The Art of Banker: Kepemimpinan Jahja Setiaatmadja
Highlight:
- Buku The Art of Banker mengangkat perjalanan dan filosofi kepemimpinan Jahja Setiaatmadja selama lebih dari empat dekade di industri keuangan.
- Jahja menekankan pentingnya servant leadership, kolaborasi, networking, dan kemampuan menghadapi ketidakpastian.
- Buku persembahan Infobank Publishing ini diluncurkan dalam Leadership Mastery Forum 2026 dan menjadi refleksi perjalanan kepemimpinan salah satu bankir terkemuka Indonesia.

Bagaimana seorang yang memulai karier sebagai akuntan yang awalnya hanya disuruh fotokopi bisa menjadi salah satu bankir paling dihormati di Indonesia?
Kisah itu dimulai pada 1979. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jahja Setiaatmadja, mengawali karier dari pekerjaan yang sederhana. Dari sanalah ia belajar bahwa pemimpin sejati harus lebih dahulu melayani.
Empat puluh tahun kemudian, prinsip itu membawanya memimpin BCA selama 14 tahun. Di bawah kepemimpinannya, BCA tumbuh menjadi bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, bahkan permah di Asean — menjadi pelopor layanan digital, sekaligus mempertahankan budaya pelayanan yang hangat.
Bagi Jahja, kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi keteladanan. Ia menghormati setiap orang, dari satpam hingga direksi. Budaya perusahaan dibangun bukan dengan pidato, melainkan dengan contoh nyata setiap hari.
Ia mengibaratkan pemimpin sebagai dirigen orkestra yang menyatukan berbagai talenta menjadi harmoni. Kesuksesan, katanya, bukan hasil yang instan, melainkan buah dari kesabaran, kerja keras, dan kemauan terus belajar.
Melalui The Art of Banker, Eko B. Supriyanto, seorang wartawan senior, menghadirkan kisah tentang seni memimpin: kepemimpinan yang berakar pada kerendahan hati, empati, dan kemampuan menumbuhkan orang lain. Karena warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah gedung atau angka-angka, melainkan manusia-manusia yang ia bentuk dan kembangkan.
The Art of Banker: Kepemimpinan Jahja Setiaatmadja, sebuah buku persembahan Infobank Publishing untuk Indonesia yang membanggakan diluncurkan dalam ajang “Leadership Mastery Forum 2026” yang diselenggarakan Infobank Media Group, di St Regist Hotel Jakarta, Jumat (14/8).

The Art of Banker: Potret Seni Leader Jahja Setiaatmadja
Peluncuran The Art of Banker: Kepemimpinan Jahja Setiaatmadja tidak hanya menjadi penanda hadirnya buku baru dari Infobank Publishing, tetapi juga momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang Jahja di industri perbankan. Buku tersebut diluncurkan dalam ajang “Leadership Mastery Forum 2026” yang diselenggarakan Infobank Media Group di St Regist Hotel Jakarta, Jumat (14/8).
Launching buku diserahkan oleh Chairman Infobank Eko B. Supriyanto, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong, Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia (IBI) dan Direktur BCA Hariyanto Tiarabudiman, Ketua Umum DPP Perbarindo Teddy Alamsyah, Ekonom Senior Aviliani, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Hari Kuncoro, Direktur Utama NobuBank Suhaimin Djohan, serta Komisaris Utama Rintis Sejahtera Iwan Setiawan.
Pada kesempatan yang sama, Infobank juga memberikan penghargaan kepada Jahja atas kontribusinya terhadap industri perbankan dan perekonomian Indonesia.
Dalam sambutannya, Jahja menyampaikan apresiasi kepada Eko B. Supriyanto yang telah merangkum perjalanan kepemimpinannya melalui buku tersebut.
Menurut Jahja, buku ini tidak sekadar mengangkat teori kepemimpinan, tetapi menghubungkan berbagai teori dengan pengalaman nyata yang ia jalani selama berkarier di industri keuangan.
“Pak Eko tidak membuat kalimat-kalimat seperti para pakar leadership. Tetapi setiap langkah saya dicarikan teorinya, dan hampir semua buku yang saya baca ternyata sesuai dengan apa yang pernah saya lakukan,” ujar Jahja.
Menurut Jahja, The Art of Banker juga tidak hanya relevan bagi industri perbankan. Pengalaman dan prinsip kepemimpinan yang dituangkan di dalamnya dapat menjadi referensi bagi pelaku industri keuangan lainnya karena persoalan kepemimpinan pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana membangun manusia dan organisasi.
“Seni memimpin sebuah bank ini bisa digunakan di bank, asuransi, multifinance, dan seluruh industri keuangan. Saya ingin buku ini menjadi bagian dari upaya membangun manusia Indonesia,” katanya.
Pesan tersebut menjadi semakin kuat ketika Jahja menekankan bahwa keberhasilan bank tidak semata-mata ditentukan oleh angka dan rasio keuangan. Menurut dia, fondasi terpenting sebuah organisasi justru terletak pada kemampuan pemimpinnya membangun dan mengembangkan manusia.
“Bank bukan soal angka-angka, tetapi bagaimana membangun manusia. Tidak ada superhero dalam bank, tidak ada satu orang yang bisa menguasai semuanya,” tegas Jahja.
Perjalanan karier Jahja sendiri menjadi contoh bahwa kepemimpinan tidak dibangun secara instan. Ketika bergabung dengan BCA pada 1990, ia justru masuk sebagai wakil kepala divisi meski sebelumnya pernah menjadi direktur keuangan di perusahaan lain, dan baru mendapatkan posisi kepala divisi setelah melalui proses panjang selama sekitar lima tahun.
Jahja melihat masa penantian tersebut bukan sebagai hambatan, melainkan kesempatan untuk memperkuat pengetahuan dan membangun jaringan di lingkungan perbankan. Selama periode itu, ia belajar mengenai regulasi perbankan, mengenal jajaran direksi, kepala divisi, pimpinan wilayah hingga kepala cabang.
“Seandainya saya satu tahun menjadi kepala divisi, saat itu saya seperti pohon yang tidak punya akar karena belum tahu apa-apa tentang perbankan. Saya justru bersyukur punya waktu lima tahun untuk belajar dan mengenal banyak orang di BCA,” ujarnya.
Pengalaman itu kemudian membentuk pandangannya bahwa seorang pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling pintar di dalam organisasi.
Pemimpin, menurut Jahja, justru harus mampu mengenali keahlian orang-orang di sekelilingnya dan mengoordinasikan berbagai kemampuan tersebut untuk mencapai tujuan bersama.
Ia mengibaratkan pemimpin sebagai dirigen orkestra yang tidak memainkan seluruh instrumen, tetapi harus memahami karakter setiap instrumen agar mampu menghasilkan harmoni. “Dirigen tidak mungkin memainkan semua instrumen musik, tetapi dia harus tahu nada yang keluar dari setiap instrumen. Dengan begitu, dia tahu ketika ada nada yang sumbang dan bagaimana memperbaikinya,” kata Jahja.
Prinsip tersebut berkaitan erat dengan konsep servant leadership yang selama ini ia pegang. Bagi Jahja, pemimpin bukan sosok yang sekadar memberikan perintah, tetapi harus mampu melayani, mendengarkan, dan membangun kepercayaan dengan orang-orang yang dipimpinnya.
“Sebagai pemimpin, kita harus bisa sekaligus melayani subordinate dan nasabah. Jangan menempatkan diri sebagai end boss yang merasa selalu benar, karena orang-orang di bawah kita bisa saja memiliki pengetahuan yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam menjalankan prinsip tersebut, Jahja juga menempatkan networking sebagai salah satu modal penting seorang bankir.
Menurut dia, kemampuan membangun hubungan dengan karyawan, nasabah, vendor, hingga berbagai pemangku kepentingan merupakan keterampilan yang tidak selalu diperoleh di bangku pendidikan, tetapi sangat menentukan perjalanan seseorang dalam organisasi.
“The rest is networking, bagaimana kita get along with people dan bagaimana merangkul teman-teman, nasabah, vendor, serta birokrat. Itu tidak mudah, tetapi justru menjadi salah satu hal penting bagi seorang bank leader,” ujar Jahja.

