Melarang “Pesta Babi”, Membongkar Kolonialisme di Era Algoritma
GELOMBANG pelarangan nobar film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya jurnalis Dandhy Laksono bukan insiden tunggal.
Catatannya memanjang: mulai dari Papua, Ternate, Mazaram, hingga Yogya.
Kenapa takut sama film dokumenter? Pesta Babi bukanlah fiksi.

Film ini merekam pembukaan 2,5 juta hektare lahan di Merauke untuk tebu dan padi demi program pangan-bioenergi, plus ekspansi sawit.
Di film ini ada yang hilang, dan ada yang datang. Yang bicara: masyarakat adat Suku Muyu.
Yang hilang: hutan, sungai jernih, babi yang dilepas bertahun-tahun untuk upacara adat. Yang datang: korporasi dan militer pengaman proyek.
Itulah kenapa mereka takut. Ketakutan berlebihan biasanya ada sesuatu yang coba disembunyikan.
Disembunyikan bisa diduga karena ada yang salah.
Kata Shakespeare: “No legacy is so rich as honesty.” Kalau proyek PSN itu bersih, kenapa proyektor harus dimatiin?
Pelarangan dan pembubaran nobar Pesta Babi juga menjadi blunder. Karena, semakin sesuatu disembunyikan, disensor, dan coba dihapus, justru semakin populer dan menyebar luas. Ini Streisand Effect.
Oscar Wilde jauh hari bilang: “The only way to get rid of a temptation is to yield to it.” Pemerintah kita pilih cara sebaliknya: melarang. Hasilnya? Godaan nonton makin besar.
Terbukti, begitu dilarang nobar di Indonesia, di beberapa negara justru dilakukan nobar dan diskusi Pesta Babi. Ini bukan diplomasi. Ini bunuh diri reputasi.
Siapa yang bunuh diri? Yang anti-kritik. Siapa? Kata Voltaire: “To learn who rules over you, simply find out who you are not allowed to criticize.” Hari ini kita tahu: yang tak boleh dikritik adalah proyek yang gusur hutan adat.
Dari pelarangan nobar Pesta Babi, kita menjadi tahu, ada sesuatu yang coba disembunyikan. Dibungkam.
Ini kelakuan primitif di era algoritma. Era dimana tak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi. Semakin ditutupi, aromanya justru semakin anyir.
Dan, isu miring Papua akan kembali mendunia. Ini bisa jadi ancaman bagi Si Macan Asia.
Memang benar kata George Orwell: “In a time of universal deceit, telling the truth is a revolutionary act.” Dandhy cuma telling the truth. Kok malah pemerintah yang acting like deceit. (Darto Wiryosukarto)

