Jemmy Atmadja “PANGERAN” PENGENGGAM PEDANG RAJA JAWA
Jemmy Atmadja, Direktur Utama PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (Maximus Insurance), cukup beruntung.
Berkat hobinya mengoleksi keris dan senjata berpamor, dia kedatangan pedang pemberian Ratu Wilhelmina yang dipersembahkan untuk Susuhunan Pakubuwono X, Raka Jawa 1893-1939 yang terkenal visioner dan berselera tinggi.
Hanya sosok dengan kasta “pangeran” yang bisa memiliki pedang tertuliskan tahun 1902.

SUATU hari di tahun 1902, Ratu Wilhelmina dari Belanda memberikan sebilah pedang sepanjang 1 meter kepada Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) X, raja Kasunanan Surakarta 1893-1939. Ratu Belanda yang dikenal inspiratif itu tahu betul selera PB X.
Raja Jawa jago berdiplomasi itu berseler tinggi dan hobi mengoleksi benda-benda antik seperti cermin, jam tangan, koin, keris, gelas kristal, batik, kereta, mobil, hingga saham.
Dan sebagaimana benda seperti keris, tombak, dan bendera, pedang yang diberikan Sang Ratu juga menjadi simbol pengakuan Pemerintah Belanda atas ligitimasi PB X sebagai penguasa di wilayah yang meliputi Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, dan Klaten.
Pedang yang dipesan khusus oleh Ratu Wilhelmina untuk PB X itu, tampak di bilahnya tertulis huruf Jawa dan tulisan PB X Kraton Soerakarta 1902.
Setelah lebih dari seabad bersemayam di lingkungan keraton atau tangan bangsawan penerus Kasunanan Surakarta, pedang bersejarah tersebut kini berada di lantai 8, Parc Place, SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Pedang tersebut bertengger di dalam akrilik beralasakan kain bludru berwarna biru yang dikelilingi frame berwarna emas, yang diletakkan meja marmer, dua langkah dari kursi Direktur Utama Maximus Insurance yang diduduki Jemmy Atmadja.
Suatu hari pada bulan Mei 2026, The Asian Post menyambangi Jemmy Atmadja yang terlihat sangat seksama menghunus Kanjeng Kyai Bharat Waja, sambil memandang jengkal demi jengkal dari deder hingga bilah sampai ujung.
“Benda ini menyimpang kisah sejarah yang panjang, kisah tentang seorang Raja Jawa yang menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintah Kolonial Belanda,” ucap Jemmy.

Jemmy mengaku menyukai benda antik, terutama senjata berusia ratusan tahun. Dia pun tidak sembarangan menempatkan benda-benda koleksinya.
“Ini meja marmer yang saya cari, bahkan istri saya ikut membantu memilihkan yang terbaik, dan kotak akrilik dengan bingkai emas ini diberikan khusus dari sahabat, Mas Sulistyo,” ujarnya kepada The Asian Post.
Tak jauh dari pedang tersebut, bertengger tiga keris yang semuanya dalam posisi terhunus dari warangkanya.
Kepada The Asian Post, Jemmy memperkenal tiga keris tersebut. Keris Kyai Sengkelat, Keris Kyai Carubuk, dan Keris Sempono Bungkem.
“Keris Kyai Sengkelat dan Kyai Carubuk, ini adalah Dhapur keris karya Empu Supo, yang waktu itu dibuat atas pesanan Sunan Kalijaga,” jelasnya.
Jemmy menambahkan, keris merupakan warisan budaya bangsa yang menyimpan nilai-nilai sejarah dan dianggap memiliki keistimewaan sendiri dibandingkan benda artefak lain.
Sebab, keris dibuat dibuat oleh tangan dingin seorang Mpu, yang keahliannya jauh di atas pandai besi biasa.
Karena doa dan laku spiritualnya sang Mpu, keris yang dibuatnya memiliki tuah atau energi. “Setiap logam kan memiliki energi.

Apalagi keris yang dibuat oleh seorang Mpu melalui proses panjang. Makanya keris juga disebut sebagai Tosan Aji. Tosan artinya besi, dan aji artinya bernilai. Besi yang bernilai,” imbuh Jemmy.
Sebagai penyuka senjata pusaka, Jemmy pun sering memenuhi undangan untuk ikut pameran.
Terakhir ada ajang Solo Art and Culture Exhibition pada 17-18 April 2026, pedang dan tiga keris koleksinya ikut bertengger bersama keris-keris milik sejumlah tokoh seperti Presiden Prabowo Subianto, Fadli Zon, Mayjen TNI Endro Satoto, Mayjen TNI Taufik Shobri, Fathan Subchi, Sapto Amal Damandari, Antonius Widodo, Nicolaus Prawiro, hingga sejumlah bankir yang memiliki hobi yang sama. (*) KM

