TOP Corporate Brand BUMN 2026: Jurus PT SMI Tutup Gap Infrastruktur
Highlight:
- PT SMI meraih Peringkat Pertama “TOP Corporate Brand 2026” kategori BUMN aset di atas Rp100 triliun, memperkuat reputasi sebagai motor pembiayaan infrastruktur nasional.
- Sepanjang 2025, PT SMI membukukan laba bersih Rp2,8 triliun dan outstanding pembiayaan mencapai Rp94,4 triliun, ditopang ekspansi pembiayaan yang tetap prudent.
- Komitmen pembiayaan energi terbarukan PT SMI telah mencapai Rp33,1 triliun, mempertegas peran perseroan dalam mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Reputasi bagi PT Sarana Multi infrastruktur (Persero) tidak berhenti sebagai citra yang ditampilkan di ruang publik. ia bekerja lebih luas, membuka jalan bagi kepercayaan, memperlebar akses pendanaan, sekaligus menjaga proyek-proyek infrastruktur tetap berjalan di tengah dinamika ekonomi yang tidak selalu stabil.
D i industri pembiayaan pembangunan, reputasi seperti ini bukan pelengkap. Ia adalah modal utama, penentu apakah proyek bisa berjalan, berlanjut, dan memberi dampak jangka panjang.
Dan, ketika PT SMI menempati Peringkat Pertama “TOP Corporate Brand 2026 untuk kategori BUMN dengan aset di atas Rp100 Triliun”, yang mengemuka bukan sekadar prestise, melainkan legitimasi dan konssistensi atas peran yang dijalankan.
Sebagai special mission vehicle Kementerian Keuangan yang bertransformasi menuju Development Finance Institution (DFI), PT SMI berada pada posisi yang tidak sederhana, mengelola ekspektasi negara, menjawab kebutuhan pasar, sekaligus memastikan manfaatnya menjangkau masyarakat luas.
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah melihat capaian ini sebagai refleksi dari kepercayaan publik yang dibangun melalui konsistensi menjalankan mandat negara. Reynaldi menegaskan bahwa reputasi hanya akan memiliki arti ketika didukung oleh kinerja yang nyata dan berkelanjutan dalam mendorong pembangunan infrastruktur.
“Penghargaan ini mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap peran perseroan. Bagi kami, reputasi bukan hanya dibangun melalui komunikasi, tetapi melalui konsistensi dalam menjalankan mandat negara untuk mendorong percepatan pembangunan infra struktur yang berdampak bagi masyarakat dan perekonomian,” ungkapnya pada April 2026.
Konsistensi tersebut tercermin pada kinerja keuangan yang terjaga. Sepanjang 2025, PT SMI membukukan laba bersih Rp2,8 triliun, dengan pendapatan bunga bersih mencapai Rp4,03 triliun. Kinerja ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas sekali gus mendukung ekspansi pembiayaan.
Di saat yang sama, kualitas aset tetap terkendali, yang men cerminkan disiplin dalam manajemen risiko serta selektivitas dalam menyalurkan pembiayaan.
Di sisi portofolio, pertumbuhan pembiayaan terus berlanjut. Dalam periode 2020 hingga 2025, komitmen pembiayaan PT SMI mencapai Rp168,7 triliun dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 9,7%. Sementara itu, outstanding pembiayaan telah menyentuh Rp94,4 triliun.
Struktur portofolio masih didominasi pembiayaan korporasi sebesar 84%, sedangkan pembiayaan publik menyumbang 16%.
Komposisi ini menunjukkan kekuatan PT SMI di proyek-proyek besar, sekaligus membuka ruang ekspansi lebih luas ke sektor pemerintah daerah. Menurut Reynaldi, capaian tersebut menjadi landasan penting untuk memperluas kapasitas pembiayaan tanpa mengorbankan kualitas portofolio.
“Kinerja keuangan PT SMI pada 2025, dengan laba bersih sebesar Rp2,8 triliun dan pendapatan bunga bersih Rp4,03 triliun, menjadi fondasi yang sangat penting bagi perseroan dalam memper kuat kapasitas pembiayaan dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis,” tegasnya.
Dengan fondasi tersebut, arah bisnis PT SMI sema kin terarah. Sektor transportasi, ketenagalistrikan, serta jalan dan jalan tol tetap menjadi tulang punggung pembiayaan.
Ketiga sektor ini selama ini menjadi kontributor utama dalam portofolio, seiring kebutuhan infrastruktur dasar yang masih besar di Indonesia.
