Jenderal dr. Mukti Arja Berlian Raih Gelar Doktor, Bawa Perspektif Humanis ke Rumah Sakit Militer

Tidak banyak perwira tinggi yang tetap aktif menangani dunia medis sambil memimpin sistem kesehatan pertahanan negara.

Lebih sedikit lagi yang masih menyempatkan diri menyusun disertasi di tengah agenda kedinasan yang padat.

Namun jalan itulah yang dipilih Marsekal Pertama (Marsma) TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM.Direktur Kesehatan (Dirkes) Ditjen Kuathan Kementerian Pertahanan itu resmi meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sabtu (9/5/2026).

AP HEADER

Gelar tersebut melengkapi perjalanan panjangnya sebagai perwira TNI, dokter spesialis, sekaligus pemimpin organisasi kesehatan militer.

Di balik capaian akademik itu, tersimpan pengalaman lapangan yang membentuk cara pandangnya tentang dunia kesehatan.

Selama bertahun-tahun berkecimpung dalam sistem layanan kesehatan TNI, dr. Mukti melihat bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal fasilitas atau teknologi, melainkan bagaimana manusia di dalam organisasi diperlakukan.

“Tantangannya adalah bagaimana mengelola sumber daya manusia yang besar di lingkungan militer agar tetap humanis dalam melayani,” ujarnya.

Pengalaman itu kemudian melahirkan penelitian mengenai respectful engagement, pendekatan yang menekankan pentingnya keterlibatan dan penghargaan terhadap tenaga kesehatan dalam menciptakan pelayanan yang berkualitas.

Bagi dr. Mukti, rumah sakit bukan sekadar institusi pelayanan medis yang bergerak dengan prosedur dan standar ketat.

Ada faktor emosional, psikologis, dan relasi antarmanusia yang ikut menentukan kualitas pelayanan kepada pasien.

Cara pandang tersebut menjadi menarik karena lahir dari lingkungan militer yang identik dengan disiplin tinggi dan struktur organisasi yang kuat.

Namun justru dari situ, ia melihat pentingnya keseimbangan antara ketegasan sistem dan pendekatan kemanusiaan.

Kesibukan sebagai pejabat strategis ternyata tidak membuatnya jauh dari profesi dokter yang sudah lama digelutinya.

Hingga kini, dr. Mukti tetap aktif sebagai dokter spesialis penyakit dalam dan kesehatan penerbangan.

Perannya di bidang kesehatan penerbangan membuatnya ikut memastikan kondisi fisik pilot dan awak pesawat militer tetap berada dalam performa terbaik.

Ia juga masih terlibat dalam diskusi medis dan penanganan kasus di RSPAU dr. S. Hardjolukito, rumah sakit yang pernah dipimpinnya.

Rutinitas itu berjalan bersamaan dengan proses penyusunan disertasi. Di sela tugas negara dan perjalanan dinas, ia tetap melakukan riset lapangan, wawancara, hingga pengumpulan data organisasi rumah sakit.

Penelitiannya berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai hubungan antara kepuasan kerja tenaga kesehatan dengan kualitas pelayanan dan proses kesembuhan pasien.

Jawaban itulah yang terus ia cari melalui perpaduan perspektif kesehatan, kepemimpinan, dan ekonomi organisasi.

Musik dan Cara Menjaga Keseimbangan

Di luar dunia militer dan rumah sakit, dr. Mukti memiliki cara sendiri untuk menjaga kejernihan pikiran.

Ia menikmati bermain saxophone, alat musik yang baginya bukan sekadar hiburan.

Musik menjadi ruang jeda dari tekanan pekerjaan yang padat sekaligus cara menjaga sensitivitas emosional sebagai pemimpin.

Lewat musik pula, ia merasa lebih mudah membangun komunikasi yang hangat dengan kolega maupun bawahan.

Sesuatu yang menurutnya penting dalam kepemimpinan modern.Gelar doktor yang kini diraih dr. Mukti bukan hanya simbol keberhasilan akademik.

Lebih dari itu, capaian tersebut memperlihatkan upayanya membawa pendekatan yang lebih manusiawi ke dalam sistem kesehatan pertahanan.

Perjalanan Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun lewat ketegasan dan disiplin, tetapi juga lewat kemampuan memahami manusia, menjaga empati, dan terus belajar sepanjang pengabdian. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.