SIAC 2026 Jadikan Seni sebagai Bahasa Universal dan Pembangunan Karakter di Era Digitalisasi

Highlights:

  • Mengusung tema universal yang sangat relevan, yaitu “Rewriting Tomorrow” (Menulis Ulang Hari Esok), Ketua Panitia SIAC 2026, Sulistyo Chung, menjelaskan bahwa SIAC 2026 mempertegas makna seni sebagai bahasa universal yang tak mengenal batas budaya dan geografi.
  • Menurutnya, karya seni seyogianya dibiarkan mengalir secara bebas untuk menciptakan makna yang mendalam pada sebuah karya seni. Di era inovasi teknologi seperti sekarang, Sulistyo katakan, pekerjaan para seniman semakin dipermudah dengan adanya kehadiran inovasi teknologi digital.
  • SIAC 2026 bisa menciptakan pendapatan ekonomi tersendiri melalui sektor konsumsi yang menghidupkan ekonomi daerah Kota Solo. Namun, di luar revenue yang bersifat materil, ia katakan, yang terpenting ialah revenue yang tak nampak, yakni pembangunan karakter.

AP HEADER

Solo – Parade Budaya Solo International Art Camp (SIAC) ke-5 dan Parade Prajurit Budaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Surakarta Tahun 2026 sukses diselenggarakan di area Loji Gandrung pada Minggu, 19 Juli 2026.

Rute parade dalam rangkaian event SIAC 2026 yang dimulai dari Loji Gandrung sampai Perempatan Ngarsopuro itu menjadi katalis semangat pelestarian budaya dan penguatan pariwisata berbasis masyarakat. Ratusan partisipan terlibat dalam parade itu, dari anggota Pokdarwis, komunitas budaya, sampai seniman mancanegara dari 28 negara yang menampilkan beragam pertunjukan seni budaya.

Mengusung tema universal yang sangat relevan, yaitu “Rewriting Tomorrow” (Menulis Ulang Hari Esok), Ketua Panitia SIAC 2026, Sulistyo Chung, menjelaskan bahwa SIAC 2026 mempertegas makna seni sebagai bahasa universal yang tak mengenal batas budaya dan geografi.

Ia mengatakan, setiap seniman memiliki gagasan atau ide yang bisa saja berbeda-beda dan membuat unik satu dengan yang lain. Namun, tujuan dari ide di balik karya seni tetaplah sama (universal) sebagai wadah kritik maupun pembakar semangat transformasi demi kehidupan dunia yang lebih baik.

“Itu masing-masing seniman sudah mempunyai gambaran kebaikan buat masa depan dengan style dari negara masing-masing. Ini yang mempersatukan kita semua, tema ini yang mempersatukan dan dengan ide-ide yang sama, tujuan yang sama, untuk kebaikan masa depan dunia,” ujar Sulistyo dalam acara podcast Radio Solopos bertajuk “Solo Jadi Mercusuar Kebudayaan Dunia”, Senin, 20 Juli 2026.

Menurutnya, karya seni seyogianya dibiarkan mengalir secara bebas untuk menciptakan makna yang mendalam pada sebuah karya seni. Di era inovasi teknologi seperti sekarang, Sulistyo katakan, pekerjaan para seniman semakin dipermudah dengan adanya kehadiran inovasi teknologi digital.

Kehadiran inovasi teknologi bukan hanya mempermudah pengerjaan karya seni, tapi juga proses pemasarannya kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.

“Misalnya sekarang dengan mudah kita bisa mencari ide dari internet, atau dari mana pun kita bisa mendapatkan ide dengan mudah. Terus kita bisa melihat perbandingan seni pertunjukan di negara lain (lewat internet),” jelasnya.

Ia pun tak setuju jika kehadiran teknologi digital yang mempermudah dipandang menghilangkan atau memperkecil unsur filosofi kearifan lokal pada seni budaya lokal. Baginya, eksistensi teknologi digital yang adalah keniscayaan, seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal oleh para seniman Indonesia untuk mempermudah mereka dalam berkarya hingga proses memasarkan (bisnis).

“Justru dengan bantuan teknologi ataupun media sosial ini seharusnya lebih bisa membuat kita mengibarkan kesenian lokal kita ke masyarakat mancanegara,” tegasnya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, rangkaian acara SIAC 2026 yang berlangsung sampai 27 Juli 2026 dengan penutupan art exhibition ini, terus dipadati oleh kunjungan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum sampai para seniman lokal dan mancanegara.

Bagi Sulistyo, kondisi tersebut tentu dapat menciptakan pendapatan ekonomi tersendiri melalui sektor konsumsi yang menghidupkan ekonomi daerah Kota Solo sebagai kota diadakannya event tersebut. Namun, di luar revenue yang bersifat materil, ia katakan, yang terpenting ialah revenue yang tak nampak, yakni pembangunan karakter.

“Seni itu kan pembangunan karakter. Pembangunan karakter itu butuh waktu, tak bisa dilihat secara langsung. Tapi setidaknya dari SIAC, dunia melihat bahwa Solo juga mempunyai event budaya yang bagus, event budaya menarik untuk diikuti. Ini promosi pariwisata yang tidak bisa dibayar,” cetusnya. SW

 

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.