PermataBank Gelar Wealth Wisdom 2026: Maknai Kekayaan Lebih dari Sekadar Pertumbuhan Aset

Highlights:

  • PermataBank kembali menggelar signature event tahunannya, Wealth Wisdom 2026, yang kini memasuki penyelenggaraan ke-12.
  • Untuk mencapai keseimbangan tersebut, PermataBank mengusung enam pilar utama dalam Wealth Wisdom tahun ini.
  • Penting pula membangun karakter yang kuat agar kekayaan dapat menjadi warisan yang berkelanjutan bagi generasi penerus.

AP HEADER

Jakarta – Dinamika ekonomi di pusat bisnis nasional menuntut pendekatan pengelolaan kekayaan yang semakin adaptif. Merespons hal tersebut, PermataBank kembali menggelar signature event tahunannya, Wealth Wisdom 2026, yang kini memasuki penyelenggaraan ke-12.

Mengusung tema “Finding Balance, Building Resilience”, puncak acara ini diselenggarakan di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang mencapai 5,52% secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026, diiringi inflasi 2,71% pada Agustus 2026, membuat masyarakat perlu membangun ketahanan finansial untuk menghadapi berbagai tahap kehidupan. Director of Consumer & Branch Banking PermataBank, Eddie Sajoga, menekankan bahwa makna wealth atau kekayaan kini jauh lebih luas dan holistik.

“Bagaimana membangun suatu kekayaan bukan hanya dilihat dari pertumbuhan aset yang didapatkan. Tetapi juga lebih balance, lebih seimbang untuk melihat bagaimana sih mengelola kekayaan itu untuk mendukung dari kualitas hidup, kemudian kesejahteraan keluarga, sampai dengan mempersiapkan masa depan yang lintas generasi,” ujar Eddie dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Untuk mencapai keseimbangan tersebut, PermataBank mengusung enam pilar utama dalam Wealth Wisdom tahun ini. Keenam pilar tersebut meliputi: Frugality (mengelola sumber daya secara bijak), Purpose (tujuan hidup), Health (kesehatan), Relation (hubungan dengan lingkungan dan sesama), Giving (berbagi), Moment (menghargai waktu yang berharga).

Brand Ambassador PermataBank, Atiqah Hasiholan, sepakat dengan pendekatan holistik ini. Menurutnya, parameter kekayaan sejati tidak lagi hanya diukur dari angka material.

“Kalau aku mengukur kekayaan itu bukan dari sekadar berapa banyaknya, tapi lebih pada kualitasnya. Perihal berapa banyaknya pasti semua orang berbeda-beda ya, tapi bagaimana apa yang kita miliki itu berkualitas, bermakna, ya itu adalah kekayaan yang sesungguhnya,” ungkap Atiqah.

Ia juga menambahkan pentingnya membangun karakter yang kuat agar kekayaan dapat menjadi warisan yang berkelanjutan bagi generasi penerus.

Secara bisnis, edukasi holistik ini membuahkan hasil positif bagi PermataBank. Eddie mengungkapkan bahwa pertumbuhan bisnis wealth management PermataBank saat ini tercatat sangat baik dan berada di atas rata-rata pertumbuhan pasar (above market rate). Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan nasabah dalam menitipkan pengelolaan keuangannya. JOS

Editor: SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.