Fraudster Sudah Pakai AI, Simplifa.ai Tegaskan Industri Keuangan Tak Bisa Lagi Perang dengan Tangan Kosong
Highlight:
- Gema Buana Putra, Direktur Utama Simplifa.ai, mengungkap fraudster kini memanfaatkan AI untuk membuat rekening koran dan dokumen keuangan palsu yang semakin sulit dibedakan secara kasat mata.
- Simplifa.ai menemukan berbagai indikasi fraud melalui pemeriksaan font, metadata, ketidaksesuaian saldo, hingga anomali transaksi yang luput dari pemeriksaan manual.
- AI juga digunakan untuk mendeteksi window dressing pada rekening koran, termasuk transaksi berulang dan pihak terafiliasi yang dapat membuat pendapatan debitur terlihat lebih besar dari kondisi sebenarnya.

Jakarta– Fraudster atau pelaku tindak penipuan, kini tidak lagi sekadar mengedit dokumen keuangan secara kasar. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), rekening koran dapat dibuat sejak awal dengan tampilan yang menyerupai dokumen asli, bahkan dilengkapi metadata yang dirancang agar terlihat meyakinkan.
Kondisi ini membuat pemeriksaan secara kasat mata semakin tidak memadai dan memaksa industri keuangan meningkatkan kemampuan deteksi berbasis teknologi.
Direktur Utama Simplifa.ai Gema Buana Putra mengatakan perubahan modus fraud tersebut membuat industri keuangan menghadapi perlombaan teknologi dengan pelaku kejahatan.
Semakin canggih alat yang digunakan fraudster, semakin tinggi pula kemampuan yang dibutuhkan institusi untuk menemukan manipulasi yang tersembunyi di balik dokumen yang terlihat normal.
Dalam acara Infobank & Simplifa AI Executive Forum 2024 From Risk to Resilience: How AI is Redefining Credit Strategy in an Era of Fraud and Uncertainty di JW Marriott Hotel Jakarta, Kamis (20/8/2026), Gema memaparkan sejumlah kasus yang ditemukan Simplifa.ai dalam proses analisis dokumen dan rekening koran calon debitur.
Menurut dia, pemeriksaan yang dilakukan platform berbasis AI tersebut tidak berhenti pada pertanyaan apakah dokumen terlihat asli. Sistem juga memeriksa bagian-bagian kecil yang secara manual sangat mudah terlewat, mulai dari keaslian dokumen, perubahan angka, jenis huruf, metadata, keseimbangan transaksi hingga pola arus kas.
“Yang kita lakukan pertama adalah verifikasi, apakah dokumen yang disubmit itu asli atau tidak, sudah diedit atau belum, bagian mana yang diedit, angka yang mana yang berubah, dan angka mana yang tidak lazim. Kemudian kita identifikasi apakah ada anomali, transaksi yang tidak normal, atau transaksi yang mencurigakan,” ujar Gema.
Salah satu kasus yang dipaparkan Gema menunjukkan bagaimana manipulasi dapat terjadi hanya pada bagian kecil dari dokumen. Dalam sebuah rekening koran yang secara kasat mata terlihat rapi, sistem Simplifa.ai menemukan nama nasabah pada bagian tertentu menggunakan font yang berbeda dari format asli bank.
Perubahan tersebut nyaris tidak terlihat ketika dokumen diperiksa secara manual. Namun, sistem dapat membandingkan karakteristik font dengan format dokumen yang dihasilkan sistem perbankan dan menemukan ketidaksesuaian.
Menurut Gema, kasus tersebut menunjukkan bahwa fraud tidak selalu ditandai perubahan besar yang mudah terlihat. Manipulasi justru dapat disisipkan pada bagian yang dianggap tidak penting oleh pemeriksa.
Kasus lain bahkan lebih sulit. Simplifa.ai menemukan dua dokumen rekening koran dengan periode dan halaman yang sama, tetapi memiliki angka transaksi berbeda.
Secara visual, kedua dokumen tersebut sangat mirip sehingga sejumlah orang yang diminta membandingkannya secara manual tidak mampu menentukan mana dokumen asli dan mana yang telah dimodifikasi.
Kuncinya ditemukan pada hubungan aritmatika antara transaksi debit, kredit, dan saldo. Pelaku mengubah nilai transaksi tetapi tidak menyesuaikan seluruh saldo dalam rangkaian rekening koran. Kesalahan kecil tersebut kemudian dapat dilacak melalui pemeriksaan menyeluruh terhadap kesinambungan data.
Gema menjelaskan, manipulasi rekening koran bahkan dapat meninggalkan jejak pada bagian yang sangat kecil. Pelaku bisa mengubah angka transaksi tetapi lupa menyesuaikan angka terbilang. Ada pula kasus ketika seluruh angka telah diubah, tetapi jenis font atau format pada bagian tertentu tidak sesuai.
Perkembangan teknologi membuat modus tersebut semakin sulit. Jika sebelumnya pemalsuan dilakukan menggunakan perangkat sederhana seperti aplikasi pengolah PDF atau desain grafis, kini fraudster dapat menggunakan AI untuk menghasilkan dokumen yang jauh lebih meyakinkan.
Gema bahkan menemukan adanya jasa yang menawarkan pembuatan rekening koran sesuai permintaan. Pelaku dapat meminta rekening koran dari bank tertentu, dengan pola transaksi tertentu, bahkan metadata yang dibuat semirip mungkin dengan dokumen keluaran bank.
