BNI Perkuat Usaha 430 Penganyam Lontar dan Turunkan Stunting 10,20 Persen di NTT

Highlight:

  • BNI memberdayakan 430 perempuan penganyam lontar di Flores Timur, NTT, mendorong peningkatan kualitas produk sekaligus kesejahteraan masyarakat di wilayah 3T.
  • Kolaborasi dengan Yayasan Du Anyam menghasilkan 79% produk berkualitas tinggi, didukung pelatihan produksi, penguatan usaha, dan pembentukan koperasi.
  • Pendekatan terintegrasi BNI mencakup ekonomi dan sosial, mulai dari Rumah Anyam, akses air bersih, hingga penurunan stunting sebesar 10,20%.

Jakarta- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memberdayakan perempuan lewat program “Menganyam Kebaikan untuk Indonesia” di Pulau Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 430 perempuan penganyam daun lontar di 13 lokasi, sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, inisiatif yang berjalan sejak September 2024 ini dirancang sebagai program pemberdayaan berkelanjutan.

Program ini mencakup pelatihan produksi, penguatan kelembagaan ekonomi, hingga edukasi kesehatan.

“Melalui program Menganyam Kebaikan untuk Indonesia, BNI ingin menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan bagi perempuan, khususnya di wilayah 3T. Kami percaya, ketika perempuan berdaya, maka keluarga dan masyarakat di sekitarnya juga akan ikut tumbuh,” ujar Okki, dikutip Selasa (21/4).

Pulau Solor selama ini dikenal memiliki keterbatasan lahan produktif. Namun ia menyimpan potensi ekonomi dari kerajinan anyaman daun lontar yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Mayoritas pengrajin merupakan ibu rumah tangga yang berperan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, meski menghadapi kendala akses pasar, standar kualitas produk, serta literasi keuangan.

Melalui kolaborasi dengan Yayasan Du Anyam, BNI membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi. Hasilnya, sebanyak 79% produk anyaman kini masuk dalam kategori kualitas tinggi, menunjukkan peningkatan signifikan dari sisi produksi dan standar mutu.

Selain peningkatan kapasitas usaha, BNI juga membangun infrastruktur pendukung, termasuk Rumah Anyam di Desa Bubu Atagamu, Kecamatan Solor Selatan, sebagai pusat pelatihan dan produksi.

Perseroan turut menghadirkan akses air bersih melalui pembangunan pipanisasi dengan 30 titik kran yang dimanfaatkan oleh 263 kepala keluarga.

Di sisi sosial, BNI berkontribusi dalam penanganan stunting melalui Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada 98 balita selama 14 hari. Upaya ini berhasil menurunkan angka masalah gizi buruk sebesar 10,20%.

Untuk memastikan keberlanjutan program, BNI juga memfasilitasi pembentukan Koperasi Serba Usaha (KSU) Ina Senaren.

“Melalui koperasi ini, para perempuan tidak hanya berperan sebagai pengrajin, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mampu mengelola bisnis, memperluas akses pasar, serta memanfaatkan layanan keuangan formal,” tambah Okki.

Program ini mencerminkan pendekatan menyeluruh BNI dalam pemberdayaan masyarakat, dengan mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Upaya tersebut sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai motor penggerak ekonomi lokal di wilayah tertinggal.

Melalui inisiatif ini, BNI menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dapat menciptakan kemandirian dan ketahanan sosial bagi komunitas.

Para perempuan penganyam di NTT kini menjadi pelaku ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungannya lewat tradisi turun temurun. (*) Ranu Arasyki Lubis

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.