Fokus Hal yang Bisa Dikontrol
Pengalaman panjang Jahja juga membentuk caranya menghadapi berbagai periode penuh ketidakpastian, termasuk krisis 1998 dan pandemi Covid-19.
Menurut dia, perubahan eksternal tidak selalu dapat dikendalikan sehingga pemimpin harus mampu mengarahkan energi pada hal-hal yang masih berada dalam kendalinya.
“Ketidakpastian itu artinya di luar kontrol kita. Apa yang bisa kita kontrol, itu yang kita kerjakan,” katanya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Jahja menyebut tiga hal yang perlu diperhatikan pemimpin, yakni personel, proses, dan digitalisasi. Penguatan ketiganya dinilai penting agar organisasi tetap memiliki fondasi yang kuat ketika menghadapi perubahan dari luar.
Jahja juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu penting sebagai bahan pembelajaran, tetapi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk membaca masa depan.
Kondisi saat ini tetap harus diperhatikan agar keputusan yang diambil sesuai dengan perubahan lingkungan bisnis.
“History itu penting untuk dipelajari, tetapi jangan berharap apa yang terjadi di masa lalu akan persis sama dengan masa depan. Kita harus melihat kombinasi dengan situasi sekarang, mendapatkan informasi dan data terkini, lalu menggunakannya untuk memprediksi ke depan,” ujarnya.
Pada akhirnya, Jahja menilai kepemimpinan bertumpu pada kemampuan menjaga integritas, membangun kolaborasi, serta memperluas networking.
Bagi dia, ketika ketidakpastian semakin tinggi, pemimpin justru harus semakin kuat membangun manusia dan memastikan organisasi memiliki kemampuan untuk bergerak bersama.
“Dalam uncertainty, kita coba masuk pada apa yang bisa kita kontrol. Kemudian sikap kita adalah integritas dan kolaborasi dengan teman-teman untuk kemajuan bersama,” tutup terangnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi benang merah The Art of Banker. Buku ini tidak hanya merekam perjalanan seorang bankir, tetapi juga menawarkan refleksi bahwa kepemimpinan tidak dibangun dalam semalam.
Ada proses panjang, kesabaran, kemampuan mendengar, keberanian memberikan kewenangan, kemauan belajar dari orang lain, serta konsistensi menjaga kepercayaan.
Seperti yang ditegaskan Jahja, keberhasilan seorang pemimpin bukan tentang seberapa banyak hal yang dapat ia kerjakan seorang diri. Kepemimpinan justru diuji dari seberapa kuat ia mampu membangun manusia, menyatukan berbagai talenta, dan membuat organisasi tetap bergerak meski menghadapi ketidakpastian. (*) Darto Wiryokusumo & Ranu Arasyki Lubis

