Keris, Peradaban, dan Identitas: Di Solo, Infobank Menyalakan Kembali Jiwa Nusantara

Highlight:

  • Infobank menghadirkan Solo Art and Culture Exhibition 2026, ruang perjumpaan lintas zaman yang menghidupkan kembali warisan budaya peradaban bangsa.
  • Fadli Zon menegaskan keris sebagai ekspresi budaya asli Indonesia yang merepresentasikan filosofi, simbol, dan jati diri bangsa.
  • Keris hingga kirab pusaka Nusantara menegaskan Indonesia sebagai civilizational state dengan akar peradaban panjang.

Solo, Jawa Tengah– Museum Keris Nusantara, Sriwedari, bukan sekadar ruang pamer dalam beberapa hari terakhir. Tempat ini berubah menjadi ruang perjumpaan lintas zaman, di mana sejarah, identitas, dan masa depan budaya Indonesia saling menyapa.

Melalui Infobank Solo Art and Culture Exhibition – Jaga Budaya Nusantara yang berlangsung pada 16–19 April 2026, publik diajak melihat kembali warisan budaya bukan hanya sebagai artefak, tetapi sebagai fondasi peradaban bangsa.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa momentum pameran ini terasa semakin kuat karena beririsan dengan peringatan Hari Warisan Dunia pada 18 April dan Hari Keris Nasional pada 19 April.

Rangkaian kegiatan budaya pun meluas hingga ke kawasan Candi Borobudur melalui kirab pusaka Nusantara yang melibatkan seniman, budayawan, tokoh agama, hingga masyarakat desa.

“Kita tidak hanya menampilkan budaya, tetapi juga menghidupkannya. Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa warisan ini adalah milik bersama yang harus terus dijaga dan diwariskan,” ujar Fadli Zon saat membuka acara.

Dalam pameran ini, keris tampil sebagai salah satu pusat perhatian, benda pusaka yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia sejak 2005.

Bagi Fadli, makna keris jauh melampaui bentuk fisiknya.

“Keris adalah ekspresi budaya asli Indonesia. Di dalamnya terdapat filosofi, simbol, dan pencapaian artistik yang sangat tinggi. Ini bukan sekadar benda, tetapi cerminan jati diri bangsa,” tegasnya.

Ia menjelaskan, setiap elemen dalam keris. Mulai dari dapur, pamor, hingga teknik pengolahan logam yang menyimpan nilai pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Lebih jauh, lewat pameran keris ini, Fadli Zon mengingatkan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada keberagaman budaya, tetapi juga pada kedalaman sejarahnya sebagai peradaban tua.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, sebuah mega diversity. Bahkan jika ditarik jauh ke belakang. Kita adalah bagian dari peradaban yang sudah terbentuk sejak jutaan tahun lalu, termasuk jejak Homo soloensis di wilayah ini,” tegasnya.

Indonesia Dibangun dari Sejarah Panjang

Ia menyinggung temuan arkeologis di kawasan Sangiran yang menjadi bukti bahwa Nusantara merupakan salah satu pusat awal peradaban manusia.

Hal ini, menurutnya, menegaskan posisi Indonesia bukan sekadar nation state, tetapi civilizational state dengan sejarah panjang yang berlapis.

Di sisi lain, penyelenggaraan pameran ini juga mencerminkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga dunia usaha.

“Pemajuan kebudayaan adalah amanat konstitusi. Negara harus hadir, tetapi kolaborasi dan gotong royong menjadi kunci untuk memastikan budaya kita tetap hidup dan berkembang,” kata Fadli.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan para kolektor dari berbagai latar belakang, termasuk pejabat negara, TNI, Polri, hingga pelaku industri keuangan, yang turut ambil bagian dalam pelestarian keris.

Infobank Solo Art and Culture Exhibition 2026 pun menjadi pengingat kuat bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi masa depan tempat identitas Indonesia terus tumbuh dan menemukan maknanya. (*) Ranu Arasyki Lubis

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.