Pelindo, Pemprov Sulut dan Perbankan Siapkan Dukungan Penuh untuk Sukseskan Direct Call Bitung–China

Highlight:

  • Pelindo menyiapkan dukungan logistik dan insentif untuk menyukseskan Direct Call Bitung–China.
  • Pelabuhan Bitung didukung sistem terminal petikemas terintegrasi serta insentif storage hingga 100 persen dan diskon CHC hingga 5 persen.
  • Sinergi Pelindo, Pemprov Sulawesi Utara, regulator, dan perbankan diarahkan untuk memperkuat ekspor serta menjadikan Bitung sebagai gerbang perdagangan internasional.

Jakarta— Keberhasilan program Direct Call Bitung–China tidak hanya bergantung pada kesiapan jalur pelayaran, tetapi juga memerlukan dukungan kuat dari sektor logistik, investasi, perizinan, dan pembiayaan.

AP HEADER

Komitmen tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) persiapan Direct Call Bitung–China yang diselenggarakan Bank Indonesia bersama DJBC Sulawesi Bagian Utara dan KPPBC TMP C Bitung di Manado, Kamis 5 Juni 2026.

Dari sisi logistik, Terminal Head PT Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Bitung, Jusri, memastikan bahwa fasilitas terminal telah siap mendukung kelancaran kegiatan ekspor dan impor melalui jalur pelayaran langsung ke China.

Menurutnya, terminal petikemas di Pelabuhan Bitung telah didukung oleh sistem aplikasi yang terintegrasi dan otomatis sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat dan efisien kepada pengguna jasa.

Selain kesiapan infrastruktur dan sistem, Pelindo juga menyiapkan sejumlah insentif guna mendorong peningkatan aktivitas ekspor melalui Pelabuhan Bitung.

Insentif tersebut antara lain berupa potongan biaya penyimpanan (storage) hingga 100 persen bagi pengguna jasa tertentu.

Pelindo juga menjalin kerja sama dengan perusahaan pelayaran SITC untuk memberikan fasilitas penumpukan petikemas kosong selama 30 hari tanpa biaya tambahan serta diskon tarif Container Handling Charge (CHC) hingga 5 persen yang akan diberikan secara bertahap sesuai perkembangan volume produksi dan ekspor.

“Dukungan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan biaya logistik yang lebih kompetitif sehingga eksportir semakin tertarik memanfaatkan layanan Direct Call,” ujar Jusri.

Sementara itu, dari sisi investasi dan kemudahan berusaha, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Utara, Hermina Syaloom D. Korompis, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperkuat iklim investasi.

Pemerintah Provinsi Sulut, kata Hermina, terus melakukan berbagai pembenahan dalam penyelenggaraan perizinan berusaha guna menciptakan proses yang lebih cepat, mudah, dan transparan bagi investor.

Selain itu, pemerintah daerah juga tengah menyiapkan penguatan berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal untuk menarik investasi baru di sejumlah sektor prioritas.

Sektor-sektor tersebut meliputi perikanan, pertanian, pariwisata, hingga energi terbarukan yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang dan menopang ekspor daerah.

Dukungan terhadap penguatan ekosistem ekspor juga datang dari sektor perbankan. Pimpinan BNI Cabang Bitung, Donny Sekeon, bersama Vice President Bank Mandiri Sulawesi Utara-Gorontalo, Raden Darojat Wirabuana, memaparkan berbagai layanan yang dapat dimanfaatkan eksportir dalam mendukung aktivitas perdagangan internasional.

Keduanya turut menjelaskan implementasi ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE), yang menjadi salah satu instrumen penting dalam tata kelola transaksi ekspor nasional.

Selain itu, perbankan juga memperkenalkan berbagai produk pembiayaan produktif yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperluas kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat daya saing ekspor.

Melalui sinergi antara pemerintah, regulator, operator pelabuhan, dan industri perbankan, Direct Call Bitung–China diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai gerbang perdagangan internasional di kawasan timur Indonesia. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.