Amar Bank dan ICS Bahas Transformasi Digital dan Finansial Pekerja Film

Highlights:

  • Perhelatan ICS Talks hasil kolaborasi PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) dan Indonesia Cinematographers Society (ICS) pada Senin (19/10/2026) di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menyedot perhatian banyak kalangan, khususnya para pelaku industri perfilman.
  • Presiden ICS, Agni Ariatama, dalam paparannya menekankan pentingnya literasi bagi para sinematografer di tengah gempuran teknologi.
  • Agni menyadari bahwa untuk menghasilkan karya berkualitas, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor perbankan.

AP HEADER

Jakarta – Perhelatan ICS Talks hasil kolaborasi PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) dan Indonesia Cinematographers Society (ICS) pada Senin (19/10/2026) di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menyedot perhatian banyak kalangan, khususnya para pelaku industri perfilman.

Diskusi yang berlangsung hangat ini mengupas tuntas transformasi digital yang tak hanya mengubah wajah sinematografi dari sisi teknis, namun juga menjamah ranah finansial para pekerjanya.

Presiden ICS, Agni Ariatama, dalam paparannya menekankan pentingnya literasi bagi para sinematografer di tengah gempuran teknologi. “Dalam perkembangannya memang ini butuh sekali literasi ya, kita pun di dalam organisasi ini lebih banyak meliterasilah,” ujarnya, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.

Literasi yang dimaksud bukan hanya soal teknik pengambilan gambar, melainkan juga kemampuan menerjemahkan skenario menjadi karya audio visual yang memikat. Agni menyoroti pentingnya program seperti look test yang menjadi bagian dari ICS Talks. Menurutnya, program ini menjadi jembatan bagi sutradara, produser, dan masyarakat umum untuk menyamakan persepsi mengenai visual film.

“Skenario ini kan harus diterjemahkan ke dalam audio visual, nah kebetulan kitalah yang bertanggung jawab terhadap visualnya,” jelas Agni. Ia menambahkan, look test menjadi wadah untuk berkolaborasi dan mencari titik temu di tengah beragam keinginan dari berbagai pihak.

Tak hanya membahas aspek kreatif, diskusi ini juga menyinggung tantangan finansial yang dihadapi pekerja film, yang mayoritas bekerja berbasis proyek. Agni menyadari bahwa untuk menghasilkan karya berkualitas, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor perbankan.

“Makanya harapannya literasi ini produser sampai ke saudara, kita saling satu pemikiran, karena kalau di kita ini kan nggak cuma ngomongin artistik,” ungkapnya.

Di sinilah peran Amar Bank hadir. Chief Marketing Officer Amar Bank, Rosalinda Hoesin, menyampaikan komitmen perusahaan dalam mendukung kebutuhan finansial para pekerja film. Ia mengakui bahwa sistem kerja proyek seringkali menjadi kendala dalam mengakses layanan perbankan.

Melalui kolaborasi ini, Amar Bank berharap dapat membantu para pekerja film membangun rekam jejak finansial yang kuat dan meningkatkan bankability mereka.

“Bagaimana kita bisa membantu teman-teman dari perfilman maupun dari sisi individu atau dari asosiasi dan apapun perusahaannya dari production housenya,” tutur Rosalinda.

Ia menekankan pendekatan nurturing yang dilakukan Amar Bank, yaitu memberikan pemahaman dan edukasi mengenai pengelolaan keuangan, seperti manajemen arus kas dan perpajakan, sebelum akhirnya memberikan layanan pembiayaan.

Acara ICS Talks kali ini membuktikan bahwa sinergi antara dunia seni dan sektor perbankan bukan hal yang mustahil. Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, para sineas Indonesia diharapkan dapat terus berkarya tanpa harus dihantui kecemasan finansial. JOS

Editor: SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.