Hery Gunardi Beberkan Dampak Kenaikan BI Rate: Cost of Fund Naik, Bank Masuki Era Selective Growth

Highlight:

  • Kenaikan BI Rate 100 bps sepanjang 2026 meningkatkan tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) dan margin bunga bersih (NIM) perbankan.
  • Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan industri perbankan kini memasuki era selective growth untuk menjaga profitabilitas dan kualitas aset.
  • Meski kredit dan DPK masih tumbuh positif, perlambatan dana pihak ketiga serta kompresi NIM menjadi sinyal meningkatnya tantangan industri.

AP HEADER

Jakarta– Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang 2026 diperkirakan membawa konsekuensi baru bagi industri perbankan nasional.

Di tengah upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan tersebut dinilai akan meningkatkan tekanan terhadap biaya penghimpunan dana sekaligus mempersempit ruang profitabilitas bank.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) sekaligus Ketua Perbanas Hery Gunardi mengatakan, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen akan berdampak langsung pada proses repricing dana pihak ketiga (DPK) yang menjadi sumber utama pendanaan perbankan.

“Kenaikan BI Rate 100 basis poin ini dalam 1 tahun secara struktural akan meningkatkan tekanan repricing dana, dana masyarakat, DPK,” ujar Hery dalam forum diskusi “Mid-Year Economic Outlook 2026” yang digelar Infobank Media Group di Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Menurut Hery, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga merupakan kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi berupa kenaikan biaya dana (cost of fund) dan tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM) industri perbankan.

Ia menilai kondisi tersebut menuntut bank untuk semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan serta menjaga kualitas pertumbuhan bisnis agar tetap berkelanjutan.

“Artinya buat perbankan cost of fund akan memiliki kecenderungan untuk naik, kalau cost of fund atau cost of capital-nya meningkat maka dalam kondisi seperti ini disiplin menjadi kata kunci. Sekarang kita memasuki era selective growth atau pertumbuhan yang selektif,” ungkapnya.

Industri Perbankan Masih Solid, tetapi Tantangan Kian Terasa

Di tengah meningkatnya tekanan, Hery memastikan fundamental industri perbankan nasional masih berada dalam kondisi yang kuat.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih mendekati dua digit, yakni 9,98 persen per April 2026. Dari sisi likuiditas, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga masih mencapai double digit sebesar 11,4 persen.

Selain itu, indikator kesehatan perbankan lainnya juga tetap terjaga. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) masih berada pada level yang sehat, sementara rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat tinggi di kisaran 23,97 persen.

“LDR juga masih berada di level sehat dan CAR masih tetap sangat kuat di angka sekitar 23,97 persen,” imbuhnya.

Meski demikian, Hery mengingatkan bahwa sejumlah indikator mulai menunjukkan adanya peningkatan tekanan.

Pertumbuhan DPK mulai melambat, margin bunga bersih (NIM) mengalami kompresi, dan rasio CAR sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa lingkungan operasional industri perbankan kini semakin menantang.

“Hal ini adalah sinyal bahwa pressure sedang meningkat Dengan kata lain perbankan masih kuat tetapi operating environment banking sekarang menjadi cukup challenging,” tandasnya. (*) Ir

Editor: RAL

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.