Danantara Siap Kawinkan Keuntungan Komersial dan Dampak Sosial, Wajah Baru Investasi RI
COO Indonesia Business Council (IBC) William Sabandar, Managing Director Danantara Development Management Fund (DDMF) Rachmat Kaimuddin, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid, Founder Saraswati Fellowship Rahayu Saraswati, Founder dan Director The Wahid Foundation Yenny Wahid dalam acara Launching Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (13/10). (Foto: Dok. AP/JOS)Highlights:
- Danantara diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya mencari cuan (profit), tetapi juga memiliki mandat wajib untuk memberikan dampak sosial bagi masyarakat luas.
- Pendekatan bisnis ke depan tidak boleh hanya melihat dari kacamata industri besar, melainkan harus melibatkan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
- Model pemberdayaan rantai pasok (supply chain) inilah yang sedang didorong oleh Danantara bersama komunitas bisnis.
Jakarta– Di tengah dorongan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pemerintah menghadirkan instrumen baru melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Kehadiran sovereign wealth fund bergaya baru ini turut diperkenalkan dalam acara Peluncuran Indonesia Economic Summit (IES) 2027 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Danantara diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya mencari cuan (profit), tetapi juga memiliki mandat wajib untuk memberikan dampak sosial bagi masyarakat luas.
Managing Director Danantara Development Management Fund (DDMF), Rahmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa lembaga ini dirancang sebagai dana pembangunan (development fund) yang memiliki dua sayap utama dalam pengelolaannya.
“Danantara memiliki dua sisi, satu sisi adalah imbal hasil finansial (financial return) atau komersial, dan di sisi lain adalah keuangan yang membawa imbal hasil dampak sosial (social impact returns). Inilah harapannya, sektor swasta dapat bekerja lebih erat bersama Danantara dan juga masyarakat sipil,” jelas Rahmat saat acara Peluncuran Indonesia Economic Summit (IES) 2027 di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Rahmat juga membedah bagaimana pendekatan bisnis ke depan tidak boleh hanya melihat dari kacamata industri besar, melainkan harus melibatkan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia mengambil contoh dari industri kendaraan listrik (EV) yang sedang digenjot pemerintah.
“Kendaraan listrik itu membutuhkan komponen yang sangat banyak untuk dibangun. Memang yang besar-besar ada, seperti baterainya mungkin tidak bisa dibangun oleh UMKM, tapi tempat duduknya, joknya, dan komponen kecil lainnya di dalam kendaraan listrik itu bisa dilakukan oleh home industries,” papar Rahmat.
Menurutnya, model pemberdayaan rantai pasok (supply chain) inilah yang sedang didorong oleh Danantara bersama komunitas bisnis.
“Inilah yang ingin kita dorong, membangun ekosistem dan membawa teman-teman UMKM. Kita harus sadar, peran kelas menengah, kecil, dan mikro itu berbeda-beda, dan kita harus membangun rantai pasok yang inklusif,” pungkas Rahmat. JOS
Editor: SW

