Industri Halal Global Bernilai US$4,6 Triliun, Santri Didorong Jadi Produsen Bukan Sekadar Konsumen
Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Türkiye, Mohamad Handi Khalifah berfoto bersama Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina dan Santri usai Seminar dan Workshop Santripreneur Global “Inspirasi Bisnis Islam dan Halal Industry dari Turki bagi Generasi Muda”, Minggu (26/7). (Foto: Dok. AP/Ayu Utami)Highlights:
- Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain utama dalam industri halal global yang nilainya telah mencapai sekitar US$4,6 triliun.
- Industri halal tak hanya berbicara mengenai sertifikasi produk, tetapi juga tentang membangun ekosistem bisnis yang berlandaskan etika, integritas, dan inovasi.
- Salah satu keberhasilan industri halal, misalnya Modanisa, platform fashion muslim asal Turki yang telah melayani pelanggan di lebih dari 140 negara dengan sekitar 20 juta pengunjung situs setiap bulan.

Tangerang Selatan – Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain utama dalam industri halal global yang nilainya telah mencapai sekitar US$4,6 triliun.
Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi mudanya mampu bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen yang menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Türkiye, Mohamad Handi Khalifah dalam Seminar dan Workshop Santripreneur Global “Inspirasi Bisnis Islam dan Halal Industry dari Turki bagi Generasi Muda” yang diselenggarakan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina di YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan, Minggu, 26 Juli 2026.
Ia menuturkan Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk muslim yang tinggi. Potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun industri halal yang mampu bersaing di pasar internasional.
“Jangan hanya menjadi konsumen. Jadilah produsen yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan,” tutur Handi, dalam paparannya, di YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan, Minggu, 26 Juli 2026.
Selain itu, industri halal tidak hanya berbicara mengenai sertifikasi produk, tetapi juga tentang membangun ekosistem bisnis yang berlandaskan etika, integritas, dan inovasi. Ia mencontohkan konsep Ahi, organisasi pedagang dan pengrajin di Turki yang berkembang sejak abad ke-13 dan mengajarkan kejujuran, tanggung jawab sosial, serta pengawasan terhadap kualitas produk.

Konsep ini telah menerapkan mekanisme perlindungan konsumen jauh sebelum sistem modern berkembang. Pedagang yang menjual barang berkualitas buruk akan diberi tanda sehingga masyarakat mengetahui reputasinya. Mekanisme itu, kata Handi, memiliki kemiripan dengan sistem customer review yang digunakan pada berbagai platform digital saat ini.
Handi mengungkapkan perkembangan ekonomi syariah di Turki melalui pengelolaan wakaf produktif, kawasan industri berbasis klaster, serta perkembangan participation banking atau bank partisipasi.
Saat ini terdapat sekitar 11 bank partisipasi dengan lebih dari 1.500 kantor cabang, sementara sektor tersebut mencatat pertumbuhan sekitar 9 persen. Menurutnya, pembangunan ekosistem ekonomi syariah di Turki juga membutuhkan proses panjang hingga sekitar 15 tahun untuk berkembang seperti saat ini.
Salah satu keberhasilan industri halal, misalnya Modanisa, platform fashion muslim asal Turki yang telah melayani pelanggan di lebih dari 140 negara dengan sekitar 20 juta pengunjung situs setiap bulan.
“Keberhasilan itu menunjukkan bahwa produk halal memiliki daya saing tinggi apabila mampu menawarkan kualitas, inovasi, dan keunikan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dosen Magister Manajemen Universitas Paramadina, Hardiansyah mengajak para santri mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan.
“Peluang menjadi wirausahawan terbuka bagi siapa saja selama memiliki keberanian memulai usaha dan terus mengembangkan kemampuan,” papar Hardi, di YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan, Minggu, 26 Juli 2026.
Ia menambahkan, bisnis yang baik harus mampu menyelesaikan persoalan masyarakat, memenuhi kebutuhan konsumen, serta memiliki keunikan agar tidak terjebak dalam persaingan harga.
Selain itu, pelaku usaha juga harus memastikan produk yang dihasilkan memenuhi prinsip halal, mulai dari bahan baku hingga proses produksinya.
“Ide bisnis dapat lahir dari berbagai sumber, seperti hobi, jejaring, maupun pengetahuan. Namun, ide tersebut harus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memiliki nilai tambah agar mampu bersaing di pasar,” tambahnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Ustadz Nur Muhammad Rifqi, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Paramadina atas penyelenggaraan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan pesantren.
Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga bagi para santri untuk memperoleh wawasan baru mengenai pendidikan, kewirausahaan, dan pengembangan diri.
“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada dosen dan mahasiswa Universitas Paramadina yang telah hadir untuk berbagi ilmu serta mempererat silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah,” katanya, di YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan, Minggu, 26 Juli 2026.
Sebagai informasi, Seminar dan Workshop Santripreneur Global bertajuk “Inspirasi Bisnis Islam dan Halal Industry dari Turki bagi Generasi Muda” merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina.
Kegiatan yang diikuti hampir seratus santri ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki jiwa kewirausahaan serta mampu memanfaatkan besarnya peluang industri halal di tingkat global.
Usai sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan workshop handcraft dan penyusunan Business Model Canvas (BMC) yang dipandu oleh mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina. Dalam sesi ini, para santri diajak mengembangkan ide bisnis halal, mulai dari mengidentifikasi peluang usaha, menyusun model bisnis sederhana, hingga menghasilkan produk kerajinan sebagai bentuk praktik kewirausahaan.
Selain itu, kegiatan ini pun juga didukung oleh Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF), MR.DIY Indonesia, Edutolia Education, Riang Kala Luang, dan Haryo Mumtaz Global. (*) Ayu Utami