“Dulu kalau pakai Photoshop atau PDF editor mungkin masih kasar. Sekarang makin canggih, bahkan sudah pakai AI. Ada yang menawarkan jasa membuat rekening koran dari bank apa pun dan transaksi sesuai permintaan, bahkan menjanjikan metadata dibuat semirip mungkin dengan metadata bank yang dimaksud,” ungkap Gema.
Meski demikian, menurut Gema, pemalsuan berbasis AI tetap dapat meninggalkan celah. Perbedaan metadata, jeda waktu yang tidak lazim antara pembuatan dan modifikasi dokumen, hingga anomali kecil dalam transaksi dapat menjadi petunjuk.
Salah satu contohnya adalah transaksi yang terlihat normal tetapi tidak memiliki komponen yang seharusnya muncul. Gema mencontohkan bunga rekening yang tidak muncul pada periode tertentu, padahal karakteristik rekening tersebut seharusnya menghasilkan bunga. Ada pula kasus ketika bunga tercatat tetapi pajaknya tidak muncul.
Anomali lain dapat terlihat dari waktu pembebanan biaya bank. Jika bank fee biasanya muncul pada awal bulan, tetapi tiba-tiba tercatat pada tanggal yang tidak lazim, perbedaan tersebut dapat menjadi sinyal yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Menurut Gema, justru anomali kecil semacam itu yang sering kali tidak terdeteksi ketika dokumen hanya direkap secara manual. Karena itu, kemampuan AI dalam membaca jutaan detail dapat menjadi pembeda dalam proses verifikasi.
Simplifa.ai juga mengelompokkan dokumen berdasarkan tingkat validitasnya. Dalam salah satu contoh yang dipaparkan, dari tiga dokumen yang diunggah calon debitur, sistem menemukan satu dokumen invalid dan satu lainnya berstatus potentially modified.
Dokumen dinyatakan invalid ketika perhitungan antara saldo, debit, dan kredit tidak sesuai. Meski tingkat kesalahannya sangat tinggi sebagai indikasi fraud, Gema mengingatkan tidak semua ketidaksesuaian otomatis berasal dari manipulasi.
Ia mengungkapkan Simplifa.ai pernah menemukan kasus false positive ketika sistem mendeteksi ketidaksesuaian aritmatika. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata sumber persoalannya justru berasal dari kesalahan pada sistem core banking.
Artinya, teknologi deteksi fraud juga harus memiliki kemampuan membedakan antara manipulasi oleh pelaku dan kesalahan sistem. Ketepatan tersebut penting agar institusi tidak mengambil keputusan keliru hanya berdasarkan satu sinyal.
Selain pemalsuan dokumen, persoalan lain yang ditemukan Simplifa.ai adalah window dressing pada pendapatan.
Dalam kasus yang dipaparkan Gema, dokumen rekening koran memang asli dan tidak dimodifikasi. Namun, pola transaksi di dalamnya menunjukkan indikasi bahwa pendapatan debitur dibuat terlihat lebih besar dari aktivitas bisnis sebenarnya.
Dalam satu kasus, dari total transaksi sekitar Rp5,67 triliun, sekitar Rp1,7 triliun terindikasi sebagai transaksi window dressing. Transaksi tersebut antara lain berupa dana yang masuk kemudian segera keluar kembali, transaksi berulang, serta transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan dengan debitur.
Misalnya, dana sebesar Rp170 miliar masuk ke rekening kemudian keluar kembali dengan nilai yang sama. Pola serupa ditemukan pada transaksi lain, baik dengan nominal yang sama maupun dipecah menjadi beberapa transaksi lebih kecil.
Pola tersebut penting bagi proses analisis kredit karena besarnya arus dana tidak selalu menunjukkan besarnya aktivitas bisnis. Jika transaksi hanya berputar di antara pihak yang saling terkait, nilai omzet atau pendapatan yang terlihat pada rekening koran dapat memberikan gambaran yang keliru mengenai kemampuan debitur.
Karena itu, Gema menilai analisis kredit tidak cukup hanya memeriksa apakah dokumen asli atau palsu. Institusi juga perlu memahami perilaku dan hubungan di balik transaksi yang tercatat.
Perang AI Melawan Fraudster
Menurut Gema, perkembangan modus fraud membuat sistem deteksi juga harus terus berkembang. Simplifa.ai yang beroperasi dengan model Software as a Service (SaaS) melakukan pembaruan terhadap sistem berdasarkan pola fraud baru yang ditemukan dari klien dan perkembangan perilaku transaksi.
Perubahan kebijakan bank, biaya administrasi, pola bank fee, hingga karakteristik dokumen dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, sistem yang dibangun hari ini tidak bisa dibiarkan bekerja dengan pola yang sama selama bertahun-tahun.
Setiap temuan baru menjadi pembelajaran yang dapat dimasukkan kembali ke dalam algoritma. Dengan demikian, pembaruan yang diperoleh dari satu kasus dapat membantu memperkuat deteksi pada klien lain yang menggunakan platform tersebut.
Bagi Gema, kondisi ini pada akhirnya menjadi perlombaan antara institusi keuangan dan fraudster. Pelaku terus mencari cara baru untuk melewati sistem deteksi, sementara institusi harus terus memperbarui kemampuan teknologinya.
“Intinya karena kita sekarang juga berhadapan sama fraudster yang pakai AI, kita juga harus menggunakan AI. Akuntabilitas tetap ada di manusia yang mengambil risiko, tetapi karena yang menipu kita sudah memakai AI, kita tidak bisa lagi perang pakai tangan kosong,” pungkas Gema. (*) Ranu Arasyki Lubis

