Belanja Pertahanan Bisa Jadi Penggerak Perekonomian Nasional
Highlights:
- Di tengah perubahan ancaman dan perkembangan teknologi, kekuatan pertahanan juga berkaitan dengan industri, sumber daya manusia, teknologi, hingga kemampuan ekonomi sebuah negara.
- Dari sisi hulu, pembangunan pertahanan membutuhkan anggaran untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista), membangun infrastruktur, membeli barang, dan mengembangkan sumber daya manusia. Dari sisi hilir, kebutuhan tersebut dapat mendorong industri, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi daerah.
- Hal inilah yang membuat pengembangan industri pertahanan menjadi penting. Indonesia sudah memiliki sejumlah produk pertahanan buatan dalam negeri, mulai dari Panser Anoa, Rantis Komodo, kapal cepat rudal, kapal angkut tank, hingga berbagai senjata dan amunisi.
Jakarta – Pertahanan negara bukan lagi semata-mata soal seberapa banyak tank, kapal perang, atau pesawat tempur yang dimiliki. Di tengah perubahan ancaman dan perkembangan teknologi, kekuatan pertahanan juga berkaitan dengan industri, sumber daya manusia, teknologi, hingga kemampuan ekonomi sebuah negara.
Guru Besar dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi, Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pembangunan pertahanan memiliki kaitan erat dengan pembangunan ekonomi nasional. Sebab, belanja pertahanan dapat menciptakan efek berantai ke berbagai sektor.
“Pertahanan juga bisa memiliki apa yang disebut dengan multiplier effect,” ujar Purnomo dalam acara “Indonesia Collaborative Forum 2026: Collaborative and Strategic Leadership for Prosperity and Self-Reliance” yang diadakan Infobank Media Group di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Efek tersebut dapat terlihat dari dua arah. Dari sisi hulu, pembangunan pertahanan membutuhkan anggaran untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista), membangun infrastruktur, membeli barang, dan mengembangkan sumber daya manusia.
Dari sisi hilir, kebutuhan tersebut dapat mendorong industri, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi daerah.
Dengan kata lain, anggaran pertahanan tidak berhenti ketika pemerintah membeli peralatan. Jika semakin banyak kebutuhan pertahanan yang dapat dipenuhi industri dalam negeri, uang yang dibelanjakan negara juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Hal inilah yang membuat pengembangan industri pertahanan menjadi penting. Indonesia sudah memiliki sejumlah produk pertahanan buatan dalam negeri, mulai dari Panser Anoa, Rantis Komodo, kapal cepat rudal, kapal angkut tank, hingga berbagai senjata dan amunisi.
Namun, menurut Purnomo, membangun pertahanan tidak cukup hanya dengan memperkuat kemampuan militer. Ancaman terhadap negara kini semakin beragam. Ancaman nonmiliter dapat muncul melalui berbagai aspek sehingga pertahanan membutuhkan kekuatan di luar militer.
Karena itu, ada pendekatan soft power dan hard power. Soft power dibangun melalui kesadaran berbangsa dan bernegara serta kontribusi masyarakat sesuai profesinya. Sementara hard power berasal dari kekuatan militer. Keduanya kemudian perlu dipadukan menjadi smart power.
“Soft power yang dikombinasikan dengan hard power,” kata Purnomo.
Artinya, kontribusi terhadap pertahanan negara bukan hanya menjadi tugas tentara. Masyarakat sipil juga memiliki peran melalui profesinya masing-masing.
Teknologi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, hingga sektor digital dapat menjadi bagian dari kekuatan nasional ketika negara menghadapi ancaman yang semakin kompleks.
Di sinilah hubungan sipil dan militer menjadi penting. Purnomo menyebut ada tiga faktor yang memengaruhi hubungan sipil-militer, yakni perkembangan demokrasi, konstitusi, dan tingkat ancaman yang dihadapi suatu negara.
Pembagian tugas dan kewenangan yang jelas diperlukan agar masing-masing pihak dapat menjalankan perannya.
Bagi Indonesia, penguatan pertahanan juga berarti memperkuat kemampuan negara menghadapi ancaman militer maupun nonmiliter. Karena itu, pembangunan pertahanan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan nasional.
Purnomo mencontohkan, sektor pertahanan memiliki keterkaitan dengan ekonomi melalui belanja alutsista, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Sementara di sisi lain, industri pertahanan dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi daerah,” imbuhnya. ASP

