Tumpeng Kostrad dan Jenderal “NKRI Harga Mati”

Oleh Darto Wiryosukarto, Redaktur Pelaksana The Asian Post

Jakarta— Saya tak mengenal secara pribadi Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan RI, yang baru wafat pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 14.03 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

AP HEADER

Tapi, saya punya pengalaman 25 tahun silam, yang membuat saya berkesimpulan: Ryamizard Ryacudu adalah tentara yang baik. Jenderal yang baik.

Berawal dari tugas liputan di acara ulang tahun ke-40 Kostrad dan Apel Kesiagaan Lintas Angkatan di Lapangan Monas, 6 Maret 2001.

Puncak acara diisi dengan atraksi kolosal Parade Gajah Mada oleh prajurit-prajurit Kostrad.

Usai acara, belasan jurnalis langsung merangsek ke stage tamu VVIP. Tl

Targetnya belasan jenderal AD yang terlihat gagah-gagah dengan atribut militernya. Ada yang masih aktif, tak sedikit yang purnawirawan.

Yang saya ingat, ada R. Hartono, Rudini, Try Sutrisno, Edi Sudrajat, AM Hendropriyono, dan tentu saja Ryamizard Ryacudu, sang tuan rumah.

Jurnalis melakukan ritual wajibnya: doorstop massal. Kewajiban yang sering saya abaikan.

Doorstop massal tak ubahnya seperti praktik copypaste dan rewrite berita dari internet, hari ini. Isi sama, hanya judul yang beda.

Itulah mengapa saya memilih mencari angle lain. Dan, Tuhan memberkati. Tiba-tiba dari arah belakang stage VVIP muncul sesosok wanita dengan tampilan unik: rok hitam, baju putih kumal, dan rambut gimbal.

Tampak kontras di antara tamu yang klimis necis.

Ya, dia ODGJ, eufemisme untuk orang gila. Dia berjalan menuju benda sakral di acara itu: Nasi Tumpeng. Dan, tanpa basa-basi langsung main sikat. Makan.

Sepertinya dia lapar. Peristiwa yang terjadi hanya dalam hitungan detik–karena tiga prajurit Kowad keburu mengamankannya–itulah yang pada esok harinya jadi headline di koran RM, koran politik terdepan di Tanah Air.

Judulnya serem, khas RM: Tumpeng Kostrad Disikat Orang Gila. Di samping judul, foto Ryamizard setengah badan, dengan pose tangan kanan menyilang di dada, dan jari membentuk revolver.

Pagi itu saya belum melihat korannya. Wong masih tidur. Saya terbangun demi mendegar dering ponsel bertalu-talu, berulang-ulang, dengan suara poliponiknya.

“RTO, kamu dicari-cari tentara,” demikian FN, kolega baik saya di RM, yang sering ngepos di markas militer, di ujung telepon.

RTO adalah inisial saya yang jadi panggilan sehari-hari di kantor.

“Maksudnya,” jawab saya, sambil membersihkan kotoran yang menumpuk di sudut mata.

“Tulisanmu.” “Oh.” Saya pun bergegas ke kantor, dan siangnya meluncur ke Makostrad.

“Daripada kamu ketemu tentara di jalan, lebih baik datang ke markasnya langsung,” demikian saran FN, yang akhirnya saya ikuti.

Sampai di Makostrad di Medan Merdeka Timur, saya melewati tiga peleton prajurit Kostrad sedang berjemur, hampir memenuhi halaman.

“Panas-panas gini kok berjemur,” batin saya saat itu.

Saya mulai tegang ketika lama menunggu di ruang Kapen Kostrad. Dan, semakin tegang ketika Letkol Handoko yang menemui saya, memberondong dengan satu pertanyaan berulang: “Menurut Anda, lebih menarik mana, Parade Gajah Mada atau orang gila makan tumpeng?” tanyanya, datar.

“Lebih menarik orang gila makan tumpeng,” jawab saya, lugas.

“Saya ulangi, lebih menarik mana, Parade Gajah Mada yang meriah itu atau orang gila makan tumpeng?”

“Lebih menarik orang gila makan tumpeng.”

“Kamu tahu, ndak. Akibat tulisanmu, prajurit yang datang dari seluruh wilayah Indonesia dan berlatih berhari-hari di sini, sekarang sedang dihukum.”

Saya terdiam.

“Saya ulangi, menurut Anda, lebih menarik mana Parade Gajah Mada atau orang gila makan nasi tumpeng?” “Orang gila makan nasi tumpeng.”

“Ya sudahlah. Mungkin kita beda sudut pandang. Anggota kita kemarin sudah mengamankan orang gila itu.”

Kalimat terakhir Letkol Handoko itu membuat saya sedikit lega.

Sejak awal satu hal yang saya khawatirkan: jika Kostrad membantah ada orang gila masuk ke lokasi acara, apalagi makan tumpeng, habis saya.

Sebab, saya nyaris tanpa bukti. Hanya pandangan mata an sich.

Andai saat itu, di tahun 2001, sudah ada iPhone 14 Pro Max, atau Samsung Galaxy Z Fold 2, atau minimal Xiaomi 12 Pro, tentu ada foto atau video yang bisa jadi barang bukti.

Sayang ponsel saya hanya Nokia 3110, dengan nada dering poliponik.

Saya bersyukur, Jenderal Ryamizard baik hati. Meski kecewa dengan berita tentang Tumpeng Kostrad, yang membuatnya “menghukum” prajuritnya dengan berjemur di siang bolong, dia memaklumi angle tulisan yang saya buat.

Alih-alih marah, saya malah dijamu makan siang. Menunya saya ingat sampai sekarang: sayur asem. Bahkan, pulangnya, saya dibawain “oleh-oleh”. Satu kardus berisi ransum tentara.

Saya juga masih ingat isinya: biskuit padat, sereal, gula, kopi, dan kaos Kostrad. Saya juga bersyukur, karier Ryamizard makin melesat.

Tak lama setelah itu, Kasad Jenderal Endriartono Sutarto mengangkatnya sebagai Wakil Kasad. Keberhasilan menggelar apel siaga lintas angkatan di HUT Kostrad itu mendapat apresiasi atasannya.

Setahun setelah peristiwa itu, dia diangkat jadi Kasad (2002 – 2005). Setelah purnatugas, dia bahkan dipercaya menjadi Menhan (2014 – 2019).

Di dunia politik, namanya juga cukup harum. Dia sempat digadang-gadang sebagai bakal cawapresnya Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019.

Sosoknya sebagai jenderal yang tegas dan merakyat dinilai cocok mendampingi Jokowi yang sipil.

Di kalangan koleganya sesama militer, Ryamizard juga cukup disegani.

Selain dinilai sebagai “tentara garis keras” yang tegas, berani, dan disiplin, dia juga sangat nasionalis.

Slogan yang sering diucapkannya “NKRI harga mati”, hingga kini masih sering kita dengar dan menjadi semangat kolektif bangsa ini.

Selamat jalan, Jenderal. Semoga husnul khatimah dan sumbangsih Anda kepada bangsa dan negara ini berbalas surga. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.