Namun, perusahaan mulai memperluas fokus ke sektor-sektor yang mendukung pembangunan berke lanjutan. Pembiayaan diarahkan ke energi baru dan terbarukan, pengelolaan air dan sanitasi, telekomu nikasi, hingga infrastruktur sosial seperti kesehatan dan pendidikan.
Ekspansi ini tidak hanya memperluas portofolio, tetapi juga memperkuat peran PT SMI dalam mendorong kualitas pembangunan.
Di sisi instrumen, diversifikasi menjadi salah satu kunci. Kredit investasi mendominasi pembiayaan korporasi dengan porsi 66,7%, mencerminkan kebutuhan pendanaan jangka panjang untuk proyek infrastruktur.
Pembiayaan syariah berkontribusi 17,7%, sementara pembiayaan subordinasi sebesar 9,07% berperan dalam memperkuat struktur permodalan proyek, terutama pada tahap awal.
Kombinasi ini memberi fleksibilitas bagi PT SMI untuk menyesuaikan skema pembiayaan sesuai karakteristik proyek, sekaligus meningkatkan kelayakan finansial dan menarik minat investor.
“Dengan kombinasi berbagai instrumen tersebut, PT SMI dapat menyesuaikan skema pembiayaan sesuai dengan karakteristik proyek, meningkatkan kelayakan finansial, serta mendorong partisipasi lebih luas dari sektor swasta dan lembaga keuangan lainnya,” jelas Reynaldi.
Selain pembiayaan korporasi, PT SMI juga memperkuat pembiayaan publik.
Perusahaan mengembangkan berbagai pendekatan, mulai dari clustering fiskal daerah hingga pemanfaatan Regional Diagnostics Tools untuk membantu pemerintah daerah menentukan sektor prioritas.
Skema grant loan linkage juga diperkenalkan untuk mengintegrasi kan dana hibah dengan pinjaman, sehingga proyek dapat berjalan lebih optimal. Minat pemerintah daerah terhadap skema ini mulai meningkat.
Pada awal 2026, sekitar 26–27 pemerintah daerah telah mengajukan pembiayaan infrastruktur kepada PT SMI.
Nilai pengajuan pun menunjukkan tren kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, menandakan bahwa pembiayaan kreatif semakin diterima sebagai solusi percepatan pembangunan daerah.

Inovasi Dana, Dorong Transisi Energi
Untuk menjaga kesinambungan pembiayaan, PT SMI terus memperluas sumber pendanaan.
Skema blended finance dan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi pendekatan utama untuk menggabungkan dana dari berbagai sumber, baik pemerintah, sektor swasta, maupun mitra pembangunan internasional.
Di saat yang sama, perusahaan aktif mengembangkan instrumen pendanaan berkelanjutan.
Penerbitan green bond, global bond, hingga sustainability-linked loan menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendanaan.
Terbaru, PT SMI meluncurkan Obligasi Ritel Infrastruktur (ORIS) sebagai upaya membuka partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembiayaan infra struktur tidak lagi bergantung pada satu sumber, melainkan dibangun melalui kolaborasi yang lebih luas.
“PT SMI terus mendorong inovasi pembiayaan yang mampu menggabungkan berbagai sumber pendanaan, baik dari pemerintah, sektor swasta, maupun lembaga keuangan dan mitra pembangunan internasional,” ujar Reynaldi.
Pada 2026, PT SMI menargetkan penghimpunan dana sebesar Rp24 triliun.
Struktur pendanaan saat ini ditopang oleh penerbitan surat utang sekitar Rp20 triliun, pinjaman bank Rp29,6 triliun, serta pinjaman pemerintah Rp15,1 triliun.
Kombinasi ini memberikan fondasi yang kuat bagi perusahaan untuk terus memperluas pembiayaan infrastruktur nasional.
Seiring dengan itu, komitmen terhadap pembiayaan hijau semakin diperkuat.
Sejak menerapkan moratorium pembiayaan pembangkit listrik berbasis batu bara pada 2019, PT SMI mengalihkan fokus ke energi baru dan terba rukan, seperti mini hidro, tenaga surya, dan panas bumi.
Hingga 2025, komitmen pembiayaan sektor energi ter barukan telah mencapai Rp33,1 triliun.
Ke depan, porsinya ditargetkan terus meningkat seiring dengan agenda transisi energi nasional.
“Pembiayaan energi terbarukan memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi, sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” pungkas Reynaldi.
Perjalanan PT SMI menunjukkan bahwa reputasi yang kuat dapat menjadi penggerak utama pembiayaan.
Ketika kepercayaan terjaga dan strategi dijalankan secara konsis ten, pembiayaan tidak hanya mengalir, tetapi juga mampu mendorong pembangunan yang lebih luas dan berke lanjutan. (*) Ranu Arasyki Lubis

