transportasi, pendidikan, hingga pelayanan publik yang membutuhkan dukungan kendaraan dan sarana operasional.
Arnold mengapresiasi masyarakat yang telah mendukung rencana pembangunan fasilitas Pertamina di Aboy dan Batom. Dukungan itu menjadi modal penting karena pembangunan fasilitas energi di daerah terpencil membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Mulai dari pemerintah hingga masyarakat di sekitar lokasi.
Pembangunan fasilitas Pertamina di dua distrik ini pun diharapkan menjadi langkah konkret untuk memangkas hambatan distribusi sekaligus memperluas manfaat program energi pemerintah.
“Ini semua untuk memudahkan aktivitas masyarakat dan membuka akses pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah utara Pegunungan Bintang,” pungkasnya. (*)

