“Geng Solo” Antisipasi Perubahan Kekuasaan Sebelum 2029
Highlight:
- Budi Arie Setiadi mengingatkan relawan Jokowi untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan politik sebelum Pemilu 2029 di tengah meningkatnya keresahan publik.
- Budi Arie menyebut adanya potensi “patahan sejarah”, dengan mengacu pada perubahan politik dari 1997 menuju Pemilu 1999.
- “Geng Solo” diminta menyiapkan skenario alternatif jika dinamika politik bergerak lebih cepat dari jadwal Pemilu 2029.
Jakarta- Suhu politik nasional mendadak memanas setelah Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, melontarkan wacana mengejutkan mengenai potensi pergeseran kekuasaan yang bisa terjadi jauh lebih cepat dari jadwal Pemilu 2029.
Pernyataan tersebut disampaikan forum “Silaturahmi Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia” yang dihadiri langsung oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo beserta barisan relawannya.
Ucapan Budi Arie ini menjadi sorotan tajam karena pesan yang dibahas dalam diskusi internal tersebut sengaja diarahkan agar berlanjut hingga ke telinga Presiden Prabowo Subianto.
Atmosfer diskusi yang merekam dinamika kebangsaan terkini itu mendadak heboh ketika rekaman video percakapan mereka tersebar luas di berbagai jejaring media sosial.
Dalam tayangan video yang diterima The Asian Post, Selasa (25/8), Budi Arie yang mengenakan batik tampak duduk berdampingan dengan Joko Widodo yang berkemeja putih untuk memetakan persoalan dan mencari terobosan solusi.
Mantan Menteri Koperasi ini yang digantikan oleh Ferry Juliantono pada tahun 2025 itu menegaskan bahwa firasat aktivisnya menangkap sinyal eskalasi politik yang sangat intens jelang aksi demonstrasi besar pada 27 Agustus 2026.
Budi Arie Setiadi secara tegas mempertanyakan kesiapan seluruh elemen pendukung jika dinamika politik mendadak bergeser dari rencana semula.
“Saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong Pemilu 2029, 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Oke, kita siap nggak? Siap-siap! Gitu loh maksud saya,” kata Budi Arie Setiadi.
Membaca pergerakan massa dan riak keresahan di tengah publik, ia menilai situasi sosial saat ini sudah menunjukkan gejolak yang sangat tidak wajar.
Budi Arie Setiadi bahkan menyoroti kemunculan aksi-aksi tandingan di lapangan yang menurutnya sangat berisiko mengulang pola kemunculan kelompok pengamanan swakarsa seperti pada masa krisis moneter tahun 1998.
“Jangan… maksud saya begini lho, saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ada yang abnormal di masyarakat saat ini. Ini demo Pati, Madura demo, Pati ikut tandingan… ah, ini udah kayak PAM Swakarsa di ’98 nih. Pasti kalah yang PAM-PAM ini,” tutur Budi Arie Setiadi.
Melihat kondisi ekonomi masyarakat yang kian tertekan, ia mendesak agar kelompoknya tidak lagi terpaku pada skenario hukum formal yang biasa.
Ia meminta Relawan Jokowi waspada kemunculan peristiwa besar yang mampu mengubah peta politik secara mendadak sebagaimana peristiwa kelam Reformasi.
“Cuma maksud saya, terjadi anomali-anomali di masyarakat yang membuat kita tidak hanya sekedar memikirkan skenario-skenario konvensional. Langkah-langkah, tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya. Ini terjadi yang namanya, kalau menurut pendapat saya, terjadinya yang namanya patahan sejarah. Bagaimana tahun ’97 tiba-tiba pemilu berikutnya ’99,” ujar Budi Arie Setiadi.
Ia menambahkan, akumulasi rasa ketidakpuasan publik dapat memicu percepatan alur sejarah yang tak terduga. Di hadapan Jokowi, Budi Arie meminta seluruh pendukung untuk segera menyiapkan langkah terobosan baru guna mengantisipasi segala kemungkinan sebelum tahun 2029 tiba.
“Dan potensi ini bukannya tidak ada. Sangat besar! Dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy. Saya, insting aktivis saya mengatakan ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya coba mau membuka wacana aja ke teman-teman, supaya berpikir jangan hanya sekedar berpikir 2029. Harus ada pemikiran lain alternatif manakala terjadi percepatan sejarah,” ucap Budi Arie Setiadi.
Pernyataan Budi Arie Setiadi mengenai potensi “patahan sejarah” sebelum Pemilu 2029 ini memicu kontroversi hangat dan menyentak konstelasi politik nasional. Diskusi internal relawan tersebut dinilai berbagai pihak sebagai manuver prematur yang berisiko menciptakan spekulasi liar dan mengganggu stabilitas politik. (*)

