Jahja: Tak Ada Superhero di Bank, Semua Butuh Networking
Jahja Setiaatmadja dalam sesi “Leadership Sharing: Leadership and Critical Thinking to Face Uncertainty” dalam rangka peluncuran buku The Art of Banker yang mengulas perjalanan karier dan gaya kepemimpinan Jahja Setiaatmadja, yang diadakan Infobank Media Group di Hotel St. Regis Jakarta, Jumat (15/8). (Foto: Dok. AP/Zul)Highlights:
- Jahja Setiaatmadja menekankan pentingnya networking selama menjalani karier sebagai bankir. Jahja yang masuk BCA pada 1990, menyatakan bahwa dirinya masih minim pengetahuan soal perbankan saat baru berkarir di BCA kala itu.
- Menurutnya, feedback yang didapatkan dari bawahan sangat penting untuk mengetahui bagaimana keberhasilan suatu program layanan di suatu daerah. Mengingat, setiap daerah di Indonesia tentu memiliki corak budayanya masing-masing, yang membutuhkan pendekatan yang berbeda.
- Jahja menerangkan bagaimana soft skill dalam networking itu akhirnya juga sangat berguna dalam mensukseskan implementasi suatu inovasi layanan yang bernama mesin ATM di era 90’ an lewat pendekatan persuasif.

Jakarta – Bankir senior dan Presiden Komisioner PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja menekankan pentingnya networking selama menjalani karier sebagai bankir. Jahja yang masuk BCA pada 1990, menyatakan bahwa dirinya masih minim pengetahuan soal perbankan saat baru berkarir di BCA kala itu.
Ia yang sebelumnya berkarier di Indomobil sebagai direktur itu, akhirnya perlu belajar banyak terkait bisnis dan regulasi perbankan. Ia yang mengawali karier di Bank BCA sebagai wakil kepala divisi selama lima tahun membuatnya banyak mendapatkan ilmu langsung dari lapangan.
“Meskipun saya selama di BCA tidak pernah jadi kepala cabang ataupun kepala wilayah, tetapi saya banyak turun waktu itu ya. Awal karir saya untuk belajar dari situ (lapangan), belajar dan banyak mendapatkan support,” ujar Jahja dalam sesi “Leadership Sharing: Leadership and Critical Thinking to Face Uncertainty” dalam rangka peluncuran buku The Art of Banker yang mengulas perjalanan karier dan gaya kepemimpinan Jahja Setiaatmadja, yang diadakan Infobank Media Group di Hotel St. Regis Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2026.

Dari lapangan inilah, ia menyadari pentingnya networking untuk mendapatkan ilmu. Ia mengatakan, setelah bekerja di perbankan, ia melihat, mustahil untuk menjadi single superhero di lembaga bank. Oleh karena itu, ia menekankan, perlunya kerja sama dan mendapatkan masukan dari bawahan.
“Sebagai leader, jika kita bilang, ‘I know everything. Soalnya banyak baca buku, pengalaman saya banyak’. Bullshit. Tetap kita harus belajar dan belajar. Sebab itu telinga kita ada dua, mulut kita ada satu. Dengar lebih banyak daripada kita instruksi,” tegas Jahja.
Menurutnya, feedback yang didapatkan dari bawahan sangat penting untuk mengetahui bagaimana keberhasilan suatu program layanan di suatu daerah. Mengingat, setiap daerah di Indonesia tentu memiliki corak budayanya masing-masing, yang membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Jahja kemudian menerangkan bagaimana soft skill dalam networking itu akhirnya juga sangat berguna dalam mensukseskan implementasi suatu inovasi layanan yang bernama mesin ATM di era 90’ an.
Ia menceritakan, kala itu, timnya mencetuskan gagasan implementasi mesin ATM, dimana nasabah dapat menarik uang tunai dan melakukan transaksi lewat mesin ATM selama 24 jam.
Ide ini awalnya mendapatkan banyak penolakan dari kepala cabang dan pimpinan wilayah BCA di berbagai daerah di Indonesia. Para kepala cabang dan pimpinan wilayah kala itu melihat gagasan ATM ini dapat menguras likuiditas perbankan lebih cepat lewat kehadiran layanan penarikan tunai. Sementara di satu sisi, bukanlah hal yang mudah untuk kantor cabang di daerah mengumpulkan likuiditas atau DPK dari masyarakat.
“Mereka bilang ‘kita berusaha mengumpulkan dana tabungan’. Waktu itu kan sedang giat-giatnya kumpulkan dana tabungan. ‘Masa sih disediakan alat yang 24 jam bisa tarik uang?!’” ucap Jahja.
Ia mengatakan, pihaknya butuh proses untuk meyakinkan para pimpinan wilayah, agar mau menerapkan layanan mesin ATM ini. Bukan memberikan instruksi, ia dan timnya melakukan tindakan persuasi, melakukan pertemuan, lobby, komunikasi terhadap para pimpinan cabang dan wilayah, agar yakin dan ingin menerapkan layanan ATM di setiap wilayah mereka.
“Begitu ada pilot project, kita bikin, lalu itu dijalankan. Itu ternyata menambah dana masyarakat kita. Karena orang lebih yakin, simpan di bank, any time 24 jam bisa tarik. Jadi, itu salah satu kekuatan daripada seni networking,” jelas Jahja.
Di tengah fokus mayoritas pihak terhadap brand universitas, ia mengungkapkan, justru ilmu networking seperti inilah yang jarang diajarkan di bangku kuliah dan hanya bisa didapatkan lewat pengalaman kerja nyata sehari-hari. Sedangkan di satu sisi, ilmu softskill seperti networking inilah yang justru banyak berperan vital dalam keberhasilan di dunia profesional.
“Bagaimana get along with people, bagaimana merangkul teman-teman di BCA, para nasabah, vendor rekanan, dan para birokrat, yang kita harus dekat dengan mereka satu persatu. Itu tidak mudah. Itu yang tidak ada di sekolah atau universitas,” tukas Jahja. SW

