Destry Damayanti Bongkar Kunci Sukses Perempuan Tembus Pucuk Kepemimpinan

Highlight:

  • Destry Damayanti tegaskan perempuan butuh support system kuat, dari lingkungan, keluarga dan pasangan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
  • Perempuan telah dominan di sektor strategis, termasuk mengelola lebih dari 60% UMKM di Indonesia
  • Kunci sukses perempuan terletak pada pilihan hidup, kepemimpinan kolaboratif, dan dukungan lingkungan yang solid

Solo, Jawa Tengah- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti melontarkan pernyataan tajam di ajang Infobank 500 Most Outstanding Women 2026.

Ia menegaskan, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi emansipasi perempuan, melainkan emansipasi pria.

Menurut Destry, tanpa dukungan sistem yang kuat dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan pasangan, perempuan akan sulit mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Support system menjadi fondasi penting di balik keberhasilan perempuan menembus berbagai posisi strategis.

“Yang kita butuhkan sekarang bukan emansipasi perempuan tapi emansipasi pria. Karena tanpa support system yang lengkap kita perempuan akan sulit mengeluarkan potensi yang ada,” ujarnya, dalam ajang apresiasi Infobank 500 Most Outstanding Women 2026 yang digelar di Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, posisi perempuan di Indonesia sebenarnya sudah sangat kuat, termasuk di sektor keuangan. Ia menilai perempuan telah banyak menduduki jabatan strategis.

“Kalau emansipasi perempuan, Indonesia sudah sangat baik. Posisi apa yang perempuan tidak ada. Di perbankan banyak perempuan yang jadi direksi,” kata Destry.

Tapi, ia mengingatkan bahwa capaian itu tidak datang begitu saja. Ada peran besar dari lingkungan sekitar yang menjadi fondasi kesuksesan perempuan.

“Itu tidak lepas dari sistem yang mendukung kita, dari keluarga, dari pasangan. Tapi memang tidak mudah membangun sistem support yang kuat,” jelasnya.

Lebih jauh, Destry menekankan bahwa perempuan Indonesia sejak dulu sudah punya rekam jejak kuat dalam sejarah.

Ia menyinggung sosok Laksamana Malahayati hingga Kartini sebagai bukti bahwa perempuan mampu berjuang di berbagai bidang.

Dalam konteks modern, ia juga menyoroti kontribusi perempuan di sektor ekonomi, terutama UMKM yang lebih dari 60 persen dikelola perempuan.

Ia juga mengulas gaya kepemimpinan perempuan yang dinilainya punya keunggulan tersendiri.

Secara ilmiah, kata Destry, perempuan cenderung lebih detail dan memiliki pendekatan yang kolaboratif serta komunikatif. Hal ini membuat perempuan mampu menghadirkan warna berbeda dalam kepemimpinan, termasuk dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.

Bagian paling menarik datang saat Destry membagikan kisah hidupnya. Ia bercerita bahwa sejak kecil sudah terbiasa dihadapkan pada pilihan.

“Hidup kita ini dipenuhi dengan pilihan. Dan kita tidak bisa memilih semuanya karena ada keterbatasan,” ungkapnya.

Dari latar belakang sebagai atlet renang dan tenis, ia akhirnya memilih tenis, lalu pada usia remaja harus menentukan antara menjadi atlet atau fokus sekolah.

“Saya putuskan sekolah ekonomi. Dari situ saya harus fokus menyukai ekonomi,” katanya.

Dari perjalanan itu, Destry belajar konsep opportunity cost yang kemudian menjadi pegangan hidupnya.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan bukan semata soal ambisi besar, melainkan bagaimana seseorang menjalani proses dengan tulus dan realistis.

“Apa yang saya kerjakan, saya kerjakan dengan tulus, soal hasilnya seperti apa, itu kita serahkan kepada Tuhan,” tegasnya.

Ia pun menutup dengan pesan sederhana namun kuat untuk para perempuan Indonesia: menjadi diri sendiri dan memberi manfaat bagi orang lain adalah kunci utama menuju kesuksesan, di manapun itu, baik dunia kerja maupun keluarga. (*) Ari Nugroho

Editor: Ranu Arasyki Lubis

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.