Mau Liput Konflik Hizbullah – Israel, Eks Jurnalis Tempo Dideportasi

Highlights:

  • Jadi kesempatan ketiga bagi Faisal Assegaf, jurnalis Albalad.co dari Indonesia untuk meliput konflik Hizbullah-Israel di Libanon. Sayangnya, seperti di dua liputan sebelumnya, dia juga dapat masalah: 2 kali dipenjara, sekarang dideportasi.
  • Petugas imigras keluar loket sambil membawa paspor, meminta Faisal ikut ke kantor imigrasi bandara. Paspor berpindah ke tangan seorang pria yang diduga kepala imigrasi Bandara Rafiq Hariri.
  • Di sela tanya-jawab, seorang staf imigrasi nyeletuk, “Kamu itu sudah terlarang masuk ke Libanon.” Baru saat itu Faisal tahu jika namanya ada di daftar hitam imigrasi Libanon. Penyebabnya? Tidak ada yang menjelaskan.

Jakarta – Ini sebetulnya jadi kesempatan ketiga bagi Faisal Assegaf, jurnalis Albalad.co dari Indonesia untuk meliput konflik Hizbullah-Israel di Libanon. Sayangnya, seperti di dua liputan sebelumnya, dia juga dapat masalah: 2 kali dipenjara, sekarang dideportasi.

Saat transit semalam di Istanbul, Turki, Faisal menginap di rumah kawan lama yang dia kenal sejak sama-sama di Beirut tahun 2007.

Pagi pukul 10.00 waktu setempat, pesawat Middle East Airlines (MEA) yang dia naiki lepas landas menuju Libanon. Pukul 12.00 Waktu Beirut mendarat di Bandara Rafiq Hariri.

Bandara terlihat sepi. Situasi mirip September 2024, saat perang Hizbullah-Israel juga berkecamuk. Faksi Syiah terkuat di Libanon itu memulai perang sehari setelah Hamas menginvasi Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Selain Hizbullah, ada pula Amal, kelompok Syiah lain di “Negeri Cedar”.

Bandara ini menyandang nama perdana menteri Libanon yang tewas dibom truk bunuh diri pada Valentine 2005.

Saat pemeriksaan imigrasi, petugas imigrasi langsung bertanya, “Anta shahafi? (Kamu wartawan?)”

“Naam (Ya),” jawab Faisal.

Petugas imigras keluar loket sambil membawa paspor, meminta Faisal ikut ke kantor imigrasi bandara. Paspor berpindah ke tangan seorang pria yang diduga kepala imigrasi Bandara Rafiq Hariri.

“Apa keperluan Anda ke Beirut?” tanyanya.

“Meliput situasi di tengah perang Hizbullah-Israel,” jawab Faisal.

Tahun 2024, Faisal meliput perang serupa selama dua pekan hingga tewasnya Sekjen Hizbullah Hasan Nasrallah pada 24 September.

Pertanyaan berlanjut: tiket pulang, hotel. Faisal menunjukkan tiket elektronik dan bukti reservasi hotel di kawasan Teluk Zaituna, 11 kilometer dari Dahiyah. Dahiyah, basis Syiah di selatan Beirut, hanya 1,5 kilometer dari bandara. Kawasan itu langganan serangan udara dan drone Israel setiap kali perang dengan Hizbullah meletus. Di Dahiyah pula Nasrallah menemui ajal.

Di sela tanya-jawab, seorang staf imigrasi nyeletuk, “Kamu itu sudah terlarang masuk ke Libanon.”

Baru saat itu Faisal tahu jika namanya ada di daftar hitam imigrasi Libanon. Penyebabnya? Tidak ada yang menjelaskan.

Setiap kali Faisal bertanya, “Kapan saya bisa masuk?” jawabannya cuma, “Tunggu.” Ditanya mengapa visa jurnalis dari Kedubes Libanon di Jakarta yang terbit Rabu, 9 April 2026, tak berlaku, mereka bungkam.

Staf lokal KBRI Beirut yang seharusnya menjemput Faisal bertanya, mengapa belum keluar. “Orang imigrasi minta saya menunggu,” jawab Faisal.

Sejak dicegat, firasat Faisal sudah buruk: sepertinya tak akan diizinkan masuk.

Pukul 15.45 waktu setempat akhirnya keputusan keluar: Faisal deportasi. Diterbangkan kembali ke Istanbul dengan MEA pukul 17.30.

Sejumlah pihak di KBRI Beirut sudah dia hubungi sejak awal. Respons baik, tapi tak berdaya. Duta Besar RI untuk Libanon Dicky Komar pun menyerah. “Imigrasi berwenang penuh, kita tidak bisa intervensi,” tulisnya via WhatsApp, menjawab permintaan Faisal agar menjadi penjamin.

Mengetahui Faisal dideportasi, KBRI Beirut mengutus dua staf lokal. Mereka membawa dua sawarma (makanan khas Timur Tengah yang mirip kebab) ukuran jumbo dan dua botol air.

Seusai divonis, petugas imigrasi mengantar Faisal ke bagian keamanan di pojok bandara. Ruangan 6×4 meter, dikunci dari luar oleh kepala keamanan. Dari jendela besar tanpa gorden, landasan pacu terlihat jelas. Beberapa tentara Libanon berseragam loreng gurun berjaga.

Kepala keamanan mengantar Faisal masuk pesawat. Namun paspor justru diserahkan ke pramugari. “Nanti setelah mendarat di Istanbul, saya kembalikan,” janjinya.

Ternyata Dusta. Di Bandara Istanbul, pramugari itu menyerahkan paspor dan selembar dokumen dari imigrasi Libanon ke polisi bernama Muhammad. “Paspor Anda mesti diperiksa,” katanya.

Hampir sejam Faisal menunggu, paspor kembali. Dia kemudian diantar keluar loket imigrasi.

Selasa, 21 April 2026, Faisal balik ke Jakarta. Seperti biasa, dua staf konsuler KJRI Istanbul sigap membantu. Tiket pulang 4 Mei dimajukan menjadi 21 April.

Perjalanan kali ini menambah daftar pengalaman getir Faisal: 2024 dipenjara di Libanon usai ditangkap Hizbullah, 2025 ditahan pasukan Kurdi di Suriah, dan 2026 dideportasi dari Libanon.

Padahal, visa jurnalis resmi, tiket pulang ada, hotel jelas. Namun, daftar hitam imigrasi Libanon lebih berkuasa dari semua dokumen. “Hingga hari ini, alasan pencekalan tak pernah dijelaskan,” ujar Faisal kepada The Asian Post, Selasa (21/4).

Faisal adalah mantan wartawan Tempo sejak akhir tahun 90-an. Selepas dari Tempo dia membangun website berita sendiri khusus isu Timur Tengah dengan alamat Albalad.co. “Albalad artinya Tanah Air,” ujarnya suatu hari.

Saat konflik Iran Vs Amerika-Israel, Faisal sering menjadi narasumber media, khususnya televisi. Analisisnya tajam dan membumi, karena dia sering mondar-mandir ke Timur Tengah. Dengan kemampuan bahasa Arab dan Inggris yang fasih, dia memiliki banyak jaringan narasumber di Timur Tengah. Karena kompetensi dan jaringannya itu pula, dia sering dijadikan konsultan oleh investor yang akan berinvestasi di kawasan Timur Tengah. DW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.