Cerdas Cermat MPR, Juri dan MC-nya Tidak Cerdas dan Tidak Cermat

INI tragedi paling elegan abad ini: anak SMA diuji “Empat Pilar”, tapi pilar “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” rubuh justru di meja juri.

Padahal, Plato pernah wanti-wanti: “Wise men speak because they have something to say; fools because they have to say something.”

Sayangnya, juri memilih jadi yang kedua. Soal sudah selesai terjawab, telinga juri yang belum.

AP HEADER

Tragedi “tidak cerdas dan tidak cermat” di Kalbar ini sebetulnya tak perlu terjadi.

Dengan teknologi sekarang, juri bisa crosscheck melalui rekaman video.

VAR (Video Assistant Reefree) di sepakbola saja dipakai, masa lomba tingkat MPR kalah modern dari Liga 1?

Juri justru anti-klarifikasi.

Ini bukan lagi soal salah dengar. Bukan pula soal artikulasi. Ini soal gengsi.

Andai juri mendengar nasihat Bertrand Russell: “The whole problem with the world is that fools and fanatics are always so certain of themselves, and wiser people so full of doubts.”

Juri kemarin terlalu yakin, terlalu salah.

Juri telah mencoreng muka MPR yang sudah bopeng. Lembaga yang tugasnya menanamkan “musyawarah mufakat” malah mempraktikkan “pokoknya saya benar”.

Juri memilih malu-maluin ketimbang malu-malu lalu minta maaf di tempat.

Benar kata Bung Hatta: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman.

Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”MPR sudah minta maaf dan men-skorsing juri plus MC. Bagus.

Tapi bagaimana dengan korban, siswa-siswa SMAN 1 Pontianak itu? Mereka latihan berbulan-bulan, tapi mental dibanting di panggung.

Tekanan psikologis itu nyata. Negara hadir jangan cuma bawa materai permintaan maaf.

Hadir juga bawa pemulihan. Beasiswa, konseling, atau tanding ulang yang adil. Ingatlah pesan Nelson Mandela: “There can be no keener revelation of a society’s soul than the way in which it treats its children.”

Kasus ini membalik mimbar. Yang dewasa, berseragam, bawa titel “juri MPR”, ternyata bisa keliru. Yang 17 tahun, berseragam putih-abu, justru yang pegang fakta.

Keberanian siswa menggugat adalah kurikulum Empat Pilar paling nyata.

John F. Kennedy bilang: “Conformity is the jailer of freedom and the enemy of growth.”

Anak-anak itu menolak tunduk. Mereka memilih tumbuh. Dan kita semua dapat kuliah gratis: jangan malu akui salah.

Malu-lah kalau salah tapi ngotot.

Cerdas cermat itu cermin. Kemarin cermin itu retak.

Yang terlihat bukan wajah anak bangsa yang cerdas, tapi wajah penguasa panggung yang takut kalah.

Di era algoritma, semua terekam. Semakin ditutupi, semakin viral. Semakin ngotot, semakin lucu.

Maka, sebelum jadi bahan skripsi mahasiswa filsafat tahun depan, ingat pesan Socrates: “The only true wisdom is in knowing you know nothing.”

Mulai sekarang, kalau gelar lomba cerdas cermat, pastikan yang pertama cerdas: jurinya. (Darto Wiryosukarto)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.