Kunci Sukses Jahja: Tekun Perkuat Pondasi, Jangan Tergesa-gesa  

Highlights:

  • Senior bankir dan Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja menyatakan perlunya kesabaran dan ketekunan dalam membangun karier. Filosofi ini ia pelajari dan dapatkan sejak ia memulai karier profesionalnya di Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebagai auditor pada 1979 silam.
  • Hal ini pun mengasah kesabaran dan ketekunannya saat ia mulai membangun karier di dunia profesional. Di tengah jalan, ia lalu mendapatkan tawaran untuk berkarier di BCA sebagai wakil kepala divisi selama 5 tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi kepala divisi.
  • Di sinilah ia kembali belajar pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam membangun karier, untuk memperkuat pondasi ke level atau posisi yang lebih tinggi. 

AP HEADER

Jakarta – Senior bankir dan Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja menyatakan perlunya kesabaran dan ketekunan dalam membangun karier. 

Filosofi ini ia pelajari dan dapatkan sejak ia memulai karier profesionalnya di Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebagai auditor pada 1979 silam. Jahja menceritakan, saat awal berkarier di PwC, ia tak langsung diberikan tugas akuntansi, tapi ditugaskan untuk melakukan aktivitas fotocopy dokumen. 

Hal ini pun mengasah kesabaran dan ketekunannya saat ia mulai membangun karier di dunia profesional. Di tengah jalan, ia lalu mendapatkan tawaran untuk berkarier di Kalbe Farma dengan remunerasi lebih besar. 

“Akhirnya, jadi asisten accounting, manager accounting. Dalam dua tahun saya jadi manager. Dua tahun lagi saya menjadi senior manager. Dua tahun lagi saya menjadi semacam wakil direktur di situ (Kalbe Farma),” ujar Jahja dalam sesi “Leadership Sharing: Leadership and Critical Thinking to Face Uncertainty” dalam rangka peluncuran buku The Art of Banker yang mengulas perjalanan karier dan gaya kepemimpinan Jahja Setiaatmadja, yang diadakan Infobank Media Group di Hotel St. Regis Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2026.  

Kemudian, karirnya melesat menjadi direktur keuangan Kalbe Farma pada tahun 1988. Sebelum akhirnya ia berpindah perusahaan ke Indomobil, dan baru akhirnya ke BCA. 

“Kalbe Farma, Indomobil berbeda bisnisnya. Saya banyak belajar dari situ sebagai direktur keuangan. Kemudian, saya diminta untuk memperkuat tim BCA,” ucapnya. 

Saat memulai karier di BCA pada 1990 inilah, ia yang telah mencapai posisi direktur di perusahaan sebelumnya, harus turun jabatan dan belajar ulang dari posisi wakil kepala divisi. 

“Jadi, dua step di bawah direksi. Tak mungkin kamu direktur (kata pimpinannya). ‘Ini (BCA) adalah big pond. Kalau Indomobil itu small pond’,” sebut Jahja menirukan ucapan mantan pimpinannya. 

Lebih lanjut ia mengungkapkan jika dirinya dijanjikan akan naik jabatan ke posisi kepala divisi dalam setahun bekerja di BCA. Namun, setahun lewat berlalu, ia belum juga menerima promosi jabatan menjadi kepala divisi. 

Promosi jabatan menjadi kepala divisi baru muncul setelah 5 tahun ia bekarier di BCA sebagai wakil kepala divisi. Di sinilah ia kembali belajar pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam membangun karier, untuk memperkuat pondasi ke level atau posisi yang lebih tinggi. 

Selama menempati posisi wakil kepala divisi itu jugalah ia banyak belajar tentang pola bisnis dan regulasi perbankan. Dua aspek itu Jahja pelajari tak hanya secara teoritis dari buku, tetapi juga lewat terjun langsung ke lapangan, membangun jejaring (networking) dengan para kepala cabang dan pemimpin wilayah, nasabah, vendor, dan birokrat. 

“Baru tahun ‘96 saya mendapatkan pengangkatan (ke kepala divisi). Seandainya saya benar-benar satu tahun menjadi kepala divisi. At that time, jujur saya kayak pohon cogek, tak ada akarnya. Belum tahu apa-apa tentang perbankan. Boleh dikatakan, setahun itu nothing bagi seorang bankir,” bebernya. 

Waktu lima tahun sebagai wakil kepala divisi ini, membuat dirinya jadi belajar secara lebih mendalam terkait sektor perbankan. Selama ini jugalah, Jahja banyak membangun relasi dengan para direktur, kepala cabang, dan pimpinan wilayah BCA di daerah lain untuk memperkuat networking dan pengetahuannya soal perbankan. 

“Bersyukur saya punya waktu lima tahun. Saya bisa berkenalan dengan semua direksi BCA waktu itu. Lalu, para kepala divisi. Kemudian, para pimpinan wilayah, kepala cabang, saya sendiri keliling ke daerah-daerah,” tandasnya. SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.