hibank Perkuat Kualitas Aset dan Efisiensi Operasional untuk Dorong Perbaikan Kinerja

Highlight:

  • hibank mencatat pertumbuhan kredit 13,44% secara tahunan menjadi Rp13,52 triliun per September 2026.
  • Rasio LDR meningkat menjadi 90,68%, sementara perseroan memperkuat pengelolaan risiko kredit dan kualitas aset.
  • hibank mendorong efisiensi operasional melalui evaluasi biaya, penyempurnaan proses bisnis, dan optimalisasi teknologi digital.

AP HEADER

Jakarta— PT Bank Hibank Indonesia (hibank) terus memperkuat fundamental bisnis dengan memprioritaskan perbaikan kualitas aset, pengelolaan risiko kredit, dan efisiensi operasional di tengah dinamika kinerja keuangan per September 2026.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperbaiki kinerja keuangan serta menjaga keberlanjutan usaha Perseroan.

Di tengah tekanan profitabilitas dan kualitas kredit, hibank tetap menjalankan fungsi intermediasi dengan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,44% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp13,52 triliun per September 2026.

Pendapatan bunga juga tumbuh 4,66% YoY, sementara penghimpunan dana tabungan meningkat 6,22% YoY.

Baca juga...

Perkembangan ini menunjukkan aktivitas bisnis hibank tetap berjalan di tengah upaya perbaikan kinerja.

Direktur Keuangan PT Bank Hibank Indonesia, Ricky Budiono, mengatakan bahwa perseroan terus melakukan evaluasi terhadap kualitas portofolio kredit serta memperkuat mekanisme pengendalian risiko untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang lebih sehat.

“Pertumbuhan kredit harus diikuti pengelolaan risiko yang semakin disiplin. Karena itu, prioritas kami bukan semata-mata mengejar pertumbuhan penyaluran, tetapi memastikan kualitas portofolio tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan bisnis,” ujar Ricky.

Dalam pengelolaan kualitas aset, hibank menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) melalui penguatan proses seleksi, penyaluran, dan pemantauan kredit.

Penyesuaian Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan profil risiko aset keuangan, termasuk kualitas kredit, sebagai bagian dari pengelolaan potensi kerugian.

Dari sisi likuiditas, hibank terus mengoptimalkan struktur pendanaan dan pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) guna mendukung kebutuhan operasional serta menjaga keseimbangan pertumbuhan kredit dan pendanaan.

Per September 2026, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) hibank tercatat sebesar 90,68%, meningkat dibandingkan 65,97% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Rasio tersebut masih berada dalam kisaran ideal 78–92%, yang mencerminkan fungsi intermediasi bank tetap berjalan dalam koridor yang terjaga.

Perseroan akan terus memperkuat pengelolaan likuiditas, meningkatkan kualitas penghimpunan DPK, serta mendorong aktivitas transaksi dan memperkuat hubungan dengan nasabah.

Selain likuiditas, kondisi permodalan hibank juga tetap terjaga dengan baik dan berada di atas ketentuan minimum yang dipersyaratkan regulator.

Kecukupan modal tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi perseroan dalam menyerap potensi risiko, menjaga stabilitas usaha, serta mendukung keberlangsungan kegiatan operasional dan pengembangan bisnis secara prudent.

Sementara itu, perbaikan efisiensi operasional dilakukan melalui evaluasi struktur biaya, penyempurnaan proses bisnis, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital.

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas pengeluaran operasional guna mendukung perbaikan profitabilitas secara bertahap.

Ricky menambahkan bahwa penguatan fundamental bisnis akan terus menjadi prioritas dalam pengembangan usaha hibank, termasuk melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan pengelolaan risiko secara terukur.

“Ke depan, kami akan lebih selektif dalam mengembangkan bisnis dengan mempertimbangkan kualitas pertumbuhan dan kapasitas perusahaan. Fokus kami bukan hanya meningkatkan aktivitas usaha, tetapi juga memastikan setiap langkah pengembangan bisnis mampu mendukung perbaikan profitabilitas dalam jangka panjang,” jelas Ricky.

Memasuki 2027, hibank akan melanjutkan berbagai inisiatif transformasi bisnis dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, efisiensi, serta kepatuhan terhadap ketentuan regulator.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing dan mendukung pertumbuhan usaha yang sehat serta berkelanjutan. (*)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.