Indonesia VS Maroko: Keberkahan dan Investasi Jangka Panjang

Oleh: Muhammad Musa

PIALA Dunia 2022 di Qatar akan selalu dikenang sebagai panggung sejarah bagi sepak bola Afrika dan Arab. Keberhasilan Tim Nasional Maroko menembus babak semifinal piala dunia 2022 dan piala dunia kali ini mampu mengalahkan tim sekelas belanda, serta tim U-20 mampu mengalahkan timnas Argentina di Piala Dunia U-20.

Hal ini bukanlah merupakan mimpi di siang bolong, melainkan penataan yang sudah dirintis sejak 17 (tujuh belas) tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009 yang diawali oleh keinginan kuat Raja Mohammad VI menginstruksikan Pembangunan akademi speak bola nasional Maroko.

AP HEADER

Dengan demikian, di balik tangisan haru Achraf Hakimi dan sujud syukur Sofyan Amrabat, terdapat cetak biru tata kelola sepak bola modern yang dibangun secara matematis, disiplin, dan visioner.

Baca juga...

Saat ini, sepak bola Indonesia di bawah naungan PSSI memang tengah menggeliat. Kehadiran para pemain diaspora meningkatkan level permainan Timnas Garuda di kancah Asia.

Namun, jika PSSI ingin melompat lebih jauh bukan sekadar menjadi partisipan, melainkan penantang global, maka Indonesia harus berkaca pada Maroko. Keberhasilan Maroko mengajarkan satu hal: prestasi tim nasional dan ekosistem bisnis sepak bola yang sehat adalah dua sisi dari satu koin yang sama.

Investasi Infrastruktur Nyata vs Proyek Seremonial

Pondasi kebangkitan Maroko diletakkan pada tahun 2009 ketika Raja Mohammed VI menginisiasi pembangunan Mohammed VI Football Academy. Kompleks ini kemudian dikembangkan menjadi Mohammed VI Football Complex seluas 30 hektare dengan total nilai investasi mencapai 65 juta USD.

Fasilitas ini dilengkapi dengan pusat sains olahraga dan akomodasi kelas dunia untuk mematangkan talenta muda.

Bagaimana dengan Indonesia? PSSI baru saja memulai langkah ini melalui pembangunan Training Center di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ini langkah awal yang baik, namun kekurangannya adalah sentralisasi. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, satu pusat latihan saja tidak akan cukup.

Indonesia memerlukan Regional Elite Academies yang terintegrasi di berbagai wilayah demi membangun talent pipeline yang konsisten dan berbasis sains data olahraga, bukan sekadar turnamen pendek konvensional.

Diaspora: Hubungan Emosional, Bukan Sekadar Transaksional

Kebijakan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) saat ini sangat mirip dengan Maroko: menjaring pemain keturunan yang bermain di liga-liga top Eropa. Namun, ada perbedaan mendasar pada aspek filosofi pendekatan.

Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) tidak memanggil pemain diaspora secara mendadak saat mereka sudah matang di usia emas. Mereka melakukan scouting sejak dini (usia 13–15 tahun) dan membangun hubungan emosional yang kuat dengan melibatkan keluarga sang pemain.

PSSI perlu memperbaiki pola ini agar proses naturalisasi dan penjaringan tidak terkesan transaksional demi target jangka pendek. PSSI harus memiliki sistem pemantauan yang terstruktur sejak usia muda, memastikan adanya knowledge sharing dengan talenta lokal, serta menghindari polarisasi di dalam internal tim nasional.

Tata Kelola Kompetisi dan Profesionalisme Federasi

Timnas yang kuat adalah hilir dari hulu yang bernama kompetisi domestik. Liga Maroko secara konsisten menjadi salah satu liga terkuat di benua Afrika karena unggul dalam tata kelola klub, kepastian jadwal, hingga kualitas perwasitan.

Di Indonesia, Liga 1 masih menghadapi tantangan klasik seputar konsistensi jadwal, pembenahan kualitas wasit, dan profesionalisme finansial klub. Selama hulu kompetisi domestik ini belum dibenahi secara total, pasokan pemain lokal berkualitas untuk menopang Timnas akan selalu terbatas.

