Cerita Para Seniman Global di SIAC 2026: Antusiasme hingga Keramahan Warlok yang Memukau
Highlights:
- Parade Budaya Solo International Art Camp (SIAC) ke-5 dan Parade Prajurit Budaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Surakarta Tahun 2026 sukses diselenggarakan di area Loji Gandrung pada Minggu, 19 Juli 2026.
- Ratusan partisipan terlibat dalam parade itu, dari anggota Pokdarwis, komunitas budaya, sampai seniman mancanegara dari 28 negara yang menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya.
- Seniman global pun menyatakan kekagumannya terhadap penyelenggaraan SIAC 2026. Dari antusiasme tinggi waga lokal pada seni budaya hingga keramahannya yang memukau para seniman mancanegara.

Solo – Parade Budaya Solo International Art Camp (SIAC) ke-5 dan Parade Prajurit Budaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Surakarta Tahun 2026 sukses diselenggarakan di area Loji Gandrung pada Minggu, 19 Juli 2026.
Rute parade dalam rangkaian event SIAC 2026 yang dimulai dari Loji Gandrung sampai Perempatan Ngarsopuro itu menjadi katalis semangat pelestarian budaya dan penguatan pariwisata berbasis masyarakat. Ratusan partisipan terlibat dalam parade itu, dari anggota Pokdarwis, komunitas budaya, sampai seniman mancanegara dari 28 negara yang menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya.
Beberapa seniman dari mancanegara yang turut berpartisipasi dalam acara tersebut memberikan beragam impresi terkait penyelenggaraan Parade Budaya SIAC 2026 ini. Salah satunya ialah seniman asal Serbia, Bransha Gautier.

Bransha mengaku cukup terkejut dengan cuaca panas di Solo. Di samping itu, ia juga terkejut melihat antusiasme warga Solo yang sudah ramai memadati jalan untuk melihat parade mereka sejak pukul 6 pagi.
“(Di luar negeri) kita bilang kepada seseorang untuk pergi ke parade pukul 6 pagi, ketika kita mulai parade, tidak ada yang bangun untuk pergi menonton parade (di waktu sepagi itu). Jadi kami terkejut, banyak dari kami berpikir tidak ada lebih dari 15 orang di luar (menonton),” ujar Bransha dalam acara podcast Radio Solopos bertajuk “Solo Jadi Mercusuar Kebudayaan Dunia”, Senin, 20 Juli 2026.
Walaupun merasa lelah, tapi ia bahagia bisa turut berpartisipasi menampilkan karya seninya dalam Parade Budaya SIAC 2026 di Kota Solo. Bransha yang adalah seniman multidisiplin menampilkan objek seni yang menggabungkan berbagai simbol dari banyak negara dengan penekanan kuat pada aspek spiritualitas.
Penekanan aspek spiritualitas pada karya seninya di SIAC 2026 tak lepas dari riset dan pengamatannya terhadap masyarakat Indonesia yang menempatkan aspek spiritualitas sebagai salah satu prioritas dalam hidup.

Hal serupa juga dinyatakan oleh seniman asal Nepal, Pradhumna Shresta yang menggabungkan sejumlah simbol spiritualisme atau mistisisme dari sejumlah negara dengan spiritualisme Nusantara. Pradhumna menyatakan, ia melihat kesamaan antara spiritualitas di Nepal dengan Indonesia. Dimana, kedua negara yang sama-sama memiliki latar belakang sejarah Hindu-Buddha yang kuat, bisa saling berbagi kesamaan budaya dalam bentuk seni rupa.
“Saya juga mencoba menggabungkan beberapa simbolisme dari Indonesia dan dari negara lainnya. Saya ingin menggabungkan mereka seperti dua budaya bergabung jadi satu,” ucap Pradhumna.
Di lain sisi, seniman asal Amerika Serikat (AS), Sandra Robinson Hansen mengungkapkan jika karya seninya bersentuhan erat dengan tema plastik di dalam air. Ini ia lakukan untuk membawa pesan tentang perlunya kita sebagai manusia untuk membuat terobosan baru dalam hal limbah plastik di laut demi melestarikan lingkungan hidup secara lebih berkelanjutan.
Sandra mengungkapkan lebih lanjut, bila ia memiliki pendekatan unik dalam memproduksi karya seni. Ia bukanlah seorang perencana yang baik. Oleh karenanya, setiap karya seni yang ia hasilkan selalu berasal dari gagasan-gagasan spontan yang lalu menghasilkan karya seni yang indah.
“Saya memakai headphone dan langsung mulai bekerja (memproduksi karya), dan akhirnya sesuatu yang luar biasa terjadi,” ucap Sandra.
Di luar itu semua, mereka menyatakan kekaguman terhadap keramahan orang Indonesia. Sandra dan Bransha misalnya, tak pernah bisa melupakan bagaimana murah senyumnya orang Indonesia terhadap mereka.
“Kalian sungguh orang terbaik yang kami pernah temui. Semua orang sangat menyambut dan tersenyum, kami sangat menghargainya. Anda yang tinggal di sini mungkin sudah terbiasa, tapi kami dari negara yang ‘lebih dingin’ dimana kadang orang tak mengucapkan halo, sangat merindukan ini,” beber Bransha seraya tersenyum mengingat keramahan orang Indonesia. SW

