Ngeri Dab! Jogja Pelopori Boikot Raffi Ahmad: Seniman, UMKM, dan Sponsor Mundur dari RANS Carnival

Highlight:

  • Sejumlah musisi, termasuk Guyon Waton, OM Wawes, Masdddho, dan Tipe-X, menyatakan mundur dari RANS Carnival di Sleman.
  • Belasan tenant UMKM dikabarkan ikut membatalkan keikutsertaan, disusul kabar mundurnya tiga sponsor acara.
  • Gelombang boikot muncul setelah kontroversi acara Sumpah Pemuda di Bundaran HI yang menyeret nama Raffi Ahmad.

AP HEADER

Yogyakarta— Kalau biasanya Jogja itu terkenal dengan kalimat “monggo” dan “nderek langkung”, akhir pekan ini Jogja ngajarin Indonesia cara bilang “ora sudi” dengan cara paling halus tapi paling mematikan: boikot.

Targetnya: RANS Carnival milik Sultan Andara, Raffi Ahmad.Festival gratis yang rencananya digelar di parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, 31 Oktober – 1 November 2026, mendadak sepi sebelum dimulai.

Bukan karena hujan, tapi karena ditinggal panggung dan ditinggal pedagang.

Awalnya cuma tiga musisi lokal yang menyatakan mundur: Guyon Waton, OM Wawes, dan Masdddho.

Alasannya klasik Jogja banget: “tidak ingin melukai perasaan masyarakat Yogyakarta” dan demi keamanan serta kenyamanan.

Bahasa diplomatis untuk: “Suasana lagi tidak enak, Dab.”Tidak lama, Tipe-X menyusul mundur. Begitu panggung goyang, dapurnya ikut goyang.

Belasan tenant UMKM yang sudah telanjur sewa stan, beli bahan baku, dan begadang menyiapkan dagangan, akhirnya memilih loading out. Membongkar lagi stan yang sudah didirikan.

Nama-nama yang mengumumkan di Threads antara lain Kalapaa.id, Cuann.king, Jeruk Lokal, Donutsbun.co, Jimny Coffee, hingga Mochi Oleebe.Alasannya jujur: takut rugi karena pengunjung pasti sepi, dan sebagai bentuk sikap.

Kalapaa.id bahkan mengaku bahan untuk jualan sudah siap, padahal uangnya mau dipakai untuk biaya persiapan kelahiran istrinya.

Tiga brand besar yang jadi sponsor acara juga dikabarkan mengundurkan diri sehari sebelum acara RANS Carnival dibuka.

Apa dosa RANS Carnival sampai diboikot ramai-ramai?

Semua bermula dari Bundaran HI, 29 Oktober lalu. Raffi Ahmad yang kini bukan lagi sekadar artis, melainkan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, hadir di acara Deklarasi Sumpah Pemuda.

Acara itu langsung jadi bahan tertawaan nasional setelah salah satu pesertanya, Bayu Setiadi alias Dino, yang memakai jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), mengaku di depan kamera bahwa dia bukan mahasiswa.

Dia dibayar, dan jaketnya dikasih panitia. BEM Undira langsung meradang, merasa almamaternya dicatut.

Istilah baru pun lahir: “mahasewa”. Dan Raffi, dengan segala kemewahan RANS-nya, tertangkap kamera ada di pusaran acara mahasewa itu.

Sehari setelahnya, di panggung Indonesia Youth Summit di TIM, ada penonton yang berdiri dan mengacungkan salam tiga jari ke arah panggung saat Raffi bersama Menpora Erick Thohir sedang bicara.

Sinyal perlawanan yang tidak bisa diedit oleh tim PR. Jogja membaca sinyal itu lebih cepat dari yang lain.

Ini bukan lagi soal Raffi artis yang suka bagi-bagi hadiah.

Di mata publik Jogja, Raffi kini adalah bagian dari rezim.

Seperti yang pernah dibilang Pandji Pragiwaksono dan kembali viral: “Raffi memang bagian dari pemerintah.”

Maka yang diboikot bukan lagi RANS sebagai brand hiburan, tapi RANS sebagai simbol kedekatan istana dengan selebriti.

Raffi sudah klarifikasi di Instagram bahwa dia hanya undangan dan tidak terlibat perencanaan.

Tapi bagi Jogja, klarifikasi Instagram tidak cukup untuk meredam salam tiga jari yang sudah terlanjur diacungkan. Ngeri, Dab. (DW)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.