BRILink Jadi Bukti Branchless Banking Tetap Relevan di Era Digital

Highlights:

  • Keberhasilan BRILink menegaskan bahwa model agen tetap relevan di era digital dan menjadi contoh kuat layanan phygital di Indonesia.
  • Komisi layak, volume transaksi tinggi, dan fungsi sebagai “bank mini” menjadikan BRILink pusat aktivitas ekonomi desa.
  • Interoperabilitas agen perlu dibuka bertahap dengan sertifikasi agar ekosistem branchless makin kuat dan inklusif.

AP HEADER

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia Muliaman D. Hadad menyebut keberhasilan agen BRI lewat jaringan BRILink menandai era baru layanan phygital—perpaduan fisik dan digital—yang justru paling dibutuhkan masyarakat desa.

Hal itu disampaikan Muliaman dalam acara peluncuran buku Branchless Banking karya Osbal Saragi Rumahorbo yang diadakan Infobank Media Group di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, di tengah gempuran bank digital, model agen bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh eksplosif, menunjukkan bahwa sentuhan fisik tetap menjadi fondasi inklusi keuangan.

Ia menekankan bahwa preferensi masyarakat desa masih sangat kuat terhadap layanan tatap muka.

“Orang di kampung itu lebih senang dilayani dengan tatap muka dan langsung ketemu orangnya,” ujarnya saat menyampaikan tanggapan atas buku tersebut.

Karena itu, BRILink dinilai berhasil menjembatani dua kebutuhan sekaligus: akses teknologi dan kehadiran manusia yang memberi rasa aman serta kepercayaan.

BRILink juga terbukti menjadi tulang punggung transaksi pedesaan, termasuk sebagai penggerak kredit ultra mikro dan distribusi layanan pembiayaan seperti KUR.

Dengan komisi yang layak dan aktivitas usaha sehari-hari, menurutnya, agen mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi desa—fungsi yang tak bisa digantikan aplikasi digital murni.

BRILink dan Cetak Biru Branchless Banking

Dalam paparannya, Muliaman menyebut BRILink sebagai anomali positif. Di saat digitalisasi menyingkirkan banyak model layanan lama, justru jumlah agen BRILink menembus lebih dari satu juta di 62.000 desa atau sekitar 80 persen wilayah Indonesia, didukung jaringan unit BRI yang kuat.

Di tingkat industri, model sejenis yang dikembangkan bank lain justru banyak yang gagal karena agen tidak aktif, komisi kecil, serta produk layanan terbatas.

Ia juga menyinggung munculnya bank digital murni seperti Jenius dan Allo Bank, yang sempat membuat program branchless banking konvensional seperti Laku Pandai tampak kehilangan momentum. Namun menurutnya, BRILink menunjukkan bahwa kompetisi digital tidak secara otomatis menutup peran agen fisik.

Mengapa Model Agen Tumbuh di Tengah Disrupsi?

Muliaman menjelaskan sejumlah faktor keberhasilan. Pertama, komisi memadai—sekitar Rp3.000 per transaksi—dan volume aktivitas agen yang bisa mencapai ratusan transaksi per hari membuat usaha ini layak secara ekonomi. Kedua, agen menghadirkan ekosistem satu atap: transfer, pembayaran, setoran pinjaman, hingga pulsa.

Model bisnis ini menjadikan agen sebagai “bank mini” yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa—posisi yang tidak sepenuhnya bisa diisi bank digital karena keterbatasan budaya, akses internet, dan literasi.

Tantangan ke Depan: Interoperabilitas Agen dan Sertifikasi

Meskipun tumbuh kuat, Muliaman menyoroti tantangan digital yang perlu diantisipasi, seperti lemahnya infrastruktur jaringan di daerah 3T, keamanan sistem, serta minimnya edukasi teknologi. Ia menilai peran agen juga akan berevolusi.

“Para agen itu ingin naik pangkat,” katanya, merujuk pada kebutuhan pelatihan agar agen dapat meningkatkan kemampuan manajemen keuangan.

Terkait interoperabilitas—apakah agen dapat melayani berbagai bank sekaligus—Muliaman memilih “jalan tengah”: tidak memaksakan sekarang, tetapi membuka peluang bertahap berbasis kesiapan dan sertifikasi. Ia menilai program sertifikasi agen oleh OJK dan Bank Indonesia dapat menjadi kunci menuju kelembagaan agen yang lebih kuat dan inklusif.

Keberhasilan BRILink menjadi bukti bahwa Branchless Banking tidak ditinggalkan oleh masyarakat—justru menjadi fondasi phygital yang menjaga relevansi layanan perbankan di wilayah yang belum sepenuhnya tersentuh digitalisasi penuh.

Dengan momentum yang dibangun BRILink, Muliaman menilai masa depan inklusi keuangan menuntut keseimbangan antara teknologi dan kehadiran manusia—ciri khas phygital yang akan menjaga relevansi Branchless Banking di Indonesia. PG

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.