OJK Tegaskan Sektor Jasa Keuangan Tetap Kuat, Kredit Perbankan Tumbuh 9,98 Persen
Highlight:
- OJK memastikan sektor jasa keuangan tetap solid di tengah inflasi global dan gejolak geopolitik.
- Kredit perbankan tumbuh 9,98% menjadi Rp8.755 triliun, ditopang kredit investasi dan korporasi.
- Investor pasar modal tembus 27,75 juta, sementara aset industri asuransi dan dana pensiun terus meningkat.

Jakarta– Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.
Demikian disampaikan Friderica dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulanan di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berlanjut menyebabkan harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) sehingga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah berbagai negara.
Meski demikian, sejalan dengan perkembangan tersebut, kinerja sektor jasa keuangan tetap solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif dengan solvabilitas yang terjaga pada level tinggi.
Di tengah dinamika tersebut, kondisi pasar modal domestik tetap menunjukkan tingkat ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang terjaga.
Rata-rata bid-ask spread pada Mei 2026 tetap terjaga rendah pada level 1,50 persen, mencerminkan likuiditas pasar yang tetap baik.
Adapun investor asing membukukan net sell di pasar saham sebesar Rp4,10 triliun mtm pada periode laporan.
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir Mei 2026 ditutup pada level 437,26 atau menguat 0,32 persen mtm. Adapun yield SBN naik rata-rata sebesar 5,61 bps mtm, dipengaruhi oleh dinamika persepsi risiko akibat ketidakpastian global.
Jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan, dengan penambahan sebanyak 1,26 juta investor (mtm) di bulan Mei 2026, sehingga total jumlah investor mencapai 27,75 juta (tumbuh 36,27 persen ytd).
Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Hingga akhir Mei 2026 (ytd), nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun, serta 75 rencana Penawaran Umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun.
Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), total nilai dana dihimpun telah mencapai Rp1,94 triliun.
Sehubungan dengan pengumuman rebalancing MSCI dan FTSE Russell yang telah dirilis pada Mei 2026, OJK bersama SRO terus mencermati perkembangan pasar serta melakukan koordinasi intensif dengan seluruh stakeholders, untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan penyelesaian transaksi di pasar modal tetap dapat berjalan dengan baik.
Kebijakan-kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini berlaku dinilai tetap relevan dan efektif untuk menjaga stabilitas pasar modal dalam negeri.
Ke depan, OJK dan SRO terus memantau berbagai agenda global index providers, serta memastikan bahwa reformasi pasar modal yang sedang berjalan dapat terus diimplementasikan secara konsisten dalam upaya memperkuat kredibilitas dan daya tarik investasi pasar modal Indonesia.
Perbankan
Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada April 2026, kredit tumbuh sebesar 9,98 persen yoy menjadi Rp8.755 triliun, meningkat dibandingkan posisi Maret 2026 yang tumbuh 9,49 persen yoy.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 19,48 persen. Al
Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 15,51 persen yoy.
Sementara itu kredit UMKM telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,16 persen yoy (Maret 2026: tumbuh 0,12 persen yoy).
Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 14,35 persen yoy.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17 persen (Maret 2026: 2,14 persen) dan NPL net terjaga di 0,84 persen (Maret 2026: 0,83 persen).
Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,82 persen (Maret 2026: 8,94 persen).
Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,46 persen (Maret 2026: 2,47 persen).
Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 23,97 persen (Maret 2026: 25,09 persen). Hal ini menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.
Asuransi dan Dapen
Kinerja Industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum tetap stabil dan terjaga.
Untuk industri asuransi, aset industri asuransi pada April 2026 mencapai Rp1.202,16 triliun atau naik 3,39 persen yoy.
Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp984,2 triliun atau naik 4,65 persen yoy.
Adapun kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode April 2026 mencapai Rp116,01 triliun, atau terkontraksi 0,36 persen yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang tumbuh 3,28 persen yoy dengan nilai sebesar Rp62,58 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi yang terkontraksi sebesar 4,32 persen yoy dengan nilai sebesar Rp53,43 triliun.
Permodalan industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 476,11 persen dan 311,74 persen (di atas threshold sebesar 120 persen).
Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun per April 2026 tumbuh sebesar 6,12 persen yoy dengan nilai mencapai Rp1.690,64 triliun.
Untuk program pensiun sukarela, total aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,63 persen yoy dengan nilai mencapai Rp410,14 triliun.
Untuk program pensiun wajib, yang terdiri dari program jaminan hari tua dan jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan, serta program tabungan hari tua dan akumulasi iuran pensiun, ASN, TNI, dan POLRI, total aset mencapai Rp1.280,50 triliun atau tumbuh sebesar 6,65 persen yoy.
Pada perusahaan penjaminan, di Maret 2026 nilai aset terkontraksi sebesar 3,39 persen yoy menjadi Rp46,73 triliun.
Industri Pembiayaan
Di sektor PVML, piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh sebesar 2,08 persen yoy pada April 2026 menjadi Rp514,65 triliun, didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 10,64 persen yoy.
Profil risiko Perusahaan Pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,89 persen dan NPF net sebesar 0,78 persen.
Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,14 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.
Pembiayaan modal ventura pada April 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,87 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,35 triliun.
Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada April 2026 tumbuh 26,11 persen yoy, dengan nominal sebesar Rp102,07 triliun.
Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) tercatat di posisi 4,62 persen.
Terkait dengan perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per April 2026, jumlah akun konsumen mencapai 21,70 juta akun konsumen (tumbuh 1,57 persen mtd).
Sementara itu, pada April 2026 nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp22,89 triliun dan nilai transaksi derivatif AKD tercatat sebesar Rp5,10 triliun.
Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik. (*)

