Seruan Kemandirian Perempuan dari Veronica Tan Menggema di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026
Highlight:
- Wamen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan dorong pemberdayaan perempuan lewat ekonomi desa di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026
- Pentingnya membuka akses dan menghadirkan kesetaraan peluang bagi perempuan, atau equal opportunity, sejak dari lingkungan keluarga.
- Banyak perempuan, khususnya di daerah, masih berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan sosial.
Solo, Jawa Tengah– Suasana hangat dan penuh apresiasi terasa dalam Malam Apresiasi Infobank 500 Most Outstanding Women 2026 yang digelar di Wisma Batari, Surakarta, Jumat (17/4).
Mengusung tema Women Art & Society: The Creative Power of Indonesian Women, acara ini menjadi panggung penghormatan bagi perempuan hebat dari sektor keuangan, sektor riil, hingga pejabat publik yang dinilai berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Veronica Tan, dalam sambutannya menegaskan bahwa perjalanan perjuangan perempuan Indonesia masih panjang.
Ia menyebut, momentum Kartini seharusnya dimaknai sebagai dorongan untuk memperjuangkan cita-cita dan kemandirian perempuan.
“Perjalanan kita masih panjang. Saya sudah 1,5 tahun di kementerian, dan ini Kartini kedua yang saya rayakan sebagai wakil menteri,” ujarnya.
Veronica menyoroti cara pandang terhadap sosok Kartini yang menurutnya sering disalahartikan. Ia menilai Kartini bukan sekadar memperjuangkan perempuan secara kolektif, tapi juga berjuang untuk dirinya sendiri dan cita-citanya.
“Saya yakin Kartini dulu tidak memperjuangkan perempuan, tapi untuk dirinya sendiri. Ia memperjuangkan cita-citanya. Ini semangat yang harus kita ikuti,” kata Veronica.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membuka akses dan menghadirkan kesetaraan peluang bagi perempuan, atau equal opportunity, sejak dari lingkungan keluarga.
Menurutnya, pola pendidikan dan pengasuhan sejak dini sangat menentukan. “Perempuan dari awal dididik dengan pola yang sama. Tapi semestinya skses dan ruang keadilan untuk perempuan harus setara,” tegasnya.
Namun, Veronica juga mengingatkan bahwa peran perempuan di ranah domestik selama ini masih belum dihitung secara ekonomi.
Padahal, perempuan memiliki kontribusi besar dalam mengelola rumah tangga, termasuk memahami dinamika inflasi kebutuhan pokok.
“Peran wanita di rumah tidak pernah dihitung secara ekonomi. Padahal mereka mengelola pendapatan, pengeluaran, bahkan memahami inflasi bahan makanan,” ujarnya.
Ia pun mengungkapkan realita yang ditemuinya selama bertugas, yang cukup menyentuh. Banyak perempuan, khususnya di daerah, masih berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan sosial.
“Selama 1,5 tahun ini, saya banyak menangis. Banyak perempuan menerima keadaan, menikah muda, bahkan ada anak-anak yang ditelantarkan. Masalah utamanya adalah ekonomi,” ungkap Veronica.
Untuk itu, pemerintah mulai merancang berbagai program pemberdayaan berbasis desa dengan pendekatan economic empowerment.
Salah satu contohnya adalah pengembangan tenun di NTT yang mampu membantu perempuan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Selain itu, program kebun pangan perempuan juga didorong untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengangkat potensi kuliner lokal.
Di sisi lain, Veronica menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak, termasuk sektor perbankan dan lembaga keuangan, dalam memperluas pemberdayaan perempuan.
Ia juga menyinggung beban ganda yang dihadapi perempuan, yang harus bekerja sekaligus mengurus keluarga.
“Kita harus sama-sama mendukung perempuan. Wanita punya beban ganda, dan itu harus kita perhatikan. Perempuan layak diberi apresiasi sebesar-besarnya,” tutupnya. (*) Ari Nugroho