Aspek Keuntungan Bisnis: Mengubah Fanatisme Menjadi Industri

Indonesia memiliki modal terbesar yang dicari oleh industri olahraga global: fanatisme pasar. Namun, fanatisme tanpa monetisasi yang cerdas hanya akan menjadi komoditas konsumsi media sosial.

Jika dikelola secara profesional, potensi keuntungan ekonomi Indonesia dari industri sepak bola diproyeksikan mampu mencapai angka sekitar 300–400 juta USD.

Proyeksi ini sejalan dengan yang pernah disampaikan oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, sewaktu berkunjung ke Garuda Store-Stadion Utama Glora Bung Karno, Jakarta, menjelang pertandingan FIFA Matchday Indonesia vs Argentina pada 19 Juni 2023, bahwa potensi perputaran ekonomi industri sepak bola nasional (termasuk liga, tiket, merchandise, sponsorship, dan pelibatan UMKM) diperkirakan dapat mencapai Rp7 triliun, setara dengan sekitar 389 juta USD (1 USD =Rp17.994).

Jika mengacu pada kajian LPEM FEB UI (2023), sebelum bergulirnya Liga 1 musim 2023/2024, BRI dan LPEM FEB UI merilis riset yang memperkirakan perputaran ekonomi dari kompetisi kasta tertinggi saja bisa menciptakan nilai tambah ekonomi sebesar Rp9 triliun atau sekitar 500 juta USD (jika mengacu pada nilai USD saat ini terhadap Rupiah).

Studi ini kemudian dipublikasikan pada tahun 2025 dengan dilakukannya kalibrasi yang lebih komprehensip bahwa Liga 1 musim 2024/2025 dapat menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp 10,42 triliun, nilai tambah ekonomi sekitar Rp 5,93 triliun dan lapangan pekerjaan sekitar 45.000 tenaga kerja.

Melihat itu semua, yang terpenting ada 3 (tiga) hal strategis, yang perlu menjadi perhatian, yaitu:

  1. Magnet Hak Siar dan Sponsor Global: Keberhasilan performa internasional akan melambungkan nilai pasar hak siar Timnas. Dengan basis suporter ratusan juta, daya tawar PSSI sangat masif untuk menarik Sponsor Eksternal dan global, asalkan prestasi Timnas konsisten di level internasional.
  2. Mengirim Pemain sebagai Komoditas Ekonomi: Maroko sukses memproduksi dan mengirim pemain lokal ke klub-klub elite Eropa dengan nilai transfer tinggi. PSSI harus mulai menggeser fokus dari sekadar “membeli” atau menaturalisasi pemain menjadi “memproduksi dan mengirim” talenta lokal.
  3. Pariwisata Olahraga: Keberhasilan tata kelola membawa Maroko dipercaya menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, yang berpotensi mendatangkan lonjakan pendapatan pariwisata masif. Indonesia memiliki modal stadion-stadion megah yang jika diimbangi dengan manajemen profesional, mampu mendatangkan pendapatan Sports Tourism serupa dari ajang internasional.

Perspektif Ekonomi Syariah dan Ekosistem Halal: Peluang Emas Indonesia

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, aspek yang hampir tidak pernah disentuh secara serius oleh PSSI namun berhasil dieksplorasi secara implisit oleh Maroko adalah integrasi industri olahraga dengan Ekosistem Halal dan Ekonomi Syariah.

Pendekatan ini tidak hanya mendatangkan keuntungan materiil, tetapi juga keberkahan dan stabilitas jangka panjang bagi seluruh elemen sepak bola. Berbicara ekosistem halal, ada 5 (lima) aspek penting yang perlu jadi perhatian, yaitu:

  1. Sports Tourism Ramah Muslim: Saat Maroko sukses di Piala Dunia atau menjadi tuan rumah ajang internasional, mereka menarik segmen wisatawan Muslim global berkat jaminan ekosistem lokal yang ramah Muslim. Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mengemas ajang sepak bola internasional dengan fasilitas stadion yang menyediakan ruang ibadah (mushola) yang representatif, aksesibilitas makanan bersertifikasi halal di sekitar venue, serta perhotelan syariah bagi suporter asing. Ini membuka keran pendapatan baru dari ceruk pasar bernilai miliaran dolar.

