Bank Jangan Berlomba Bangun Model AI Terbesar, Tapi Platform AI yang Paling Dipercaya
Highlights:
- Transformasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri perbankan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu membangun platform AI yang paling terbuka, terpercaya, dan terintegrasi.
- Terdapat lima perubahan besar yang kini sedang membentuk industri AI global, yakni pemilihan model terbaik, open architecture, multi-cloud dan sovereign cloud, trusted AI, serta strategi AI infrastructure yang fleksibel.
- Hasil riset MIT menunjukkan sekitar 95% proyek AI gagal memberikan dampak bisnis yang terukur karena lemahnya integrasi, kepemilikan proyek, tata kelola data, serta tidak adanya arsitektur AI yang konsisten.

Nusa Dua, Bali – Transformasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri perbankan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu membangun platform AI yang paling terbuka, terpercaya, dan terintegrasi.
Pesan itu menjadi benang merah yang disampaikan Senior Vice President INF Tech, Kenneth Siow, dalam sesi International Best Practices pada ajang Prima Executive Gathering 2026 di Hotel The Mulia, Nusa Dua, Bali, Kamis (6/8).
Kenneth memuji kemajuan transformasi digital Indonesia, khususnya keberhasilan membangun ekosistem pembayaran berbasis QR yang dinilainya sebagai salah satu yang paling inklusif di dunia. Menurut dia, dengan kondisi geografis yang tersebar di ribuan pulau, capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pemimpin transformasi AI di kawasan.
Ia kemudian mengajak para pelaku industri melihat AI sebagai gelombang teknologi kelima setelah internet, arsitektur x86, mobile, dan cloud. Namun berbeda dari era sebelumnya, keberhasilan AI tidak lagi ditentukan oleh kualitas model semata.
“Masa depan Enterprise AI tidak akan dimenangkan oleh perusahaan yang memiliki model terbesar, tetapi oleh mereka yang membangun arsitektur AI yang paling terbuka, terpercaya, dan interoperabel,” ujar Kenneth.
Lima perubahan besar era AI
Kenneth menjelaskan sedikitnya terdapat lima perubahan besar yang kini sedang membentuk industri AI global.
Pertama, dunia memasuki era multi-LLM, di mana organisasi tidak lagi bergantung pada satu penyedia model bahasa besar (large language model/LLM), melainkan dapat memilih model terbaik sesuai kebutuhan.
Kedua, open architecture menjadi semakin penting dibanding ekosistem tertutup. Standar terbuka, API terbuka, dan interoperabilitas dinilai akan menjadi fondasi utama transformasi AI perusahaan.
Ketiga adalah berkembangnya multi-cloud dan sovereign cloud, di mana perusahaan memadukan cloud publik, cloud privat, hingga infrastruktur on-premise untuk menjaga kedaulatan data.
Perubahan keempat adalah meningkatnya kebutuhan terhadap trusted AI, yakni AI yang dapat diaudit, aman, transparan, dan memiliki tata kelola yang jelas.
Terakhir, perusahaan dituntut memiliki strategi AI infrastructure yang fleksibel sehingga tidak bergantung pada satu penyedia komputasi.
Adopsi AI tinggi, tetapi transformasi masih rendah
Kenneth memaparkan bahwa hampir seluruh organisasi dunia sebenarnya sudah menggunakan AI.
Mengutip berbagai studi global, ia menyebut 88% organisasi telah memakai AI pada sedikitnya satu fungsi bisnis, sementara 72% sudah menggunakan generative AI, melonjak dari hanya sekitar 33% dua tahun sebelumnya.
Namun, hanya 39% perusahaan yang benar-benar merasakan dampak AI terhadap laba operasional (EBIT) di tingkat perusahaan. Bahkan, hanya 6% yang masuk kategori perusahaan berkinerja tinggi dengan kontribusi AI lebih dari 5% terhadap EBIT.
Menurut Kenneth, persoalannya bukan lagi pada teknologi.
“Teknologinya sudah tersedia. Hambatan utamanya adalah model operasinya,” ujarnya.
Ia mengutip hasil riset MIT yang menunjukkan sekitar 95% proyek AI gagal memberikan dampak bisnis yang terukur karena lemahnya integrasi, kepemilikan proyek, tata kelola data, serta tidak adanya arsitektur AI yang konsisten.
Investasi raksasa teknologi jadi peluang bagi industri
Di sisi lain, Kenneth menilai industri justru memperoleh keuntungan dari besarnya investasi yang digelontorkan perusahaan teknologi global.
Ia menunjukkan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 yang secara gabungan diperkirakan mencapai USD630-725 miliar.
Menurutnya, investasi jumbo tersebut akan terus menurunkan biaya komputasi AI sehingga perusahaan pengguna tidak perlu ikut berlomba membangun infrastruktur sendiri.
“Anda tidak perlu memenangkan perlombaan membangun komputasi. Yang penting adalah tetap memiliki fleksibilitas untuk berpindah model maupun penyedia layanan,” katanya.
Era berikutnya: AI Agent
Kenneth menilai perkembangan AI kini memasuki fase baru, yakni agentic AI, ketika AI tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mampu menjalankan pekerjaan secara mandiri.
Menurutnya, perkembangan tersebut akan mengubah cara industri perbankan menjalankan proses bisnis, khususnya pembayaran digital.
Industri perbankan paling siap menerima AI
Kenneth menyebut sektor jasa keuangan memiliki peluang paling besar memperoleh manfaat AI.
Ia memperkirakan AI dapat menciptakan nilai ekonomi tambahan sebesar USD200-340 miliar per tahun bagi industri perbankan global.
Alasannya sederhana. Berbeda dengan sektor manufaktur yang harus menunggu robot untuk mengotomasi proses fisik, bahan baku utama bank sejak awal memang berupa data, dokumen, bahasa, aturan, dan keputusan.
Karena itu, AI berpotensi diterapkan hampir di seluruh proses utama perbankan, mulai dari proses pembukaan rekening dan KYC, layanan nasabah, analisis kredit, deteksi fraud dan anti pencucian uang (AML), kepatuhan regulasi, hingga pengembangan perangkat lunak.
Menurut Kenneth, yang lebih penting lagi adalah regulator Indonesia mulai membangun kerangka tata kelola AI melalui pedoman AI OJK, aturan tata kelola teknologi informasi, hingga penyusunan pedoman etika AI nasional.
Ia menilai kombinasi percepatan digitalisasi dan penguatan regulasi tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia.
Kenneth lalu menyampaikan lima pesan kepada para CEO dan pimpinan industri keuangan.
Pertama, teknologi bukan lagi hambatan utama, melainkan model operasi perusahaan. Kedua, keberhasilan AI harus diukur dari hasil bisnis, bukan dari banyaknya penggunaan AI. Ketiga, perusahaan perlu membangun platform bersama, bukan proyek AI yang berdiri sendiri-sendiri.
Keempat, khusus sektor keuangan, kepercayaan merupakan produk utama sehingga keamanan, tata kelola, dan kemampuan audit harus menjadi prioritas. Dan kelima, perusahaan perlu mempertahankan fleksibilitas melalui arsitektur terbuka dan strategi multi-model karena model AI terbaik hari ini belum tentu menjadi yang terbaik dalam 18 bulan ke depan.
“Perlombaan AI bukan lagi soal membangun model terbesar. Tapi, tentang membangun platform operasi AI paling terpercaya,” tuturnya.
Menurutnya, organisasi yang menggabungkan open architecture, multi-model strategy, enterprise AI agents, serta strong governance akan menjadi pihak yang paling siap menciptakan nilai bisnis berkelanjutan di era AI. SW

