Peringatan Keras Tokoh Perempuan: Pertumbuhan Ekonomi Rapuh Tanpa Pemberdayaan Perempuan
COO Indonesia Business Council (IBC) William Sabandar, Managing Director Danantara Development Management Fund (DDMF) Rachmat Kaimuddin, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid, Founder Saraswati Fellowship Rahayu Saraswati, Founder dan Director The Wahid Foundation Yenny Wahid dalam acara Launching Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (13/10). (Foto: Dok. AP/JOS)Highlights:
- Perwakilan Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyoroti fenomena kesenjangan yang sering terabaikan oleh sektor perbankan dan pembuat kebijakan, yang ia sebut sebagai the missing middle (kelompok menengah yang hilang).
- Realita pahit di lapangan di mana banyak perempuan di sektor informal tidak memiliki akses ke permodalan yang layak karena dianggap tidak memenuhi syarat oleh sistem keuangan konvensional.
- Sementara itu, Pendiri Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati, menekankan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar isu sosial, melainkan strategi ekonomi yang esensial bagi negara dengan populasi terbesar keempat di dunia seperti Indonesia.
Jakarta– Isu ketimpangan gender, kemiskinan multidimensi, hingga tengkes (stunting) menjadi sorotan tajam dalam acara Peluncuran Indonesia Economic Summit (IES) 2027, Selasa (13/10/2026) di Jakarta. Tokoh-tokoh perempuan yang hadir menegaskan bahwa indikator ekonomi makro yang gemilang akan menjadi ilusi jika kelompok rentan, khususnya perempuan, masih tertinggal.
Perwakilan Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyoroti fenomena kesenjangan yang sering terabaikan oleh sektor perbankan dan pembuat kebijakan, yang ia sebut sebagai the missing middle (kelompok menengah yang hilang).
“Kita melihat realitasnya, ketika perempuan tidak berdaya secara ekonomi, dampaknya merembet ke mana-mana. Kita tidak bisa hanya melihat kemiskinan sebagai isu terpisah, karena ini sangat berkaitan dengan stunting dan pernikahan anak,” tegas Yenny dalam acara Peluncuran Indonesia Economic Summit (IES) 2027, dikutip Rabu, 14 Oktober 2026.
Yenny memaparkan realita pahit di lapangan di mana banyak perempuan di sektor informal tidak memiliki akses ke permodalan yang layak karena dianggap tidak memenuhi syarat oleh sistem keuangan konvensional.
“Ketika kita bicara soal kelompok rentan, perempuan sering kali berada di garis depan. Ada celah besar di mana banyak perempuan pengusaha mikro yang unbankable (tidak memenuhi syarat bank). Jika kita ingin ekonomi tumbuh secara inklusif, bisnis dan pemerintah harus memfasilitasi the missing middle ini,” tambah Yenny.
Seirama dengan Yenny, Pendiri Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati, menekankan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar isu sosial, melainkan strategi ekonomi yang esensial bagi negara dengan populasi terbesar keempat di dunia seperti Indonesia.
“Stunting dan pemberdayaan perempuan adalah hal yang saling terkait erat. Bayangkan, kita adalah populasi terbesar keempat di dunia. Jika kita tidak menyertakan perempuan ke dalam pertumbuhan ekonomi, kita kehilangan setengah dari potensi bangsa ini,” sebut Saraswati.
Saras juga menyerukan pentingnya kolaborasi filantropi gaya baru yang lebih berani mengambil risiko.
“Ini bukan sekadar soal memberi dana amal. Ini tentang venture philanthropy. Kita harus bisa menghubungkan mereka yang memiliki firepower (kekuatan modal) dengan para inovator di akar rumput. Di sinilah letak kekuatan sesungguhnya dari masyarakat sipil,” tukas Saras. JOS
Editor: SW