2. Sponsorship dari Industri Keuangan Syariah: Industri perbankan dan asuransi syariah di Indonesia berkembang sangat pesat. PSSI dan klub-klub Liga 1 dapat membuka pintu kemitraan strategis dengan institusi keuangan syariah global maupun domestik sebagai sponsor utama. Pendanaan sepak bola berbasis instrumen syariah (seperti Sukuk atau investasi syariah untuk pembangunan infrastruktur stadion) menawarkan skema bisnis yang lebih berkeadilan, transparan, dan terbebas dari jerat investasi berspekulasi tinggi (gharar).

3. Asuransi Syariah (Takaful) sebagai Jaring Pengaman Atlet: Karier seorang pesepak bola profesional sangat rentan terhadap risiko cedera. PSSI dan klub jajaran Liga dapat bekerja sama dengan perusahaan asuransi syariah melalui skema Takaful (tolong-menolong). Dengan prinsip sharing of risk berbasis akad tabarru’ (hibah), dana kebajikan yang dikumpulkan akan digunakan untuk menanggung biaya pengobatan cedera hingga kompensasi hilangnya pendapatan akibat cedera fatal. Pendekatan ini jauh lebih adil, terbebas dari unsur spekulasi (maysir), dan memberikan ketenangan bagi para pemain Timnas di lapangan.

4. Dana Pensiun Syariah untuk Jaminan Hari Tua Pemain: masa ke-emasan karier seorang atlet professional, termasuk atlet speak bola sangat pendek (rata-rata usia 25 hingga usia 35 tahun). Banyak mantan pemain timnas mengalami kesulitan finansial setelah gantung sepatu. PSSI dapat merancang regulasi pemotongan sekian persen dari nilai kontrak untuk dialokasikan ke Dana Pensiun Syariah (DPLK Syariah). Dana tersebut diinvestasikan ke instrumen-instrumen halal yang produktif (sukuk, saham syariah, atau sektor riil) agar saat pensiun, mereka menerima arus kas berkala yang sah dan berkah. Ini adalah wujud nyata memanusiakan para pahlawan lapangan hijau.

5. Industri Halal Lifestyle dan Sportswear: Maroko sukses mempromosikan nilai-nilai budaya dan etika Islam di lapangan hijau (solidaritas sosial dan penghormatan orang tua). PSSI bisa mengadopsi narasi positif ini untuk memajukan industri Halal Lifestyle melalui apparel olahraga lokal yang ramah aturan berpakaian (modest activewear) baik untuk atlet maupun suporter wanita. Ini memberikan ruang monetisasi baru bagi UMKM dan brand lokal Indonesia untuk merambah pasar luar negeri.

Akhir kata, Maroko telah memberikan cetak biru yang nyata bagi dunia: sepak bola modern tidak bisa dibangun hanya dengan modal “semangat” masyarakatnya, namu juga diperlukan sinergi antara investasi infrastruktur berbasis sains, diplomasi diaspora yang humanis, kompetisi domestik yang sehat, strategi monetisasi bisnis yang agresif, dan optimalisasi ekosistem ekonomi syariah yang relevan dengan pasar Indonesia.

PSSI saat ini berada di jalur yang benar untuk berbenah, namun akselerasi harus dilakukan.

Belajarlah dari Maroko. Jika negara dengan populasi 37 juta jiwa mampu mengguncang dunia dengan sepak bolanya, Indonesia dengan 270 juta jiwa dan potensi perputaran ekonomi syariah yang melimpah seharusnya tidak hanya bermimpi lolos ke Piala Dunia, melainkan datang ke sana sebagai kekuatan industri sepak bola baru yang disegani dunia. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.